Anak Gajah Butuh Vaksin EEHV - Segera Bentuk SATGAS EEHV untuk Selamatkan Mereka!

Masalahnya

Tari seharusnya masih hidup hari ini.

Kalistha Lestari adalah anak gajah dari Taman Nasional Tesso Nilo. Ia akrab kita sapa dengan nama kecilnya, Tari. Pada 31 Agustus 2025 lalu, Tari baru saja berulang tahun yang ke-dua. Usia di mana ia, seperti anak-anak kita pada umumnya, mulai belajar mengenal dunia.

 

Mengenang Gajah Tari. Sumber foto BTN Tesso Nilo

 

Foto gajah Tari di Taman Nasional Tesso Nilo. Dok: BTN Tesso Nilo

Wajah Tari yang ceria dan tingkahnya yang menggemaskan membuat banyak orang langsung jatuh cinta. Setiap hari, ribuan netizen selalu setia menunggu video tingkah lucunya di akun medsos @btn_tessonilo, untuk menjadi pelipur penat bagi kita semua.

Tidak perlu dipungkiri, Tari dan anak-anak gajah lainnya, adalah simbol harapan bagi pelestarian gajah Sumatera.

Namun, 10 hari setelah ia berulang tahun, Tari ditemukan sudah terbaring tidak bergerak. Ia sudah tidak bernyawa. Kepergiannya yang begitu mendadak, membuat simbol harapan itu seolah-olah runtuh seketika.

Hasil laboratorium memastikan bahwa Tari meninggal karena infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV) yang menyerang organ hatinya.  

EEHV adalah virus mematikan yang bisa membunuh anak gajah dibawah usia 10 tahun hanya dalam hitungan jam saja.

Tari bukan satu-satunya.

Di tahun 2009, satu kasus kematian anak gajah yang terjadi di Aras Napal, Sumatera Utara, terdeteksi sebagai kasus EEHV pertama di Indonesia. Lalu, satu tahun sebelum kematian Tari, ada kematian dua anak gajah bernama Damar (TWA Buluh Cina, Riau) dan Eropa (Tangkahan, Sumatera Utara), yang juga tewas karena virus yang sama. 

 

gajah Damar yang mati di TWA Buluh Cina pada 11 Januari 2023. Dok: BBKSDA Riau

 

Damar, anak gajah yang mati di TWA Buluh Cina, Riau pada 11 Januari 2023. Dok: BBKSDA Riau

Sedikitnya, sejak 2009 – 2025, sudah ada 10 kematian anak gajah captive yang terkonfirmasi meninggal akibat virus EEHV. Data ini bahkan belum termasuk data dari kematian kasus gajah liar, yang tidak kita ketahui sama sekali.

EEHV merupakan mimpi buruk bagi kelangsungan gajah kita. 

Virus ini menyerang secara diam-diam namun dengan sangat cepat. Ia membuat pembuluh darah dan organ bagian dalam gajah, rusak (hemorrhagic disease) dengan tingkat kematian yang fatal sebesar 85%. Biasanya ketika gejala fisiknya muncul, maka itu sudah sangat terlambat.

Permasalahannya;

Sejak virus ini ditemukan pada tahun 1995, belum ada vaksin maupun obat untuk melawan EEHV. Di Indonesia sendiri, belum banyak pengerjaan pencegahan, deteksi dini, perawatan hingga pengobatan. Sering kali anak-anak gajah yang menunjukkan gejala awal EEHV, terlambat atau bahkan tidak diketahui oleh mahout ataupun tim medis. 

Anak-anak gajah itu berulang kali mati dalam kesunyian.

Tapi kini, harapan baru itu muncul.

Pada 3 Oktober 2025, tim ilmuwan dari University of Surrey, Chester Zoo, dan APHA, Inggris, mengumumkan vaksin EEHV pertama di dunia yang terbukti aman dan efektif. Vaksin ini diformulasikan untuk gajah Asia dan dibuat secara open source. Artinya, negara mana pun dapat mengakses formula dan metode pembuatannya untuk digunakan secara lokal. Termasuk Indonesia.

Tim @Forgajahrahman telah menghubungi Profesor Falko Steinbach, peneliti utama dari University of Surrey, yang telah menyampaikan bahwa vaksin ini bisa digunakan untuk semua subspesies gajah Asia, termasuk gajah Sumatera. Beliau juga menyatakan kesediaannya untuk bekerjasama dengan kolega di Sumatera. 

KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU 
Populasi gajah Sumatera semakin terancam.
Di alam liar, mereka diburu dan kehilangan hutan karena deforestasi.
Di penangkaran, virus mematikan mengintai mereka..

