Bupati Bulukumba, Berikan Insentif untuk Dorong Usaha Ekonomi Hijau di Bulukumba

Masalahnya

Kata orang tua saya, bagi kami orang Suku Adat Kajang di Bulukumba, alam adalah ibu. Orang-orang adat menjaga hutan "Borong Karama" atau Hutan Keramat. Orang adat juga tidak pakai sandal, untuk tak berjarak dengan ibu bumi. Sepenting itulah alam buat kami.


Dari kecil, bapak juga sering mengajari memilah sampah. Sampah organik selalu diolahnya jadi kompos, dan dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Jadi, saya tidak pernah merasa asing dengan isu lingkungan. 


Saat ini, saya dan teman-teman membuat komunitas, namanya Kolaborasi Biru. Awalnya kami buat untuk bersenang-senang, menikmati wisata bahari Bulukumba. Snorkeling di Dego-dego, melakukan transplantasi karang, menembak ikan, dan menghabiskan waktu berjam-jam menikmati Pantai Tanjung Bira.

Tapi saat ini, pantai dan laut yang indah di Bulukumba sudah dipenuhi sampah plastik. Saya dan teman-teman sering mengambil sampah plastik sambil snorkeling. Juga membersihkan sampah di pantai. 


Tapi sebanyak apapun kami berusaha, sampah plastik itu akan terus menumpuk di pantai. Masalah ini bukan hanya terjadi di Bulukumba saja. Juga ada di kawasan wisata bahari lainnya, seperti Bali, Kupang, Labuan Bajo. Terus, gimana solusinya?

Secara individu, kita bisa kurangi sampah dengan menerapkan perilaku ramah lingkungan. Misalnya bawa tumbler, dan tas belanja, dan  mengurangi kemasan plastik. Tapi gerakan individu saja tak cukup. Perlu ada dorongan kebijakan dari Pemkab Bulukumba untuk mengatasi masalah sampah plastik. 

Salah satu ide, yaitu mendorong ekonomi hijau (sirkular). Tahun 2022, Provinsi Sulawesi Selatan mendapat Penghargaan Khusus di Bidang Ekonomi Hijau dan Rendah Karbon. Artinya, sebenarnya kita sudah memulai inisiatif ini di level provinsi. 

Saya berharap Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf juga mendorong pengembangan ekonomi hijau di Bulukumba dengan memberi insentif. Apalagi latar belakang beliau adalah pengusaha. Saya yakin, Bupati Andi Muchtar bisa mengajak pengusaha untuk mengembangkan ekonomi hijau di Bulukumba.

Beberapa ide soal ekonomi hijau yang bisa dikembangkan di Bulukumba misalnya:

  1. Perusahaan pengelola sampah untuk sektor pariwisata
  2. Usaha ritel berkelanjutan dengan refill produk untuk kurangi kemasan
  3. Penyediaan Water Station di Instansi Pemerintah, Sekolah, atau ruang publik
  4. Perusahaan waste management yang bisa diakses melalui online

Kalau Bupati Andi Muchtar mendukung ide ini, saya punya harapan besar melihat pantai dan laut Bulukumba bebas sampah dan menjadi indah seperti dulu. 

Melalui kampanye ini, bersama Kolaborasi Biru dan teman-teman pegiat lingkungan lainnya di Kabupaten Bulukumba, kami mendukung pemerintah kabupaten untuk  mengurangi volume sampah. Serta mendukung upaya pemerintah secara nasional dalam pengurangan emisi karbon.

Dukung petisi ini ya teman-teman. Biar nanti waktu kalian mampir di Bulukumba, pantainya sudah bersih.

Salam,
Anjar

avatar of the starter
Anjar S MasigaPembuka PetisiSedang menjalani pertobatan ekologi dan kehidupan yang sederhana.

608

Masalahnya

Kata orang tua saya, bagi kami orang Suku Adat Kajang di Bulukumba, alam adalah ibu. Orang-orang adat menjaga hutan "Borong Karama" atau Hutan Keramat. Orang adat juga tidak pakai sandal, untuk tak berjarak dengan ibu bumi. Sepenting itulah alam buat kami.


Dari kecil, bapak juga sering mengajari memilah sampah. Sampah organik selalu diolahnya jadi kompos, dan dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Jadi, saya tidak pernah merasa asing dengan isu lingkungan. 


Saat ini, saya dan teman-teman membuat komunitas, namanya Kolaborasi Biru. Awalnya kami buat untuk bersenang-senang, menikmati wisata bahari Bulukumba. Snorkeling di Dego-dego, melakukan transplantasi karang, menembak ikan, dan menghabiskan waktu berjam-jam menikmati Pantai Tanjung Bira.

Tapi saat ini, pantai dan laut yang indah di Bulukumba sudah dipenuhi sampah plastik. Saya dan teman-teman sering mengambil sampah plastik sambil snorkeling. Juga membersihkan sampah di pantai. 


Tapi sebanyak apapun kami berusaha, sampah plastik itu akan terus menumpuk di pantai. Masalah ini bukan hanya terjadi di Bulukumba saja. Juga ada di kawasan wisata bahari lainnya, seperti Bali, Kupang, Labuan Bajo. Terus, gimana solusinya?

Secara individu, kita bisa kurangi sampah dengan menerapkan perilaku ramah lingkungan. Misalnya bawa tumbler, dan tas belanja, dan  mengurangi kemasan plastik. Tapi gerakan individu saja tak cukup. Perlu ada dorongan kebijakan dari Pemkab Bulukumba untuk mengatasi masalah sampah plastik. 

Salah satu ide, yaitu mendorong ekonomi hijau (sirkular). Tahun 2022, Provinsi Sulawesi Selatan mendapat Penghargaan Khusus di Bidang Ekonomi Hijau dan Rendah Karbon. Artinya, sebenarnya kita sudah memulai inisiatif ini di level provinsi. 

Saya berharap Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf juga mendorong pengembangan ekonomi hijau di Bulukumba dengan memberi insentif. Apalagi latar belakang beliau adalah pengusaha. Saya yakin, Bupati Andi Muchtar bisa mengajak pengusaha untuk mengembangkan ekonomi hijau di Bulukumba.

Beberapa ide soal ekonomi hijau yang bisa dikembangkan di Bulukumba misalnya:

  1. Perusahaan pengelola sampah untuk sektor pariwisata
  2. Usaha ritel berkelanjutan dengan refill produk untuk kurangi kemasan
  3. Penyediaan Water Station di Instansi Pemerintah, Sekolah, atau ruang publik
  4. Perusahaan waste management yang bisa diakses melalui online

Kalau Bupati Andi Muchtar mendukung ide ini, saya punya harapan besar melihat pantai dan laut Bulukumba bebas sampah dan menjadi indah seperti dulu. 

Melalui kampanye ini, bersama Kolaborasi Biru dan teman-teman pegiat lingkungan lainnya di Kabupaten Bulukumba, kami mendukung pemerintah kabupaten untuk  mengurangi volume sampah. Serta mendukung upaya pemerintah secara nasional dalam pengurangan emisi karbon.

Dukung petisi ini ya teman-teman. Biar nanti waktu kalian mampir di Bulukumba, pantainya sudah bersih.

Salam,
Anjar

avatar of the starter
Anjar S MasigaPembuka PetisiSedang menjalani pertobatan ekologi dan kehidupan yang sederhana.

Perkembangan terakhir petisi