Naikan Sungai Cikarang Gelam Diatas Irigasi Tarum Timur!

Masalahnya

CIKAMPEK DARURAT BANJIR!!!

Pada bulan februari 2021 Kecamatan Cikampek mengalami banjir sebanyak 3 kali, adapun banjir paling parah melanda warga Desa Dawuan Tengah yaitu perumahan Bumi Mutiara Indah (BMI), Kampung Pejaten dan Trojog. Serta ditemukan juga titik luapan air di Desa Cikampek Timur, Cikampek Selatan, Dawuan Timur dan Dawuan Barat hal ini di akibatkan oleh luapan sungai cikarang gelam ke rumah warga hingga jalan raya.

seakan menjadi agenda rutin kondisi ini terjadi setiap tahun bahkan dalam 5 tahun terakhir keadaannya semakin parah, di masa yang akan datang hal ini dapat mengakibatkan seluruh desa di kecamatan cikampek akan terkena imbas luapan air sungai cikarang gelam. Masalah banjir di cikampek menurut kami bukan sepenuhnya karna cuaca extream, namun karna ada penyumbatan sampah dan kerusakan di lubang sipon cikarang gelam. Hal tersebut akhirnya menyebabkan back pass air hingga akhirnya mengakibatkan luapan di sungai cikarang gelam dalam bentuk genangan air dan banjir, Bahkan jika banjir ini terus menerus terjadi bukan tidak mungkin akan terjadi gesekan sosial seperti di Jl. Jend. A. Yani tempo lalu, saat salah satu pihak ingin pembatas jalan untuk di hancurkan agar air di arah jalan cikampek-karawang bisa mengalir ke sisi jalan sebelahnya, perlu di perhatikan hal seperti ini sangat mungkin terjadi lagi dan bahkan bisa lebih luas efeknya.

Perlu di ketahui sungai cikarang gelam menanggung beban yang berat karna menjadi pusat pembungan air dari saluran pembungan air cikarang gelam (Desa Kamojing, Cikampek Pusaka, Cikampek Selatan, Cikampek Timur/pasar cikampek), saluran pembungan air karang tengah (Desa Cikampek Kota, Cikampek Barat dan Dawuan Timur) dan saluran pembungan air ciparage (Desa Dawuan Barat, Dawuan Tengah dan sebagian kawasan Indoteisei).

Dikarenakan derasnya air dari hulu sungai mengakibatkan semakin cepatnya pengendapan sedimen tanah dan tergerusya sepadan sungai, ada pula oknum yang menggunakan sepadan sungai untuk mendirikan bangunan. sedangkan fungsi sepadan sungai sangatlah penting untuk penyerapan air ke tanah dan yang lebih penting lagi masih kurangnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kondisi situ kamojing yang sudah tua (dibangun 1912) juga seharusnya sudah di lakukan pemugaran dan pembaharuan teknologi, dengan luas 62,765 hektar situ kamojing dilihat secara kasat mata hanya efektif menampung 14,356 Hektar +-. Sisanya 48 hektar+- malah dipakai oleh oknum untuk bercocok tanam pada saat musim kemarau ,walaupun memang betul saat air di situ kamojing naik lahan tersebut juga ikut terendam namun menurut kami dirasa tidak efektif karna elevasi tanahnya lebih tinggi dari yang 14 Hektar +- (daerah terdekat pintu timur). selain itu turap di depan pintu timur terjadi longsor dan jembatan di atas pintu timur sudah rapuh. hal ini bisa mengakibatkan Desa kamojing mengalami genangan air bahkan banjir, karna untuk membuka pintu air harus dilakukan di atas jembatan.

menurut kami sebaiknya pihak Pemda Kabupaten Karawang segera melakukan evaluasi terhadap perda tentang pengelolaan sampah, karena aturan tersebut belum hidup di masyarakat. Pihak Pemda Provinsi Jawa Barat juga perlu kiranya lebih bijak dalam penanganan banjir di cikampek, bukan hanya memerintahkan pihak desa membuat trash block di setiap perbatasan desa namun perlu juga melihat kondisi sosio-kultural dari warga cikampek karna sosialisasi dan realisasi untuk tidak membuang sampah sembarangan tidak dapat dilakukan dengan instan juga tidak dapat memakai jalur sangsi uang namun sebaiknya mengunakan sangsi sosial.

Hasil diskusi kami pun sangat mempertanyakan apakah ada dari pihak balai besar wilayah sungai (BBWS) citarum tentang rencana dan laporan tahunan sungai cikarang gelam ?, jika tidak ada apakah karena sungai cikarang gelam tidak memiliki nilai ekonomis yang besar maka tidak di jadikan prioritas!. Dan jika ada apa langkah strategis guna penuntasan banjir dari hulu ke hilir di cikampek?

