Tolong, koreksi lagi sistem pendidikan kita

Masalahnya

Assalamualaikum wr. wb semuanya, nama saya Imam assidiqqi.

Saya disini ingin berbicara atas nama teman-teman seperjuangan saya, sesama pelajar se-Indonesia. Saya ingin berkata, bahwa SISTEM PENDIDIKAN INI SUDAH KADALUARSA, DAN KTSP 2013 TIDAK LEBIH DARI MEMPERPARAH KEADAAN. Jujur aja, banyak loh siswa yang keberatan dengan KTSP 2013, KTSP 2006, yang saya alami aja udah berat, sudah tidak masuk akal untuk dijadikan sistem pendidikan, dan menurut saya, KTSP 2013, memperparah keadaan. Bayangkan:

1. Waktu sekolah kita sangat lama. 7 1/2 jam sekolah per hari, eh ada usut yang berkata bahwa malah jamnya akan ditambah (Tidak setuju dengan saya? Baca http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/10/kliping-kondisi-berat-dalam-sekolah-di.html , atau http://edukasi.kompas.com/read/2012/09/19/0757541/Terlalu.Lama.di.Sekolah.Membuat.Anak.Tidak.Kritis )

2. Sekolah membunuh kreativitas, semakin tidak perduli dengan anak didik dengan tidak membiarkan anak didik berbicara.

3. SEKOLAH TIDAK SEDINAMIS DUNIA INI. Dunia ini berubah, tidak diam. Kita masih stay dan nyaman dengan sistem sekarang, kita mati ditengah jalan. Negara mana yang mau perduli dengan ketertinggalan sistem edukasi Indonesia? Tidak ada. Mereka tetap  berjalan santai kedepan sekalipun kita sedang berlari cepat ke belakang.

4. Kita (pelajar) dianggap (maaf) bodoh, tidak boleh kritis. Mohon maaf dengan sangat, tapi untuk apa ada OSIS, MPK? Apa cuma dipakai untuk masalah internal saja? Apa guna dari mereka? Kalau mereka cukup pintar untuk berbicara, kenapa tidak diajak berdiskusi. Pemerintah, seluruh orang, boleh saja paham kalau kami sedang dalam masalah, tapi, sejujurnya, hanya kami yang tahu darimana masalah itu berasal. Kami cukup pintar untuk menilai.

5. Banyak yang berkata kalau siswa tidak paham dengan sistem yang dibuat. Kami paham, dan kami (maaf) membencinya. Kami ini budak sistem, kami ini akan mengikuti apa yang dilakukan sistem. Kami ini cerminan pemerintah, cerminan sistem. Dan kalau pemerintah bilang kami terlalu bodoh untuk menerima sistem, jelas salah. JANGAN BERKATA KENAPA BANYAK DARI KAMI YANG BERBUAT TIDAK PANTAS, PADA KENYATAANNYA SECARA TIDAK LANGSUNG SISTEMLAH YANG MENDIDIK KAMI. Sistem pendidikan Indonesia tidak mengizinkan kami kritis, yah jelas sebagian besar dari kami tidak kritis. Sistem menyuruh kita untuk ngikutin aja apa yang mereka mau, kami tidak diberikan tempat untuk berbicara, kami gak bicara. Ini jelas pemikiran yang salah. Jelas tertulis di sosiologi bahwa kebudayaan juga mempengaruhi manusia, berarti kami yah budak budaya pendidikan juga. Tolong jangan terus menerus menyalahkan kami, seringkali siswa lah yang disalahkan. Padahal hukum alam, kalau ada orang yang tidak setuju dengan suatu sistem, ada kemungkinan kita akan memberontak. Dan apa yang kalian lihat sekarang ini tak lebih dari pemberontakan mereka karena sistem, atau hasil dari sistemm itu sendiri. Tanpa langsung sistem mendidik kami menjadi seperti ini. Menyedihkan bukan?.

6. UN? Gunanya?. Saya merasa bahwa kami dikotak-kotakkan secara halus lewat NEM. Bayangkan, hanya karena 3-4 hari, kami bisa berteman dengan orang yang salah. Orang yang pintar, makin pintar karena sekolahnya berkualitas. Lah yang lainnya? Apa gak ada kesempatan buat mereka yang kurang pintar untuk pintar? Ini gak adil.

