#SaveSagea Segera Tetapkan Perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst Sagea !

Penandatangan terbaru:
Yayasan Insan Hutan Indonesia YIHUI dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Gae re gele neste rfatote tajaga re taplihara pnuw re boten e nje fafie” 
"Para leluhur berpesan bahwa kita harus menjaga dan memelihara kampung dan tanah Sagea ini" ucap Lada Ridwan mengingat pesan orangtuanya.

Ini keresahan yang saya alami, sebagai orang muda yang juga lahir di kampung. Saya memiliki perhatian tinggi terhadap permasalahan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam. Sering kali saya melihat banyak kasus dimana pemerintah kurang hati-hati dalam melakukan pengelolaan ekosistem karst.

Salah satunya pemberian izin eksploitasi pertambangan di ekosistem karst. Jika karst rusak maka tidak dapat dipulihkan. Lebih buruknya menyebabkan konflik  seperti yang terjadi di Kendeng, Aceh Tamiang, Gombong, dan Manggarai.

Belum lama ini juga terjadi di kampungnya Lada Ridwan di Sagea, Halmahera Tengah

Lada Ridwan adalah seorang pemuda kampung Sagea. Baginya kampung bukan sekedar tempat tinggal, melainkan identitas karena disana para leluhurnya hidup dan tinggal dari generasi ke generasi.

Lada bersyukur lahir dan dibesarkan di Sagea. Kampung dengan sungai dan mata airnya mengalir sepanjang tahun. Tanahnya subur menumbuhkan ragam tanaman. Juga telaga dan lautnya yang terus menyediakan sumber protein hidupan masyarakat.

Ia juga menceritakan bahwa Telaga Sagea sangat lekat dengan kehidupan perempuan. Para perempuan biasanya berbondong-bondong mengambil kerang dan memancing ikan di telaga Sagea jika terjadi musim ombak di laut.

Dari dulu lagi torang biasa rame-rame ambe bia di talaga. Jadi so turun temurun” penuturan Mama Maryama, Ibu kandung dari Lada. 

Kekayaan alam kampung Sagea berupa ekosistem karst. Lanskap perbukitan karst membentang di belakang kampung itu. Disana, ada telaga besar Legaelol yang dikeramatkan warga dan airnya jernih tak pernah kering. Antara celah perbukitannya terdapat gua-gua yang menjadi lubang masuknya air. 

Gua Bokimoruru salah satunya, mengalirkan sungai bawah tanah yang sangat deras. Airnya dimanfaatkan masyarakat Sagea untuk kebutuhan hidupnya. Bokimoruru juga sudah lama menjadi tempat rekreasi masyarakat lokal di Halmahera Tengah.

Pemuda Sagea berinisiatif mengembangkan potensi alam kampungnya tersebut lewat wisata alam. Secara perlahan Sagea banyak dikunjungi wisatawan dan mulai menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menurut laporan pengelola, sampai Mei 2022 terdapat 11.544 orang pengunjung dengan total pendapat melalui retribusi wisata mencapai Rp. 115.440.000 rupiah.

Pemuda Sagea juga mendorong adanya upaya perlindungan ekosistem karst Sagea lewat kebijakan pemerintah. Namun, sampai saat ini kebijakan perlindungan belum kunjung ditetapkan.

Ironisnya Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) malah mengeluarkan izin pertambangan PT First Pasific Mining dan PT Karunia Sagea Mineral, dan PT Gamping Mining Indonesia

Oleh karena itu saya memulai petisi ini untuk mengumpulkan dukungan, agar Kementerian ESDM melakukan evaluasi terhadap izin pertambangan di ekosistem karst Sagea dan segera menetapkan kebijakan perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst Sagea.

Aktivitas pertambangan akan mengancam keberlangsungan ekosistem karst Sagea sebagai penyerap dan penyimpan air alami. Jika karst rusak maka tidak dapat dipulihkan layaknya hutan. Rusaknya karst akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat Sagea. 

Adanya kebijakan perlindungan kawasan bentang alam karst, keberadaan ekosistem karst Sagea akan tetap terjaga. Terlebih fungsinya sebagai penyerap dan penyimpan air akan terus memberikan jasa lingkungan yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Lebih dari itu, membantu Pemuda Kampung Sagea mengembangkan kampungnya lewat aktivitas-aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dan lestari.

Salam,
Koalisi Selamatkan Kampung Sagea (SEKA)

#SaveKarstSagea #SelamatkanKampungSagea #SaveBokimoruru

 

avatar of the starter
Aziz FPembuka Petisi

5.368

Penandatangan terbaru:
Yayasan Insan Hutan Indonesia YIHUI dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Gae re gele neste rfatote tajaga re taplihara pnuw re boten e nje fafie” 
"Para leluhur berpesan bahwa kita harus menjaga dan memelihara kampung dan tanah Sagea ini" ucap Lada Ridwan mengingat pesan orangtuanya.

