Perampasan Tanah dan Pembongkaran Hutan Terbesar, Presiden Prabowo Hentikan PSN Merauke!


Perampasan Tanah dan Pembongkaran Hutan Terbesar, Presiden Prabowo Hentikan PSN Merauke!
Masalahnya
Kapal tongkang milik Haji Isam telah berlabuh di perairan laut Wogikel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Dengan dikawal oleh militer, kapal ini memuat dan menurunkan ratusan excavator bermerek Sany, bulldozer, dan alat berat lainnya. Semua ini didatangkan demi ambisi cetak dan optimalisasi sawah seluas 2 juta hektar.
Selain cetak sawah, Jhonlin Grup bertugas membangun sarana dan prasarana ketahanan pangan, seperti pembangunan jalan sepanjang 135,5 kilometer.
Namun, cetak sawah bukan satu-satunya Proyek Strategis Nasional yang mengancam ruang hidup masyarakat di Merauke.
Di waktu yang sama, pemerintah berinisiatif mengembangkan perkebunan tebu dan bioethanol seluas 563,661 hektar. Menteri Investasi sekaligus Satgas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol, Bahlil Lahadalia menunjuk sepuluh perusahaan perkebunan yang dikuasai oleh dua orang pengusaha, yaitu keluarga Fangiono dan Martua Sitorus.
Seolah-olah seperti tanah kosong yang tak berpenghuni, lebih dari dua juta tanah dan hutan milik masyarakat akan berubah menjadi sawah dan perkebunan.
Masyarakat adat Malind dan Yei jelas menolak. Seorang mama yang kami temui bilang "Mama menolak perusahaan. Karena di tanah dan hutan itu ada kita punya tempat tinggal dan tanaman, untuk itu perusaahan tidak boleh ambil"
Bagi masyarakat adat, tanah dan hutan adalah sumber penghidupan, pangan, budaya, sumber air, dan tempat-tempat penting bagi sejarah mereka yang hidup sekarang dan generasi mendatang.
Kami bertemu dengan Bapak Vincen Kwipalo, pemimpin Marga Kwipalo. Demi mempertahankan tanahnya, ia harus berkendara dengan motor untuk hadir dalam pertemuan adat 'sasi mayan' yang diinisasi Forum Masyarakat Adat Kondo Digul. Untuk ke sana, ia harus menempuh 122 kilometer dari Kampung Blandin Kakayo. Dalam pertemuan ini, kami menyaksikan ratusan masyarakat adat dengan tegas menolak tanah dan hutan adat mereka dirampas.
Sementara di Kampung Yowied, masyarakat adat Malind membalur wajah dan tubuh mereka dengan poo atau lumpur putih sebagai bentuk duka masyarakat atas rusaknya tanah dan hutan mereka. Mereka terus meneriakkan kata "tolak!"
Sekarang mereka tidak bisa mengandalkan siapapun, kecuali dukungan dari kita semua. Mari dukung perjuangan Bapak Vincen dan ratusan orang Suku Malind dan Suku Yei untuk menghentikan PSN Merauke ya teman-teman.
Kami tutup dengan pesan seorang namek di Kampung Yowied "jangan khawatir membela kebenaran, pasti selamat. Dilindungi oleh Tuhan. Percaya." Dukung dan sebarkan petisi ini.
Untuk bahan bacaan bisa melalui tautan berikut PSN Merauke
19.166
Masalahnya
Kapal tongkang milik Haji Isam telah berlabuh di perairan laut Wogikel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Dengan dikawal oleh militer, kapal ini memuat dan menurunkan ratusan excavator bermerek Sany, bulldozer, dan alat berat lainnya. Semua ini didatangkan demi ambisi cetak dan optimalisasi sawah seluas 2 juta hektar.
Selain cetak sawah, Jhonlin Grup bertugas membangun sarana dan prasarana ketahanan pangan, seperti pembangunan jalan sepanjang 135,5 kilometer.
Namun, cetak sawah bukan satu-satunya Proyek Strategis Nasional yang mengancam ruang hidup masyarakat di Merauke.
Di waktu yang sama, pemerintah berinisiatif mengembangkan perkebunan tebu dan bioethanol seluas 563,661 hektar. Menteri Investasi sekaligus Satgas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol, Bahlil Lahadalia menunjuk sepuluh perusahaan perkebunan yang dikuasai oleh dua orang pengusaha, yaitu keluarga Fangiono dan Martua Sitorus.
Seolah-olah seperti tanah kosong yang tak berpenghuni, lebih dari dua juta tanah dan hutan milik masyarakat akan berubah menjadi sawah dan perkebunan.
Masyarakat adat Malind dan Yei jelas menolak. Seorang mama yang kami temui bilang "Mama menolak perusahaan. Karena di tanah dan hutan itu ada kita punya tempat tinggal dan tanaman, untuk itu perusaahan tidak boleh ambil"
Bagi masyarakat adat, tanah dan hutan adalah sumber penghidupan, pangan, budaya, sumber air, dan tempat-tempat penting bagi sejarah mereka yang hidup sekarang dan generasi mendatang.
Kami bertemu dengan Bapak Vincen Kwipalo, pemimpin Marga Kwipalo. Demi mempertahankan tanahnya, ia harus berkendara dengan motor untuk hadir dalam pertemuan adat 'sasi mayan' yang diinisasi Forum Masyarakat Adat Kondo Digul. Untuk ke sana, ia harus menempuh 122 kilometer dari Kampung Blandin Kakayo. Dalam pertemuan ini, kami menyaksikan ratusan masyarakat adat dengan tegas menolak tanah dan hutan adat mereka dirampas.
Sementara di Kampung Yowied, masyarakat adat Malind membalur wajah dan tubuh mereka dengan poo atau lumpur putih sebagai bentuk duka masyarakat atas rusaknya tanah dan hutan mereka. Mereka terus meneriakkan kata "tolak!"
Sekarang mereka tidak bisa mengandalkan siapapun, kecuali dukungan dari kita semua. Mari dukung perjuangan Bapak Vincen dan ratusan orang Suku Malind dan Suku Yei untuk menghentikan PSN Merauke ya teman-teman.
Kami tutup dengan pesan seorang namek di Kampung Yowied "jangan khawatir membela kebenaran, pasti selamat. Dilindungi oleh Tuhan. Percaya." Dukung dan sebarkan petisi ini.
Untuk bahan bacaan bisa melalui tautan berikut PSN Merauke
19.166
Pengambil Keputusan
Suara Pendukung
Petisi dibuat pada 9 Oktober 2024