Padahal, untuk melahirkan satu anak gajah, induknya harus mengandung selama 22 bulan.. Namun virus ini bisa membunuh hanya dalam waktu 24 jam saja.

Kami mendesak kepada Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera membentuk Satgas EEHV Nasional, agar:

  1.  Indonesia dapat menjalin kerjasama resmi dengan tim ilmuwan Inggris untuk mempercepat penelitian, uji, dan pengembangan vaksin EEHV.
  2. Mempercepat proses uji dan produksi vaksin EEHV di Indonesia.
  3. Membangun sistem deteksi dini EEHV dengan mengadopsi teknologi dan metode penanganan dari Thailand yang telah terbukti efektif.
  4. Meningkatkan kapasitas dan support teknis untuk dokter hewan, mahout, dan tenaga lapangan melalui pelatihan rutin, pertukaran pengetahuan, serta dukungan fasilitas laboratorium dan peralatan medis.

Lembaga/Instansi yang Perlu Terlibat dalam Satgas EEHV Nasional

  1.  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) – sebagai koordinator utama dan pemegang mandat konservasi satwa dilindungi.
  2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) – untuk mendukung riset, pengembangan vaksin, dan inovasi deteksi dini.
  3. Balai Taman Nasional dan BKSDA di wilayah sebaran gajah Sumatera – untuk pelaksanaan lapangan, pemantauan kasus, dan tindakan cepat di lokasi.
  4. Perguruan Tinggi (seperti IPB, UGM, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Airlangga) – terutama Fakultas Kedokteran Hewan, untuk riset kolaboratif, pendampingan teknis, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
  5. Lembaga konservasi dan mitra NGO internasional – untuk dukungan teknis, pendanaan, serta transfer ilmu dan pengalaman dalam mitigasi EEHV.

 

 

Kita tidak boleh menunggu ada “Tari” berikutnya.
Kita tidak boleh diam saat anak-anak gajah mati satu per satu tanpa sempat diselamatkan. Karena setiap anak gajah yang mati,
ada masa depan hutan dan pelestarian gajah yang ikut terkubur.

 

avatar of the starter
For Gajah RahmanPembuka Petisi

14.759

Masalahnya

Tari seharusnya masih hidup hari ini.

Kalistha Lestari adalah anak gajah dari Taman Nasional Tesso Nilo. Ia akrab kita sapa dengan nama kecilnya, Tari. Pada 31 Agustus 2025 lalu, Tari baru saja berulang tahun yang ke-dua. Usia di mana ia, seperti anak-anak kita pada umumnya, mulai belajar mengenal dunia.

 

Mengenang Gajah Tari. Sumber foto BTN Tesso Nilo

 

Foto gajah Tari di Taman Nasional Tesso Nilo. Dok: BTN Tesso Nilo

Wajah Tari yang ceria dan tingkahnya yang menggemaskan membuat banyak orang langsung jatuh cinta. Setiap hari, ribuan netizen selalu setia menunggu video tingkah lucunya di akun medsos @btn_tessonilo, untuk menjadi pelipur penat bagi kita semua.

Tidak perlu dipungkiri, Tari dan anak-anak gajah lainnya, adalah simbol harapan bagi pelestarian gajah Sumatera.

Namun, 10 hari setelah ia berulang tahun, Tari ditemukan sudah terbaring tidak bergerak. Ia sudah tidak bernyawa. Kepergiannya yang begitu mendadak, membuat simbol harapan itu seolah-olah runtuh seketika.

Hasil laboratorium memastikan bahwa Tari meninggal karena infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV) yang menyerang organ hatinya.  

EEHV adalah virus mematikan yang bisa membunuh anak gajah dibawah usia 10 tahun hanya dalam hitungan jam saja.

Tari bukan satu-satunya.

Di tahun 2009, satu kasus kematian anak gajah yang terjadi di Aras Napal, Sumatera Utara, terdeteksi sebagai kasus EEHV pertama di Indonesia. Lalu, satu tahun sebelum kematian Tari, ada kematian dua anak gajah bernama Damar (TWA Buluh Cina, Riau) dan Eropa (Tangkahan, Sumatera Utara), yang juga tewas karena virus yang sama. 

 

gajah Damar yang mati di TWA Buluh Cina pada 11 Januari 2023. Dok: BBKSDA Riau

 

Damar, anak gajah yang mati di TWA Buluh Cina, Riau pada 11 Januari 2023. Dok: BBKSDA Riau

Sedikitnya, sejak 2009 – 2025, sudah ada 10 kematian anak gajah captive yang terkonfirmasi meninggal akibat virus EEHV. Data ini bahkan belum termasuk data dari kematian kasus gajah liar, yang tidak kita ketahui sama sekali.