7. Nilai rapot harus semuanya tinggi. INI JELAS TIDAK MASUK AKAL, TERUTAMA APABILA DI JENJANG PENDIDIKAN SMA!. Gunanya jenjang SMA itu apa? Seharusnya SMA dapat menjadi tempat dimana kita tahu akan menjadi apa kita nanti. Jadi seniman? Matematikawan?. Maaf, tapi SMA seharusnya bisa jadi jalan kami buat tahu apa yang harus kami hadapi. Kami harusnya tahu mau menjadi apa nanti, bukan malah semakin dibingungkan. Albert einstein pada kenyataannya cuma pintar MTK dan Fisika, Beethoven pintar dalam seni musik, Steve jobs pintar dalam manajemen dan programming. Kami tak sepantasnya disamakan. Itu bodoh namanya. Kami sama, tapi kami berbeda. Saya suka sama photoshop, visual effect, dan kalau ada sekolah yang membahas itu semua, dan saya tetap mudah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, saya jelas akan mengambil sekolah itu. Tapi tidak, bahkan dunia saya, dunia kreatif, kurang dihargai. Seni yang saya pelajari hanya seni musik, dan sisanya pelajaran formal yang menurut saya tidak bisa saya jadikan tumpuan, dan saya sadari sebagian besar yang saya pelajari akan saya lupakan. Bukan berarti ilmu tersebut tidak penting, tapi bukankah setiap orang seharusnya dapat belajar sesuai apa yang harus ia pelajari. Seniman belajar seni, akuntan belajar akuntansi, dan tidak seperti ini, sudah pelajarannya sangat advanced, semua nilai harus bagus. Masuk akal?

Yang perlu saya terangkan lagi, saya pemakai KTSP 2006, tapi saya dengan sangat menyesal harus mengatakan, saya kecewa dengan keputusan mendiknas yang sepertinya kurang mengizinkan kami untuk kritis. Saya sangat kecewa. Mungkin tidak semua setuju dengan saya, tapi saya hanya satu dari sekian banyak murid yang menginginkan perubahan. Yang saya inginkan hanyalah orang yang mau mendengarkan. Lingkaran setan ini akan terus terjadi apabila tidak ada yang mau memutuskan, bantu saya memutuskan lingkaran ini.

 

Bismillah, atas nama seluruh murid SMA yang merasa dikecewakan

 

Imam assidiqqi

Beberapa link yang dapat menambah referensi sistem pendidikan:

http://www.kaskus.co.id/thread/52d73801ffca171b7a8b45e3

http://www.tribunnews.com/tribunners/2013/08/09/sistem-pendidikan-jepang-tidak-mengenal-ujian-nasional

http://journal.unwidha.ac.id/index.php/proceeding/article/view/255

http://ardianumam.web.ugm.ac.id/?p=237

http://www.nabawia.com/read/1322/12-perbedaan-sistem-pendidikan-indonesia-finlandia

"Yang terbaik bukanlah untuk berusaha menjadi orang yang sempurna, namun jadilah orang yang lebih baik"

avatar of the starter
Imam assidiqqiPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 1 pendukung

Masalahnya

Assalamualaikum wr. wb semuanya, nama saya Imam assidiqqi.

Saya disini ingin berbicara atas nama teman-teman seperjuangan saya, sesama pelajar se-Indonesia. Saya ingin berkata, bahwa SISTEM PENDIDIKAN INI SUDAH KADALUARSA, DAN KTSP 2013 TIDAK LEBIH DARI MEMPERPARAH KEADAAN. Jujur aja, banyak loh siswa yang keberatan dengan KTSP 2013, KTSP 2006, yang saya alami aja udah berat, sudah tidak masuk akal untuk dijadikan sistem pendidikan, dan menurut saya, KTSP 2013, memperparah keadaan. Bayangkan:

1. Waktu sekolah kita sangat lama. 7 1/2 jam sekolah per hari, eh ada usut yang berkata bahwa malah jamnya akan ditambah (Tidak setuju dengan saya? Baca http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/10/kliping-kondisi-berat-dalam-sekolah-di.html , atau http://edukasi.kompas.com/read/2012/09/19/0757541/Terlalu.Lama.di.Sekolah.Membuat.Anak.Tidak.Kritis )

2. Sekolah membunuh kreativitas, semakin tidak perduli dengan anak didik dengan tidak membiarkan anak didik berbicara.

3. SEKOLAH TIDAK SEDINAMIS DUNIA INI. Dunia ini berubah, tidak diam. Kita masih stay dan nyaman dengan sistem sekarang, kita mati ditengah jalan. Negara mana yang mau perduli dengan ketertinggalan sistem edukasi Indonesia? Tidak ada. Mereka tetap  berjalan santai kedepan sekalipun kita sedang berlari cepat ke belakang.

4. Kita (pelajar) dianggap (maaf) bodoh, tidak boleh kritis. Mohon maaf dengan sangat, tapi untuk apa ada OSIS, MPK? Apa cuma dipakai untuk masalah internal saja? Apa guna dari mereka? Kalau mereka cukup pintar untuk berbicara, kenapa tidak diajak berdiskusi. Pemerintah, seluruh orang, boleh saja paham kalau kami sedang dalam masalah, tapi, sejujurnya, hanya kami yang tahu darimana masalah itu berasal. Kami cukup pintar untuk menilai.

