Kembalikan marwah ARSITEKTUR ke dalam TEKNIK

254

Ayo dapatkan 500 tanda tangan!
Petisi dengan lebih dari 1.000 pendukung 5 kali lebih mungkin untuk menang!

Masalahnya

MOSI MAHASISWA TEKNIK ARSITEKTUR

Mengapa Program Studi Teknik Arsitektur Sudah Selayaknya Berada di Fakultas Teknik

Pembentukan Fakultas Teknik di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan langkah
positif dalam mengembangkan pendidikan keteknikan di kampus. Namun, di tengah lahirnya
fakultas baru tersebut, terdapat satu pertanyaan yang masih menjadi keresahan banyak
mahasiswa Teknik Arsitektur: mengapa Program Studi Teknik Arsitektur masih berada di
Fakultas Sains dan Teknologi, padahal secara keilmuan maupun profesi merupakan bagian
dari rumpun ilmu teknik?

Usulan pemindahan ini bukan muncul karena keinginan untuk berpindah fakultas semata.
Aspirasi ini lahir dari pengalaman mahasiswa selama menjalani proses pendidikan, serta dari
kebutuhan nyata agar pembelajaran Teknik Arsitektur dapat berkembang dalam ekosistem
yang lebih sesuai dengan karakter keilmuannya.

1. Menempatkan Arsitektur di Fakultas Teknik merupakan pilihan paling realistis dan
strategis bagi UIN Malang.

Kami memahami bahwa berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan
Teknologi mengenai klasifikasi bidang ilmu, Arsitektur telah ditempatkan sebagai rumpun
ilmu tersendiri, terpisah dari rumpun Teknik maupun Seni. Secara ideal, rumpun ilmu ini
dapat berkembang dalam sebuah Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perencanaan (FADP) yang
menaungi berbagai disiplin keilmuan yang saling berkaitan.

Namun, kami juga memahami kondisi kelembagaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Pembentukan Fakultas
Arsitektur, Desain, dan Perencanaan bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan
ekosistem program studi yang memadai, seperti Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK),
Desain Interior, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, serta bidang-bidang lain yang
hingga saat ini belum tersedia di UIN Malang. Di sisi lain, pengembangan PTKIN juga tetap
memperhatikan keseimbangan proporsi antara program studi keagamaan dan program studi
umum, sehingga pembukaan fakultas baru di luar rumpun keagamaan memerlukan
pertimbangan yang lebih kompleks.

Oleh karena itu, menempatkan Program Studi Teknik Arsitektur di Fakultas Teknik
merupakan pilihan yang paling realistis dan strategis pada kondisi saat ini. Langkah ini tidak
menghilangkan identitas Arsitektur sebagai rumpun ilmu yang berdiri sendiri, tetapi justru
memberikan ruang yang lebih tepat untuk berkembang bersama disiplin ilmu teknik lainnya.
Ketika di masa depan UIN Malang telah memiliki ekosistem rumpun Arsitektur, Desain, dan
Perencanaan yang lebih lengkap, maka peluang untuk membentuk Fakultas Arsitektur,
Desain, dan Perencanaan dapat dipertimbangkan secara lebih matang.

2. Masa depan Arsitektur adalah kolaborasi. Dunia sudah bergerak menuju AEC
(Architecture, Engineering, and Construction).

Perkembangan pendidikan arsitektur di dunia tidak lagi berdiri sendiri. Saat ini berkembang
konsep AEC (Architecture, Engineering, and Construction), yaitu pendekatan yang
mengintegrasikan arsitek, insinyur, dan tenaga konstruksi sejak tahap perencanaan hingga
pembangunan.

Transformasi ini semakin diperkuat dengan penerapan Building Information Modeling (BIM)
yang kini menjadi standar baru industri konstruksi. BIM bukan hanya perangkat lunak, tetapi
sebuah metode kerja kolaboratif yang mengharuskan arsitek, insinyur sipil, insinyur elektro,
insinyur mesin, hingga quantity surveyor bekerja dalam satu sistem yang sama.