Solusi jitu jangka panjang dari hasil diskusi kami Aliansi Warga Sipil (AWASI) Kota Cikampek terhadap banjir di cikampek adalah :

  1. Menaikan sungai cikarang gelam di atas irigasi tarum timur persis seperti kondisi sipon di Kec. Jatisari, Desa Balonggandu, dengan begitu tidak akan terjadi penumpukan sampah di sipon dan derasnya air akan langsung mengalir melawati Desa Dawuan Timur dan Desa Dawuan Barat.
  2. Kementerian PUPR dalam hal ini Dirjen Sumber Daya Air ataupun BBWS Citarum melakukan kajian mitigasi banjir berdasarkan hidrologi dan sosio-kultural, agar pemecahan banjir di cikampek bukan menjadi pemindahan banjir ke kec. tirtamulya dan sebaiknya pengerjaan pemindahan sipon ke irigasi tarum timur selaras dengan pembangungan situ atau embung di kecamatan tirtamulya.
  3. normalisasi sungai cikarang gelam sepanjang 9 KM+- (pintu air timur  situ kamojing hingga bagian depan Sipon), pembuatan sumur resapan di beberapa titik strategis, penanaman pohon di sepadan sungai, penertiban bangunan di sepadan sungai dan membuat cek dam atau tanggul penghambat guna mengendalikan sedimentasi dan mengatur kecepatan air.
  4. Meningkatkan pengawasan agar tidak ada oknum yang mengunakan area situ kamojing tanpa izin, memperdalam keseluruhan situ kamojing, segera memperbaiki jembatan dan turap di dekat area pintu air timur situ kamojing.
  5. Meningkatkan sosialiasai perihal bahaya buang sampah sembarangan sekaligus melibatkan masyarakat sipil untuk pengelolaan sampah. contohnya bank sampah

solusi jangka pendek selagi menunggu pemindahan sungai cikarang gelam di atas irigasi tarum timur adalah menyediakan pompa air besar dan atau membangun rumah pompa penyedot air seperti di jakarta guna mempercepat penyurutan air di daerah dekat sipon.

...........

Dari : Aliansi Warga Sipil (AWASI) Kota Cikampek

Fajar Saktiawan Nugraha

Perwakilan sementara untuk bebersih cikarang gelam dan advokasi korban banjir cikampek

avatar of the starter
AWASI Kota CikampekPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 541 pendukung

Masalahnya

CIKAMPEK DARURAT BANJIR!!!

Pada bulan februari 2021 Kecamatan Cikampek mengalami banjir sebanyak 3 kali, adapun banjir paling parah melanda warga Desa Dawuan Tengah yaitu perumahan Bumi Mutiara Indah (BMI), Kampung Pejaten dan Trojog. Serta ditemukan juga titik luapan air di Desa Cikampek Timur, Cikampek Selatan, Dawuan Timur dan Dawuan Barat hal ini di akibatkan oleh luapan sungai cikarang gelam ke rumah warga hingga jalan raya.

seakan menjadi agenda rutin kondisi ini terjadi setiap tahun bahkan dalam 5 tahun terakhir keadaannya semakin parah, di masa yang akan datang hal ini dapat mengakibatkan seluruh desa di kecamatan cikampek akan terkena imbas luapan air sungai cikarang gelam. Masalah banjir di cikampek menurut kami bukan sepenuhnya karna cuaca extream, namun karna ada penyumbatan sampah dan kerusakan di lubang sipon cikarang gelam. Hal tersebut akhirnya menyebabkan back pass air hingga akhirnya mengakibatkan luapan di sungai cikarang gelam dalam bentuk genangan air dan banjir, Bahkan jika banjir ini terus menerus terjadi bukan tidak mungkin akan terjadi gesekan sosial seperti di Jl. Jend. A. Yani tempo lalu, saat salah satu pihak ingin pembatas jalan untuk di hancurkan agar air di arah jalan cikampek-karawang bisa mengalir ke sisi jalan sebelahnya, perlu di perhatikan hal seperti ini sangat mungkin terjadi lagi dan bahkan bisa lebih luas efeknya.

Perlu di ketahui sungai cikarang gelam menanggung beban yang berat karna menjadi pusat pembungan air dari saluran pembungan air cikarang gelam (Desa Kamojing, Cikampek Pusaka, Cikampek Selatan, Cikampek Timur/pasar cikampek), saluran pembungan air karang tengah (Desa Cikampek Kota, Cikampek Barat dan Dawuan Timur) dan saluran pembungan air ciparage (Desa Dawuan Barat, Dawuan Tengah dan sebagian kawasan Indoteisei).