EEHV merupakan mimpi buruk bagi kelangsungan gajah kita. 

Virus ini menyerang secara diam-diam namun dengan sangat cepat. Ia membuat pembuluh darah dan organ bagian dalam gajah, rusak (hemorrhagic disease) dengan tingkat kematian yang fatal sebesar 85%. Biasanya ketika gejala fisiknya muncul, maka itu sudah sangat terlambat.

Permasalahannya;

Sejak virus ini ditemukan pada tahun 1995, belum ada vaksin maupun obat untuk melawan EEHV. Di Indonesia sendiri, belum banyak pengerjaan pencegahan, deteksi dini, perawatan hingga pengobatan. Sering kali anak-anak gajah yang menunjukkan gejala awal EEHV, terlambat atau bahkan tidak diketahui oleh mahout ataupun tim medis. 

Anak-anak gajah itu berulang kali mati dalam kesunyian.

Tapi kini, harapan baru itu muncul.

Pada 3 Oktober 2025, tim ilmuwan dari University of Surrey, Chester Zoo, dan APHA, Inggris, mengumumkan vaksin EEHV pertama di dunia yang terbukti aman dan efektif. Vaksin ini diformulasikan untuk gajah Asia dan dibuat secara open source. Artinya, negara mana pun dapat mengakses formula dan metode pembuatannya untuk digunakan secara lokal. Termasuk Indonesia.

Tim @Forgajahrahman telah menghubungi Profesor Falko Steinbach, peneliti utama dari University of Surrey, yang telah menyampaikan bahwa vaksin ini bisa digunakan untuk semua subspesies gajah Asia, termasuk gajah Sumatera. Beliau juga menyatakan kesediaannya untuk bekerjasama dengan kolega di Sumatera. 

KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU 
Populasi gajah Sumatera semakin terancam.
Di alam liar, mereka diburu dan kehilangan hutan karena deforestasi.
Di penangkaran, virus mematikan mengintai mereka..

Padahal, untuk melahirkan satu anak gajah, induknya harus mengandung selama 22 bulan.. Namun virus ini bisa membunuh hanya dalam waktu 24 jam saja.

Kami mendesak kepada Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera membentuk Satgas EEHV Nasional, agar:

  1.  Indonesia dapat menjalin kerjasama resmi dengan tim ilmuwan Inggris untuk mempercepat penelitian, uji, dan pengembangan vaksin EEHV.
  2. Mempercepat proses uji dan produksi vaksin EEHV di Indonesia.
  3. Membangun sistem deteksi dini EEHV dengan mengadopsi teknologi dan metode penanganan dari Thailand yang telah terbukti efektif.
  4. Meningkatkan kapasitas dan support teknis untuk dokter hewan, mahout, dan tenaga lapangan melalui pelatihan rutin, pertukaran pengetahuan, serta dukungan fasilitas laboratorium dan peralatan medis.

Lembaga/Instansi yang Perlu Terlibat dalam Satgas EEHV Nasional

  1.  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) – sebagai koordinator utama dan pemegang mandat konservasi satwa dilindungi.
  2. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) – untuk mendukung riset, pengembangan vaksin, dan inovasi deteksi dini.
  3. Balai Taman Nasional dan BKSDA di wilayah sebaran gajah Sumatera – untuk pelaksanaan lapangan, pemantauan kasus, dan tindakan cepat di lokasi.
  4. Perguruan Tinggi (seperti IPB, UGM, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Airlangga) – terutama Fakultas Kedokteran Hewan, untuk riset kolaboratif, pendampingan teknis, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
  5. Lembaga konservasi dan mitra NGO internasional – untuk dukungan teknis, pendanaan, serta transfer ilmu dan pengalaman dalam mitigasi EEHV.

 

 

Kita tidak boleh menunggu ada “Tari” berikutnya.
Kita tidak boleh diam saat anak-anak gajah mati satu per satu tanpa sempat diselamatkan. Karena setiap anak gajah yang mati,
ada masa depan hutan dan pelestarian gajah yang ikut terkubur.

 

avatar of the starter
For Gajah RahmanPembuka Petisi
Dukung sekarang

14.759


Pengambil Keputusan

Raja Juli Antoni
Raja Juli Antoni
Menteri Kehutanan RI
KLHK
KLHK
Kementerian Kehutanan
Kementerian Kehutanan
Prabowo
Prabowo
Presiden Republik Indonesia
Perkembangan terakhir petisi