

Teman-teman yang baik,
Terima kasih banyak saya ucapkan atas dukungan teman-teman yang begitu masif untuk teman saya, Ananda Badudu.
Dalam waktu kurang dari 10 jam, kita berhasil mengumpulkan dukungan dari hampir 100 ribu orang. Berkat dukungan teman-teman, pada Jumat 27 September 2019 sekitar jam 10.00 pagi, Ananda dibebaskan dengan status saksi. Bukan tersangka.
Penangkapan Ananda Badudu itu sewenang-wenang, di mana aparat kepolisian yang tidak berseragam dan tidak menyerahkan surat perintah penangkapan pada Ananda. Begitu pula penangkapan Dandhy Laksono yang dituduh melakukan penyebaran hasutan dan kebencian berbasis SARA untuk situasi Papua.
Penangkapan keduanya adalah PERINGATAN. Bahwa ada upaya untuk membatasi hak politik warga negara dalam mengekspresikan aspirasinya dan melanggengkan praktik-praktik kekerasan yang abai terhadap azas-azas kemanusiaan dan keadilan melalui instrumen-instrumen negara.
Banyaknya dukungan publik untuk keduanya adalah bukti bahwa semangat kolektif untuk demokrasi masih menyala. Maka perlu kita rawat harapan yang masih ada di antara kita.
Perlu diperhatikan bahwa masih ada puluhan mahasiswa dan siswa yang ditahan di kepolisian (https://tirto.id/polisi-klaim-lepaskan-seluruh-mahasiswa-tapi-dibantah-orangtua-eiRE
Juga Dandhy Laksono, yang dibebaskan, namun dengan status tersangka (https://tirto.id/dandhy-laksono-ditetapkan-sebagai-tersangka-ujaran-kebencian-eiPg
Kejadian beberapa hari ini membuktikan bahwa ancaman terhadap demokrasi ini nyata, dan apabila kita biarkan saja, kita bisa jadi korban berikutnya.
Oleh karena itu, teman baik saya, Baskara Putra, akan melanjutkan suara saya dengan memulai petisi www.change.org/BebaskanMahasiswa yang mendesak polisi membebaskan puluhan mahasiswa dan siswa yang masih ditahan.
Mari dukung, tandatangani, dan sebarkan.
Sekarang bola ada di tangan kita sebagai warga negara yang peduli dengan masa depan demokrasi Indonesia. Kepedulian kita terhadap rancangan-rancangan UU problematis dan pembungkaman dan kekerasan yang dilakukan pada mahasiswa dan aktivis mungkin adalah penanda bahwa kesadaran kolektif politik baru sudah terbit.
Mulai sekarang, tidak hanya aktivis atau mereka yang berjuang di garis depan yang berani, tapi seluruh lapisan masyarakat tidak akan lagi abai dan diam melihat demokrasi kita dipertaruhkan.
Sudah saatnya bersama-sama kita merebut kembali politik dari elit, mengembalikannya pada publik. Ingat, masih ada mereka yang ditahan, menjadi korban hingga nyawa melayang dan mungkin ke depannya kriminalisasi bisa menimpa siapapun di antara kita.
Apakah kita hanya akan diam saja dan membiarkan kita menjadi saksi atas ketidakadilan hari ini? Piilih perjuanganmu: RUU-RUU ngawur, keadilan dan kemanusiaan untuk Papua, kebebasan berekspresi dan demokrasi hari ini, melawan kekerasan aparat pada aktivis dan mahasiswa, mempertanyakan kekerasan seksual yang dilindungi negara, kerusakan lingkungan atas nama pembangunan.
Tunjukkan dukunganmu, bikin petisi, berdiskusi, turun aksi, bikin karya seni – pilih caramu sendiri. Kamu tidak sendiri.
Terima kasih sekali lagi untuk Ananda Badudu, teman-teman dekat dan organisasi yang telah mendampingi Ananda, dan semua teman-teman yang telah berjuang untuk menyampaikan aspirasi kita. Tetap berani. Jangan lupa istirahat, dan tetap saling jaga. Panjang umur perjuangan. A luta continua.
Salam,
Rara Sekar
Kredit foto: @LBHMasyarakat