Hentikan Pembongkaran Jembatan Lama Kertosono


Hentikan Pembongkaran Jembatan Lama Kertosono
Masalahnya
Kami mendukung pembangunan jembatan baru atau restorasi sesuai bentuk aslinya tanpa meninggalkan konteks sejarah yang terkandung didalamnya. Jika memang tidak mampu merestorasi, pembangunan tetap bisa dilakukan di sisi Selatan atau Utara tanpa merusak Jembatan Lama Kertosono yang selanjutnya akan kami sebut JLK.
JLK dibangun pada tahun 1920, bukan sekadar sarana penghubung, melainkan saksi bisu perjuangan bangsa kita. Selama masa perang kemerdekaan terutama saat agresi militer Belanda 1949 , jembatan ini menjadi konsentrasi perang karena menjadi akses satu-satunya masuk ke wilayah Nganjuk (yang notabene adalah Kabupaten penghubung strategis menuju ke Ibu Kota RI saat itu Jogjakarta).
Sebelum meletusnya serangan umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta, di bulan Januari 1949 pejuang Nganjuk sudah berupaya melakukan perlawanan menghalau operasi militer Belanda dari Timur (Surabaya) dengan meledakkan JLK, Kami sempat mewancarai seorang veteran yang memimpin peledakan itu , Siswoyo (alm) pada 2019, kuatnya JLK tidak roboh oleh 3,5 kwintal bahan peledak yang dipasang pasukan Beliau, yang akhirnya Belanda membabi buta membantai warga sipil karena gerilyawan Nganjuk menyusahkan operasi Belanda, Beliau juga bercerita Bom Tawon (Sarang Tawon Ndas) yang dipasang para pejuang berhasil memecah konsentrasi Belanda meskipun akhirnya Belanda membabi buta mengeksekusi warga sipil karena dianggap menyembunyikan para pejuang (tercatat resmi dalam laporan intelijen Belanda 1949)
Catatan tersebut mencatat pergerakan gerilyawan (pejuang Nganjuk) dari Januari - Juni 1949) yang mencatat 26 Mei 1949 Belanda menyerang desa Kedung Ombo dari arah Warujayeng , Nganjuk dan arah Selatan. Berdasar catatan ini kami meyakini Pahlawan lokal kami, Kapten Kasihin , yang ada di air mancur alun-alun Nganjuk adalah salah satu korbannya (tercatat disitu gugur April di Kedung Ombo).
Bisa dibayangkan upaya pejuang memutus JLK dari Januari - Juni 1949, Sayangnya, kini nasibnya terancam dengan rencana pembongkaran.
Kondisi jembatan yang memang rapuh dan patah bukanlah alasan untuk menghapus jejak sejarah ini. Justru, seharusnya kita mendorong pemerintah untuk melakukan konservasi dan restorasi. Jembatan Lama Kertosono merupakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) , warisan ini harusnya tetap lestari untuk generasi mendatang.
Kami menuntut penghentian rencana pembongkaran ini dan meminta agar jembatan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Revitalisasi jembatan bukan hanya menyelamatkan struktur fisik, tetapi juga menanamkan kebanggaan sejarah kepada masyarakat. Pelibatan masyarakat, komunitas sejarah, dan akademisi sangat penting dalam menjaga dan merawat JLK agar tetap mendukung kebudayaan dan sejarah lokal.
Dengan tekad bersama, kita dapat memastikan bahwa Jembatan Lama Kertosono bukan hanya menjadi warisan, tetapi juga simbol perjuangan yang terus hidup. Mohon dukungan Anda untuk menandatangani petisi ini dan menyelamatkan jembatan bersejarah ini dari pembongkaran. Mari kita bersatu untuk menjaga sejarah kita agar tetap hidup dan memberikan inspirasi kepada generasi mendatang.

29
Masalahnya
Kami mendukung pembangunan jembatan baru atau restorasi sesuai bentuk aslinya tanpa meninggalkan konteks sejarah yang terkandung didalamnya. Jika memang tidak mampu merestorasi, pembangunan tetap bisa dilakukan di sisi Selatan atau Utara tanpa merusak Jembatan Lama Kertosono yang selanjutnya akan kami sebut JLK.
JLK dibangun pada tahun 1920, bukan sekadar sarana penghubung, melainkan saksi bisu perjuangan bangsa kita. Selama masa perang kemerdekaan terutama saat agresi militer Belanda 1949 , jembatan ini menjadi konsentrasi perang karena menjadi akses satu-satunya masuk ke wilayah Nganjuk (yang notabene adalah Kabupaten penghubung strategis menuju ke Ibu Kota RI saat itu Jogjakarta).
Sebelum meletusnya serangan umum 1 Maret 1949 di Jogjakarta, di bulan Januari 1949 pejuang Nganjuk sudah berupaya melakukan perlawanan menghalau operasi militer Belanda dari Timur (Surabaya) dengan meledakkan JLK, Kami sempat mewancarai seorang veteran yang memimpin peledakan itu , Siswoyo (alm) pada 2019, kuatnya JLK tidak roboh oleh 3,5 kwintal bahan peledak yang dipasang pasukan Beliau, yang akhirnya Belanda membabi buta membantai warga sipil karena gerilyawan Nganjuk menyusahkan operasi Belanda, Beliau juga bercerita Bom Tawon (Sarang Tawon Ndas) yang dipasang para pejuang berhasil memecah konsentrasi Belanda meskipun akhirnya Belanda membabi buta mengeksekusi warga sipil karena dianggap menyembunyikan para pejuang (tercatat resmi dalam laporan intelijen Belanda 1949)
Catatan tersebut mencatat pergerakan gerilyawan (pejuang Nganjuk) dari Januari - Juni 1949) yang mencatat 26 Mei 1949 Belanda menyerang desa Kedung Ombo dari arah Warujayeng , Nganjuk dan arah Selatan. Berdasar catatan ini kami meyakini Pahlawan lokal kami, Kapten Kasihin , yang ada di air mancur alun-alun Nganjuk adalah salah satu korbannya (tercatat disitu gugur April di Kedung Ombo).
Bisa dibayangkan upaya pejuang memutus JLK dari Januari - Juni 1949, Sayangnya, kini nasibnya terancam dengan rencana pembongkaran.
Kondisi jembatan yang memang rapuh dan patah bukanlah alasan untuk menghapus jejak sejarah ini. Justru, seharusnya kita mendorong pemerintah untuk melakukan konservasi dan restorasi. Jembatan Lama Kertosono merupakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) , warisan ini harusnya tetap lestari untuk generasi mendatang.
Kami menuntut penghentian rencana pembongkaran ini dan meminta agar jembatan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Revitalisasi jembatan bukan hanya menyelamatkan struktur fisik, tetapi juga menanamkan kebanggaan sejarah kepada masyarakat. Pelibatan masyarakat, komunitas sejarah, dan akademisi sangat penting dalam menjaga dan merawat JLK agar tetap mendukung kebudayaan dan sejarah lokal.
Dengan tekad bersama, kita dapat memastikan bahwa Jembatan Lama Kertosono bukan hanya menjadi warisan, tetapi juga simbol perjuangan yang terus hidup. Mohon dukungan Anda untuk menandatangani petisi ini dan menyelamatkan jembatan bersejarah ini dari pembongkaran. Mari kita bersatu untuk menjaga sejarah kita agar tetap hidup dan memberikan inspirasi kepada generasi mendatang.

29
Petisi dibuat pada 18 Agustus 2025