Artinya, tantangan dunia kerja saat ini bukan lagi siapa yang paling hebat dalam bidangnya
masing-masing, tetapi siapa yang mampu bekerja dalam tim multidisiplin.

Sebagai institusi pendidikan, UIN Malang perlu adaptif terhadap perubahan tersebut.
Mahasiswa perlu dibiasakan bekerja bersama lintas disiplin sejak masa kuliah, baik melalui
studio kolaboratif, penelitian bersama, proyek bersama, maupun kegiatan kemahasiswaan.
Hal ini akan jauh lebih mudah diwujudkan apabila seluruh program studi keteknikan berada
dalam satu ekosistem akademik yang sama.

Praktik ini telah diterapkan di banyak perguruan tinggi besar di Indonesia, di mana
keberadaan Arsitektur dalam Fakultas Teknik justru memperkuat budaya kolaborasi yang
nantinya sangat dibutuhkan di dunia profesional.

3. Pendidikan Arsitektur memiliki karakter pembelajaran berbasis studio yang
membutuhkan ekosistem dan fasilitas yang berbeda.

Perkuliahan Arsitektur tidak dapat disamakan dengan mata kuliah teori pada umumnya. Inti
pendidikan arsitektur berada pada studio perancangan, tempat mahasiswa belajar melalui
proses eksplorasi desain, diskusi, asistensi, presentasi, kritik desain, hingga penyempurnaan
karya secara berulang.

Dalam standar pendidikan arsitektur yang diterapkan oleh banyak perguruan tinggi anggota
APTARI, 1 SKS mata kuliah studio memiliki beban aktivitas sekitar 170 menit, jauh berbeda
dengan mata kuliah teori yang umumnya berdurasi 50 menit per SKS. Hal ini karena studio
bukan sekadar penyampaian materi, melainkan ruang belajar aktif yang membutuhkan waktu
panjang untuk proses berpikir, berdiskusi, dan berkarya.

Selama ini, pelaksanaan studio di Teknik Arsitektur UIN Malang masih mengikuti pola
perkuliahan reguler, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak digunakan untuk
penyampaian materi dan asistensi singkat. Keterbatasan ruang juga membuat sistem studio
penuh (full-day studio) belum dapat diterapkan secara optimal.

Padahal, di banyak sekolah arsitektur, studio merupakan jantung pendidikan. Fasilitas studio
menjadi prioritas utama karena di sanalah sebagian besar proses pembelajaran berlangsung.

Ke depan, pengembangan Kampus 3 melalui kerja sama dengan Saudi Fund Development
(SFD) memberikan peluang besar untuk menghadirkan fasilitas studio yang lebih memadai.
Berdasarkan masterplan yang telah disusun, Teknik Arsitektur direncanakan menempati area
yang memiliki kapasitas ruang jauh lebih baik untuk mengembangkan sistem studio,
laboratorium, hingga pendidikan profesi.

Hal ini juga membuka peluang pengembangan pendidikan berkelanjutan 4+1 menuju
Program Profesi Arsitek (PPAr) sehingga lulusan UIN Malang nantinya dapat melanjutkan
proses sertifikasi profesi secara lebih terintegrasi.

4. Bergabung dengan Fakultas Teknik akan memperkuat budaya kolaborasi dan
pembinaan mahasiswa.

Pendidikan teknik tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi juga melalui budaya akademik
dan kemahasiswaan yang mendorong kerja sama lintas disiplin.

Banyak contoh baik yang telah diterapkan di perguruan tinggi lain. Di Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya, misalnya, mahasiswa baru mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat
bersama dalam satu fakultas dengan mengerjakan proyek-proyek nyata seperti pembangunan
jalan lingkungan, sistem irigasi, pengelolaan sampah, desain kawasan desa, hingga
penerangan jalan umum. Dalam kegiatan tersebut, setiap program studi berkontribusi sesuai
kompetensinya sehingga mahasiswa terbiasa bekerja sebagai satu tim engineering.