5. Banyak yang berkata kalau siswa tidak paham dengan sistem yang dibuat. Kami paham, dan kami (maaf) membencinya. Kami ini budak sistem, kami ini akan mengikuti apa yang dilakukan sistem. Kami ini cerminan pemerintah, cerminan sistem. Dan kalau pemerintah bilang kami terlalu bodoh untuk menerima sistem, jelas salah. JANGAN BERKATA KENAPA BANYAK DARI KAMI YANG BERBUAT TIDAK PANTAS, PADA KENYATAANNYA SECARA TIDAK LANGSUNG SISTEMLAH YANG MENDIDIK KAMI. Sistem pendidikan Indonesia tidak mengizinkan kami kritis, yah jelas sebagian besar dari kami tidak kritis. Sistem menyuruh kita untuk ngikutin aja apa yang mereka mau, kami tidak diberikan tempat untuk berbicara, kami gak bicara. Ini jelas pemikiran yang salah. Jelas tertulis di sosiologi bahwa kebudayaan juga mempengaruhi manusia, berarti kami yah budak budaya pendidikan juga. Tolong jangan terus menerus menyalahkan kami, seringkali siswa lah yang disalahkan. Padahal hukum alam, kalau ada orang yang tidak setuju dengan suatu sistem, ada kemungkinan kita akan memberontak. Dan apa yang kalian lihat sekarang ini tak lebih dari pemberontakan mereka karena sistem, atau hasil dari sistemm itu sendiri. Tanpa langsung sistem mendidik kami menjadi seperti ini. Menyedihkan bukan?.

6. UN? Gunanya?. Saya merasa bahwa kami dikotak-kotakkan secara halus lewat NEM. Bayangkan, hanya karena 3-4 hari, kami bisa berteman dengan orang yang salah. Orang yang pintar, makin pintar karena sekolahnya berkualitas. Lah yang lainnya? Apa gak ada kesempatan buat mereka yang kurang pintar untuk pintar? Ini gak adil.

7. Nilai rapot harus semuanya tinggi. INI JELAS TIDAK MASUK AKAL, TERUTAMA APABILA DI JENJANG PENDIDIKAN SMA!. Gunanya jenjang SMA itu apa? Seharusnya SMA dapat menjadi tempat dimana kita tahu akan menjadi apa kita nanti. Jadi seniman? Matematikawan?. Maaf, tapi SMA seharusnya bisa jadi jalan kami buat tahu apa yang harus kami hadapi. Kami harusnya tahu mau menjadi apa nanti, bukan malah semakin dibingungkan. Albert einstein pada kenyataannya cuma pintar MTK dan Fisika, Beethoven pintar dalam seni musik, Steve jobs pintar dalam manajemen dan programming. Kami tak sepantasnya disamakan. Itu bodoh namanya. Kami sama, tapi kami berbeda. Saya suka sama photoshop, visual effect, dan kalau ada sekolah yang membahas itu semua, dan saya tetap mudah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, saya jelas akan mengambil sekolah itu. Tapi tidak, bahkan dunia saya, dunia kreatif, kurang dihargai. Seni yang saya pelajari hanya seni musik, dan sisanya pelajaran formal yang menurut saya tidak bisa saya jadikan tumpuan, dan saya sadari sebagian besar yang saya pelajari akan saya lupakan. Bukan berarti ilmu tersebut tidak penting, tapi bukankah setiap orang seharusnya dapat belajar sesuai apa yang harus ia pelajari. Seniman belajar seni, akuntan belajar akuntansi, dan tidak seperti ini, sudah pelajarannya sangat advanced, semua nilai harus bagus. Masuk akal?

Yang perlu saya terangkan lagi, saya pemakai KTSP 2006, tapi saya dengan sangat menyesal harus mengatakan, saya kecewa dengan keputusan mendiknas yang sepertinya kurang mengizinkan kami untuk kritis. Saya sangat kecewa. Mungkin tidak semua setuju dengan saya, tapi saya hanya satu dari sekian banyak murid yang menginginkan perubahan. Yang saya inginkan hanyalah orang yang mau mendengarkan. Lingkaran setan ini akan terus terjadi apabila tidak ada yang mau memutuskan, bantu saya memutuskan lingkaran ini.

 

Bismillah, atas nama seluruh murid SMA yang merasa dikecewakan

 

Imam assidiqqi

Beberapa link yang dapat menambah referensi sistem pendidikan:

http://www.kaskus.co.id/thread/52d73801ffca171b7a8b45e3

http://www.tribunnews.com/tribunners/2013/08/09/sistem-pendidikan-jepang-tidak-mengenal-ujian-nasional

http://journal.unwidha.ac.id/index.php/proceeding/article/view/255

http://ardianumam.web.ugm.ac.id/?p=237

http://www.nabawia.com/read/1322/12-perbedaan-sistem-pendidikan-indonesia-finlandia

"Yang terbaik bukanlah untuk berusaha menjadi orang yang sempurna, namun jadilah orang yang lebih baik"

avatar of the starter
Imam assidiqqiPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Mendiknas
Mendiknas

Perkembangan terakhir petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 1 Februari 2014