Dikarenakan derasnya air dari hulu sungai mengakibatkan semakin cepatnya pengendapan sedimen tanah dan tergerusya sepadan sungai, ada pula oknum yang menggunakan sepadan sungai untuk mendirikan bangunan. sedangkan fungsi sepadan sungai sangatlah penting untuk penyerapan air ke tanah dan yang lebih penting lagi masih kurangnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kondisi situ kamojing yang sudah tua (dibangun 1912) juga seharusnya sudah di lakukan pemugaran dan pembaharuan teknologi, dengan luas 62,765 hektar situ kamojing dilihat secara kasat mata hanya efektif menampung 14,356 Hektar +-. Sisanya 48 hektar+- malah dipakai oleh oknum untuk bercocok tanam pada saat musim kemarau ,walaupun memang betul saat air di situ kamojing naik lahan tersebut juga ikut terendam namun menurut kami dirasa tidak efektif karna elevasi tanahnya lebih tinggi dari yang 14 Hektar +- (daerah terdekat pintu timur). selain itu turap di depan pintu timur terjadi longsor dan jembatan di atas pintu timur sudah rapuh. hal ini bisa mengakibatkan Desa kamojing mengalami genangan air bahkan banjir, karna untuk membuka pintu air harus dilakukan di atas jembatan.

menurut kami sebaiknya pihak Pemda Kabupaten Karawang segera melakukan evaluasi terhadap perda tentang pengelolaan sampah, karena aturan tersebut belum hidup di masyarakat. Pihak Pemda Provinsi Jawa Barat juga perlu kiranya lebih bijak dalam penanganan banjir di cikampek, bukan hanya memerintahkan pihak desa membuat trash block di setiap perbatasan desa namun perlu juga melihat kondisi sosio-kultural dari warga cikampek karna sosialisasi dan realisasi untuk tidak membuang sampah sembarangan tidak dapat dilakukan dengan instan juga tidak dapat memakai jalur sangsi uang namun sebaiknya mengunakan sangsi sosial.

Hasil diskusi kami pun sangat mempertanyakan apakah ada dari pihak balai besar wilayah sungai (BBWS) citarum tentang rencana dan laporan tahunan sungai cikarang gelam ?, jika tidak ada apakah karena sungai cikarang gelam tidak memiliki nilai ekonomis yang besar maka tidak di jadikan prioritas!. Dan jika ada apa langkah strategis guna penuntasan banjir dari hulu ke hilir di cikampek?

Solusi jitu jangka panjang dari hasil diskusi kami Aliansi Warga Sipil (AWASI) Kota Cikampek terhadap banjir di cikampek adalah :

  1. Menaikan sungai cikarang gelam di atas irigasi tarum timur persis seperti kondisi sipon di Kec. Jatisari, Desa Balonggandu, dengan begitu tidak akan terjadi penumpukan sampah di sipon dan derasnya air akan langsung mengalir melawati Desa Dawuan Timur dan Desa Dawuan Barat.
  2. Kementerian PUPR dalam hal ini Dirjen Sumber Daya Air ataupun BBWS Citarum melakukan kajian mitigasi banjir berdasarkan hidrologi dan sosio-kultural, agar pemecahan banjir di cikampek bukan menjadi pemindahan banjir ke kec. tirtamulya dan sebaiknya pengerjaan pemindahan sipon ke irigasi tarum timur selaras dengan pembangungan situ atau embung di kecamatan tirtamulya.
  3. normalisasi sungai cikarang gelam sepanjang 9 KM+- (pintu air timur  situ kamojing hingga bagian depan Sipon), pembuatan sumur resapan di beberapa titik strategis, penanaman pohon di sepadan sungai, penertiban bangunan di sepadan sungai dan membuat cek dam atau tanggul penghambat guna mengendalikan sedimentasi dan mengatur kecepatan air.
  4. Meningkatkan pengawasan agar tidak ada oknum yang mengunakan area situ kamojing tanpa izin, memperdalam keseluruhan situ kamojing, segera memperbaiki jembatan dan turap di dekat area pintu air timur situ kamojing.
  5. Meningkatkan sosialiasai perihal bahaya buang sampah sembarangan sekaligus melibatkan masyarakat sipil untuk pengelolaan sampah. contohnya bank sampah

solusi jangka pendek selagi menunggu pemindahan sungai cikarang gelam di atas irigasi tarum timur adalah menyediakan pompa air besar dan atau membangun rumah pompa penyedot air seperti di jakarta guna mempercepat penyurutan air di daerah dekat sipon.

...........

Dari : Aliansi Warga Sipil (AWASI) Kota Cikampek

Fajar Saktiawan Nugraha

Perwakilan sementara untuk bebersih cikarang gelam dan advokasi korban banjir cikampek

avatar of the starter
AWASI Kota CikampekPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Basuki Hadimuljono
Basuki Hadimuljono
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum
Direktur Jenderal Sumber Daya Air
Direktur Jenderal Sumber Daya Air

Perkembangan Terakhir Petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 9 Maret 2021