Ini keresahan yang saya alami, sebagai orang muda yang juga lahir di kampung. Saya memiliki perhatian tinggi terhadap permasalahan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam. Sering kali saya melihat banyak kasus dimana pemerintah kurang hati-hati dalam melakukan pengelolaan ekosistem karst.

Salah satunya pemberian izin eksploitasi pertambangan di ekosistem karst. Jika karst rusak maka tidak dapat dipulihkan. Lebih buruknya menyebabkan konflik  seperti yang terjadi di Kendeng, Aceh Tamiang, Gombong, dan Manggarai.

Belum lama ini juga terjadi di kampungnya Lada Ridwan di Sagea, Halmahera Tengah

Lada Ridwan adalah seorang pemuda kampung Sagea. Baginya kampung bukan sekedar tempat tinggal, melainkan identitas karena disana para leluhurnya hidup dan tinggal dari generasi ke generasi.

Lada bersyukur lahir dan dibesarkan di Sagea. Kampung dengan sungai dan mata airnya mengalir sepanjang tahun. Tanahnya subur menumbuhkan ragam tanaman. Juga telaga dan lautnya yang terus menyediakan sumber protein hidupan masyarakat.

Ia juga menceritakan bahwa Telaga Sagea sangat lekat dengan kehidupan perempuan. Para perempuan biasanya berbondong-bondong mengambil kerang dan memancing ikan di telaga Sagea jika terjadi musim ombak di laut.

Dari dulu lagi torang biasa rame-rame ambe bia di talaga. Jadi so turun temurun” penuturan Mama Maryama, Ibu kandung dari Lada. 

Kekayaan alam kampung Sagea berupa ekosistem karst. Lanskap perbukitan karst membentang di belakang kampung itu. Disana, ada telaga besar Legaelol yang dikeramatkan warga dan airnya jernih tak pernah kering. Antara celah perbukitannya terdapat gua-gua yang menjadi lubang masuknya air. 

Gua Bokimoruru salah satunya, mengalirkan sungai bawah tanah yang sangat deras. Airnya dimanfaatkan masyarakat Sagea untuk kebutuhan hidupnya. Bokimoruru juga sudah lama menjadi tempat rekreasi masyarakat lokal di Halmahera Tengah.

Pemuda Sagea berinisiatif mengembangkan potensi alam kampungnya tersebut lewat wisata alam. Secara perlahan Sagea banyak dikunjungi wisatawan dan mulai menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menurut laporan pengelola, sampai Mei 2022 terdapat 11.544 orang pengunjung dengan total pendapat melalui retribusi wisata mencapai Rp. 115.440.000 rupiah.

Pemuda Sagea juga mendorong adanya upaya perlindungan ekosistem karst Sagea lewat kebijakan pemerintah. Namun, sampai saat ini kebijakan perlindungan belum kunjung ditetapkan.

Ironisnya Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) malah mengeluarkan izin pertambangan PT First Pasific Mining dan PT Karunia Sagea Mineral, dan PT Gamping Mining Indonesia

Oleh karena itu saya memulai petisi ini untuk mengumpulkan dukungan, agar Kementerian ESDM melakukan evaluasi terhadap izin pertambangan di ekosistem karst Sagea dan segera menetapkan kebijakan perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst Sagea.

Aktivitas pertambangan akan mengancam keberlangsungan ekosistem karst Sagea sebagai penyerap dan penyimpan air alami. Jika karst rusak maka tidak dapat dipulihkan layaknya hutan. Rusaknya karst akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat Sagea. 

Adanya kebijakan perlindungan kawasan bentang alam karst, keberadaan ekosistem karst Sagea akan tetap terjaga. Terlebih fungsinya sebagai penyerap dan penyimpan air akan terus memberikan jasa lingkungan yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Lebih dari itu, membantu Pemuda Kampung Sagea mengembangkan kampungnya lewat aktivitas-aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dan lestari.

Salam,
Koalisi Selamatkan Kampung Sagea (SEKA)

#SaveKarstSagea #SelamatkanKampungSagea #SaveBokimoruru

 

avatar of the starter
Aziz FPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Arifin Tasrif
Arifin Tasrif
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI
Eko Budi Lelono
Eko Budi Lelono
Kepala Badan Geologi
Abdul Gani Kasuba
Abdul Gani Kasuba
Gubernur Maluku Utara
Perkembangan terakhir petisi