Budaya seperti ini membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kolaborasi yang
sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Apabila Teknik Arsitektur berada dalam Fakultas Teknik, peluang untuk menyelenggarakan
kegiatan serupa akan semakin terbuka dan memberi pengalaman belajar yang jauh lebih
bermakna bagi seluruh mahasiswa.

5. Arsitektur membutuhkan ekosistem teknik, dan teknik juga membutuhkan
Arsitektur.

Hubungan antara Arsitektur dan disiplin teknik lainnya bersifat saling melengkapi. Tidak ada
bangunan yang dapat diwujudkan tanpa kolaborasi antara arsitek dan insinyur. Sebaliknya,
inovasi teknik juga membutuhkan pendekatan desain agar dapat diterapkan secara fungsional,
aman, dan berorientasi pada kebutuhan manusia.

Karena itu, keberadaan Teknik Arsitektur di Fakultas Teknik bukan hanya memberikan
manfaat bagi mahasiswa Arsitektur, tetapi juga memperkaya proses belajar mahasiswa teknik
lainnya.

Dengan hadirnya Kampus 3, peluang membangun laboratorium terpadu, studio kolaboratif,
ruang workshop, hingga pusat inovasi AEC menjadi semakin nyata. Arsitektur yang telah
lebih dahulu berkembang di UIN Malang juga dapat menjadi mitra sekaligus “kakak” dalam
membangun budaya akademik dan kemahasiswaan bagi program-program studi teknik yang
baru tumbuh.

6. Fakultas Teknik membuka peluang riset, laboratorium terpadu, dan inovasi yang
lebih besar.

Kemajuan pendidikan arsitektur tidak dapat dilepaskan dari keberadaan laboratorium dan
workshop yang memadai. Banyak perguruan tinggi telah memiliki workshop basah,
laboratorium material, laboratorium konstruksi, laboratorium digital fabrication, hingga
laboratorium Building Information Modeling (BIM).

Sebagai contoh, di Universitas Negeri Yogyakarta mahasiswa memiliki ruang eksplorasi
untuk mengembangkan prototipe, menguji material, melakukan eksperimen teknologi
bangunan, hingga menghasilkan inovasi yang dapat diikutsertakan dalam penelitian maupun
kompetisi.

Keberadaan laboratorium teknik terpadu akan membuka peluang kolaborasi riset
antarprogram studi, memperluas kesempatan mahasiswa mengikuti sayembara nasional
maupun internasional di bidang AEC, serta meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi
dosen maupun mahasiswa.

7. Pemindahan ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas lulusan dan
pengembangan Fakultas Teknik.

Keberadaan Teknik Arsitektur di Fakultas Teknik bukan hanya menjawab kebutuhan saat ini,
tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan UIN Malang.

Sinergi antarprogram studi akan memperkuat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada
masyarakat, serta hubungan dengan dunia industri. Fakultas Teknik akan memiliki ekosistem
yang lebih lengkap untuk menjawab tantangan pembangunan masa depan, sementara
mahasiswa memperoleh lebih banyak kesempatan membangun jejaring profesional sejak
masih berada di bangku kuliah.

Selain itu, hubungan dengan konsultan, kontraktor, pengembang, dan instansi pemerintah
akan lebih mudah dibangun melalui pendekatan fakultas yang menaungi seluruh disiplin
engineering. Hal ini akan membuka lebih banyak peluang magang, penelitian terapan, proyek
kolaboratif, hingga rekrutmen lulusan.

Pada akhirnya, Arsitektur membutuhkan Teknik, dan Teknik juga membutuhkan Arsitektur.
Menyatukan keduanya dalam satu fakultas bukan sekadar perpindahan administratif,
melainkan langkah strategis untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih relevan
dengan kebutuhan profesi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan industri
konstruksi di masa depan.

#TEKNIKARSITEKTURSAMPAITEKNIK
#TEKNIKSERAHUSNYATEKNIK
#SATUJIWAARSITEKTUR

avatar of the starter
Arsitektur BeraksiPembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi