

Wujudkan Kota Ramah Vegan untuk Jakarta dan Kota-Kota di Indonesia
Masalahnya
“Kita, kota-kota, tidak bisa hanya menunggu dan melihat apakah proposal [nasional] cukup ambisius. Masa depan perjuangan melawan perubahan iklim sedang dipertaruhkan di jalan-jalan dan alun-alun kita. Kita adalah tempat sebagian besar penduduk tinggal, orang-orang yang paling bertanggung jawab atas emisi gas rumah kaca, dan fokus utama inovasi. Jika kita ingin perubahan, kita harus mulai dengan mengubah diri kita sendiri. Itu hanya mungkin jika kita semua mengambil tanggung jawab bersama: warga negara, perusahaan, asosiasi, dan otoritas.”[1] (Seruan Walikota Barcelona, Ada Colau Ballano)
Mengapa KOTA RAMAH VEGAN?
Seruan Walikota Barcelona tersebut dilatarbelakangi oleh ancaman serius terkait perubahan iklim akibat pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan sangat lambatnya jalan yang ditempuh para pemimpin dunia untuk mengurangi emisi emisi gas rumah kaca. Terbukti, ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celcius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris pada 2015 telah terlampaui sejak Februari 2024 sebagaimana dicatat oleh the EU's Copernicus Climate Change Service.[2] Berdasarkan laporan yang ditulis oleh lebih dari 1000 ilmuwan pada 2023, Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan peringatan keras : “Kita sudah mendekati titik tanpa harapan!”.[3] Sebab Bumi sedang menuju pemanasan sekitar 3°C, tingkat pemanasan yang belum pernah dialami planet Bumi selama jutaan tahun.
Apa arti pemanasan global 3°C bagi kita? Ekosistem, masyarakat manusia, dan infrastruktur tidak bisa lagi beradaptasi dengan peningkatan suhu tersebut. Karena efek non-linier, dampaknya akan jauh lebih parah daripada hanya tiga kali lebih buruk setelah pemanasan 1°C. Risiko melewati titik kritis iklim dan biosfer yang menghancurkan dan tidak dapat diubah/dibalikkan akan semakin tinggi.[4] Dalam 30 tahun terakhir 28 triliun ton es di kutub mencair dan dunia kehilangan beragam spesies 1000 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jika pemanasan global tidak terkendali, diperkirakan populasi manusia akan berkurang hingga 75% akibat bencana, penyakit, kelaparan, dan kemiskinan.[5]
Perubahan iklim akibat pemanasan global bukanlah masalah masa depan. Sekarang ini di Indonesia dan di berbagai belahan dunia kita sudah melihat dan mengalami dampak negatifnya dalam bentuk bencana dahsyat yang semakin meningkat intensitasnya dan membawa banyak korban jiwa dan kehancuran: suhu udara yang semakin panas, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, badai siklon, gelombang panas yang kian mematikan, iklim yang tidak menentu, munculnya berbagai macam wabah penyakit, hilangnya beragam species, krisis pangan, kelaparan, dan lainnya.
Laporan yang disusun oleh Program Lingkungan PBB (UNEPP) menyatakan, dunia berada di jalur menuju pemanasan global dahsyat, sementara kebijakan pengurangan emisi gas rumah kaca saat ini sangat tidak memadai. [7] Padahal para ilmuwan sudah menyampaikan fakta bahwa industri peternakan adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.[8] Laporan PBB juga menegaskan bahwa pergeseran global menuju pola makan nabati sangat penting untuk menyelamatkan dunia.[9] Para peneliti di Departemen Zoologi dan Sekolah Geografi dan Lingkungan di Universitas Oxford, telah menemukan bahwa dengan mengurangi konsumsi produk hewani di seluruh dunia hingga setengahnya akan menyebabkan pengurangan emisi sebesar 73 persen.[10]
Mempertimbangkan hal tersebut, para pemimpin kota di dunia mengambil inisiatif mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mewujudkan KOTA RAMAH VEGAN. Kebijakan ini sangat strategis mengingat luasan kota mencakup 3%dari luas permukaan bumi tetapi dihuni oleh lebih dari 50 persen populasi bumi. Selain itu, 60 – 80 persen konsumsi energi global dan 75 persen emisi karbon dunia berasal dari kota, sehingga kota menjadi tempat di mana rencana iklim dan langkah-langkah penghijauan memiliki dampak paling besar.[11]
Apa Tujuan dan Bagaimana Mewujudkannya?
Kebijakan “Kota Ramah Vegan” ditujukan untuk (1) mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan; (2) meningkatkan kesehatan publik melalui pola makan berbasis nabati; (3) mendorong pertumbuhan ekonomi hijau melalui pengembangan industri pangan nabati, inovasi bisnis, dan UMKM ramah vegan; (4) memperkuat etika dan kesejahteraan hewan dalam sistem kota.
Pemerintah nasional, pemerintah provinsi – khususnya Pemprov DKI, dan pemerintah kota dapat mewujudkan kota ramah vegan, di antaranya melalui kebijakan/program : (1) penyediaan menu makanan berbasis nabati (vegan/vegetarian) untuk katering APBD (rapat, acara, workshop, dan lainnya) di lingkungan perkantoran pemerintah; (2) penyediaan makanan berbasis nabati (vegan/vegetarian) di kantin sekolah, di kantin kantor-kantor pemerintah dan swasta, kantin rumah sakit, penyediaan menu nabati untuk pasien di rumah sakit, dan lainnya; (3) penyediaan menu makanan nabati (vegan/vegetarian) di restoran-restoran di wilayah kota atau provinsi; (4) mendorong bisnis ritel (supermarket) atau UMKM untuk memperluas penyediaan bahan pangan nabati (vegan/vegetarian); (5) pemberian insentif, misalnya dalam bentuk green business recognition, pengurangan pajak, atau subsidi untuk penyediaan pangan nabati murah dan sehat bagi para pelaku usaha kuliner/resto yang full vegan/vegetarian, yang menyediakan menu vegan/vegetarian, resto yang menjual bahan pangan/protein nabati, dan produsen yang melakukan inovasi dan memproduksi bahan pangan berbasis nabati; (6) pengurangan konsumsi produk hewani, misalnya dengan program/kebijakan “sehari tanpa daging” atau “satu bulan tanpa daging”, dan lainnya; (7) penyelenggaraan festival vegan secara rutin setiap tahun dengan melibatkan restoran-restoran, produsen pangan nabati, komunitas petani, komunitas vegan, dan lainnya. Festival vegan bisa dilakukan, misalnya pada “Hari Bumi” di bulan April atau pada “Hari vegan internasional” di bulan Nopember; (8) mengembangkan rantai pasok pangan nabati lewat petani lokal, kebun warga/komunitas, dan dukungan pengembangan inovasi untuk produksi protein nabati dengan melibatkan universitas dan sektor swasta. Jakarta pernah sukses dalam hal pengembangan kampung-kampung hijau, yang memproduksi sayuran sendiri; (9) pengurangan limbah makanan dengan inovasi yang sudah banyak diterapkan di komunitas-komunitas di berbagai kota, yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung pertanian kota atau kebun-kebun komunitas. Jakarta sendiri sudah memiliki beberapa edukator terkait penerapan inovasi tersebut; (10) edukasi tentang pengurangan emisi gas rumahkaca dengan konsumsi pangan nabati di sekolah-sekolah, komunitas, layanan kesehatan, dan melalui media. Di Jakarta sudah ada sekolah-sekolah yang mengajarkan pola makan berbasis nabati dan memberikan ketrampilan dalam hal pembuatan protein nabati. Praktik baik macam ini patut diperluas di sekolah-sekolah lain.
Sejalan dengan Komitmen Pemerintah
Pada COP26 Glasgow (2021), pemerintah Indonesia menyatakan target untuk mencapai net-zero emission pada 2060 atau lebih cepat, serta memperkuat sistem pangan berkelanjutan yang rendah emisi. Komitmen ini ditegaskan kembali dalam Nationally Determined Contribution (NDC) 2022 Update yang menekankan pentingnya transformasi sektor pangan dan konsumsi hijau sebagai bagian dari strategi iklim nasional. Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, membuka ruang bagi sektor pangan rendah karbon dan konsumsi hijau; Dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) mengakui peran sektor pertanian dan konsumsi masyarakat dalam mitigasi iklim.
Di level provinsi, DKI Jakarta sendiri telah memiliki Peraturan Gubernur No. 90 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah yang Berketahanan Iklim. Aturan ini menegaskan arah kebijakan pembangunan kota Jakarta rendah karbon yang mencakup kegiatan mitigasi (untuk mengurangi produksi dan memperbesar serapan emisi gas rumah kaca) dan adaptasi perubahan iklim (untuk mengurangi tingkat kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim), yang memberi ruang bagi peran serta masyarakat.
Akhir kata, kota ramah vegan adalah masa depan. Jadi tunggu apalagi? Sudah Saatnya Pemerintah Nasional, Pemerintah Provinsi DKI, dan Pemerintah Kota di Indonesia mewujudkannya.
Jakarta 28 Oktober 2026, jelang peringatan Hari Vegan Internasional 1 Nopember
Sri Palupi
Peneliti the Institute for Ecosoc Rights, praktisi vegan, dan anggota Vegan Squad Indonesia
[1] https://www.sempergreen.com/en/about-us/news/10-of-the-best-sustainable-city-plans-in-the-world
[2] https://www.bbc.com/future/article/20231130-climate-crisis-the-15c-global-warming-threshold-explained
[3] https://www.dw.com/id/pbb-rilis-laporan-solusi-atasi-krisis-iklim-terbaru/a-65045065
[4] https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-031-58144-1_1
[5] https://lestari.kompas.com/read/2023/06/19/100000386/16-dampak-pemanasan-global-terhadap-dunia?page=all
[6] https://www.jpl.nasa.gov/news/nasa-funded-studies-explain-how-climate-is-changing-earths-rotation/ Sumber berikut dapat melengkapi penjelasan tentang pergeseran kutub bumi dan melemahnya perlindungan bumi: https://www.youtube.com/watch?v=mFD0ITh0AcY dan https://www.livescience.com/18426-earth-magnetic-poles-flip.html; https://www.facebook.com/chen.nicholas.391/videos/546408045149682/?rdid=mMJDzJ99WKzArTR3
[7] https://betahita.id/news/detail/9542/peringatan-pbb-jelang-cop-28-dunia-menuju-pemanasan-iklim-3-c.html?v=1701005604
[8] https://nationalgeographic.grid.id/read/134233525/peternakan-jadi-penyumbang-terbesar-emisi-gas-rumah-kaca-dari-sektor-pangan?page=all#:~:text=Peternakan%20Jadi%20Penyumbang%20Terbesar%20Emisi,Pangan%20%2D%20Semua%20Halaman%20%2D%20National%20Geographic
[9] https://www.theguardian.com/environment/2010/jun/02/un-report-meat-free-diet
[10] https://www.thejakartapost.com/life/2018/06/18/help-save-the-planet-by-going-vegan-study-says.html
[11] https://www.sempergreen.com/en/about-us/news/10-of-the-best-sustainable-city-plans-in-the-world

107
Masalahnya
“Kita, kota-kota, tidak bisa hanya menunggu dan melihat apakah proposal [nasional] cukup ambisius. Masa depan perjuangan melawan perubahan iklim sedang dipertaruhkan di jalan-jalan dan alun-alun kita. Kita adalah tempat sebagian besar penduduk tinggal, orang-orang yang paling bertanggung jawab atas emisi gas rumah kaca, dan fokus utama inovasi. Jika kita ingin perubahan, kita harus mulai dengan mengubah diri kita sendiri. Itu hanya mungkin jika kita semua mengambil tanggung jawab bersama: warga negara, perusahaan, asosiasi, dan otoritas.”[1] (Seruan Walikota Barcelona, Ada Colau Ballano)
Mengapa KOTA RAMAH VEGAN?
Seruan Walikota Barcelona tersebut dilatarbelakangi oleh ancaman serius terkait perubahan iklim akibat pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan sangat lambatnya jalan yang ditempuh para pemimpin dunia untuk mengurangi emisi emisi gas rumah kaca. Terbukti, ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celcius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris pada 2015 telah terlampaui sejak Februari 2024 sebagaimana dicatat oleh the EU's Copernicus Climate Change Service.[2] Berdasarkan laporan yang ditulis oleh lebih dari 1000 ilmuwan pada 2023, Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan peringatan keras : “Kita sudah mendekati titik tanpa harapan!”.[3] Sebab Bumi sedang menuju pemanasan sekitar 3°C, tingkat pemanasan yang belum pernah dialami planet Bumi selama jutaan tahun.
Apa arti pemanasan global 3°C bagi kita? Ekosistem, masyarakat manusia, dan infrastruktur tidak bisa lagi beradaptasi dengan peningkatan suhu tersebut. Karena efek non-linier, dampaknya akan jauh lebih parah daripada hanya tiga kali lebih buruk setelah pemanasan 1°C. Risiko melewati titik kritis iklim dan biosfer yang menghancurkan dan tidak dapat diubah/dibalikkan akan semakin tinggi.[4] Dalam 30 tahun terakhir 28 triliun ton es di kutub mencair dan dunia kehilangan beragam spesies 1000 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jika pemanasan global tidak terkendali, diperkirakan populasi manusia akan berkurang hingga 75% akibat bencana, penyakit, kelaparan, dan kemiskinan.[5]
Perubahan iklim akibat pemanasan global bukanlah masalah masa depan. Sekarang ini di Indonesia dan di berbagai belahan dunia kita sudah melihat dan mengalami dampak negatifnya dalam bentuk bencana dahsyat yang semakin meningkat intensitasnya dan membawa banyak korban jiwa dan kehancuran: suhu udara yang semakin panas, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, badai siklon, gelombang panas yang kian mematikan, iklim yang tidak menentu, munculnya berbagai macam wabah penyakit, hilangnya beragam species, krisis pangan, kelaparan, dan lainnya.
Laporan yang disusun oleh Program Lingkungan PBB (UNEPP) menyatakan, dunia berada di jalur menuju pemanasan global dahsyat, sementara kebijakan pengurangan emisi gas rumah kaca saat ini sangat tidak memadai. [7] Padahal para ilmuwan sudah menyampaikan fakta bahwa industri peternakan adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.[8] Laporan PBB juga menegaskan bahwa pergeseran global menuju pola makan nabati sangat penting untuk menyelamatkan dunia.[9] Para peneliti di Departemen Zoologi dan Sekolah Geografi dan Lingkungan di Universitas Oxford, telah menemukan bahwa dengan mengurangi konsumsi produk hewani di seluruh dunia hingga setengahnya akan menyebabkan pengurangan emisi sebesar 73 persen.[10]
Mempertimbangkan hal tersebut, para pemimpin kota di dunia mengambil inisiatif mengurangi emisi gas rumah kaca dengan mewujudkan KOTA RAMAH VEGAN. Kebijakan ini sangat strategis mengingat luasan kota mencakup 3%dari luas permukaan bumi tetapi dihuni oleh lebih dari 50 persen populasi bumi. Selain itu, 60 – 80 persen konsumsi energi global dan 75 persen emisi karbon dunia berasal dari kota, sehingga kota menjadi tempat di mana rencana iklim dan langkah-langkah penghijauan memiliki dampak paling besar.[11]
Apa Tujuan dan Bagaimana Mewujudkannya?
Kebijakan “Kota Ramah Vegan” ditujukan untuk (1) mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan; (2) meningkatkan kesehatan publik melalui pola makan berbasis nabati; (3) mendorong pertumbuhan ekonomi hijau melalui pengembangan industri pangan nabati, inovasi bisnis, dan UMKM ramah vegan; (4) memperkuat etika dan kesejahteraan hewan dalam sistem kota.
Pemerintah nasional, pemerintah provinsi – khususnya Pemprov DKI, dan pemerintah kota dapat mewujudkan kota ramah vegan, di antaranya melalui kebijakan/program : (1) penyediaan menu makanan berbasis nabati (vegan/vegetarian) untuk katering APBD (rapat, acara, workshop, dan lainnya) di lingkungan perkantoran pemerintah; (2) penyediaan makanan berbasis nabati (vegan/vegetarian) di kantin sekolah, di kantin kantor-kantor pemerintah dan swasta, kantin rumah sakit, penyediaan menu nabati untuk pasien di rumah sakit, dan lainnya; (3) penyediaan menu makanan nabati (vegan/vegetarian) di restoran-restoran di wilayah kota atau provinsi; (4) mendorong bisnis ritel (supermarket) atau UMKM untuk memperluas penyediaan bahan pangan nabati (vegan/vegetarian); (5) pemberian insentif, misalnya dalam bentuk green business recognition, pengurangan pajak, atau subsidi untuk penyediaan pangan nabati murah dan sehat bagi para pelaku usaha kuliner/resto yang full vegan/vegetarian, yang menyediakan menu vegan/vegetarian, resto yang menjual bahan pangan/protein nabati, dan produsen yang melakukan inovasi dan memproduksi bahan pangan berbasis nabati; (6) pengurangan konsumsi produk hewani, misalnya dengan program/kebijakan “sehari tanpa daging” atau “satu bulan tanpa daging”, dan lainnya; (7) penyelenggaraan festival vegan secara rutin setiap tahun dengan melibatkan restoran-restoran, produsen pangan nabati, komunitas petani, komunitas vegan, dan lainnya. Festival vegan bisa dilakukan, misalnya pada “Hari Bumi” di bulan April atau pada “Hari vegan internasional” di bulan Nopember; (8) mengembangkan rantai pasok pangan nabati lewat petani lokal, kebun warga/komunitas, dan dukungan pengembangan inovasi untuk produksi protein nabati dengan melibatkan universitas dan sektor swasta. Jakarta pernah sukses dalam hal pengembangan kampung-kampung hijau, yang memproduksi sayuran sendiri; (9) pengurangan limbah makanan dengan inovasi yang sudah banyak diterapkan di komunitas-komunitas di berbagai kota, yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung pertanian kota atau kebun-kebun komunitas. Jakarta sendiri sudah memiliki beberapa edukator terkait penerapan inovasi tersebut; (10) edukasi tentang pengurangan emisi gas rumahkaca dengan konsumsi pangan nabati di sekolah-sekolah, komunitas, layanan kesehatan, dan melalui media. Di Jakarta sudah ada sekolah-sekolah yang mengajarkan pola makan berbasis nabati dan memberikan ketrampilan dalam hal pembuatan protein nabati. Praktik baik macam ini patut diperluas di sekolah-sekolah lain.
Sejalan dengan Komitmen Pemerintah
Pada COP26 Glasgow (2021), pemerintah Indonesia menyatakan target untuk mencapai net-zero emission pada 2060 atau lebih cepat, serta memperkuat sistem pangan berkelanjutan yang rendah emisi. Komitmen ini ditegaskan kembali dalam Nationally Determined Contribution (NDC) 2022 Update yang menekankan pentingnya transformasi sektor pangan dan konsumsi hijau sebagai bagian dari strategi iklim nasional. Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, membuka ruang bagi sektor pangan rendah karbon dan konsumsi hijau; Dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) mengakui peran sektor pertanian dan konsumsi masyarakat dalam mitigasi iklim.
Di level provinsi, DKI Jakarta sendiri telah memiliki Peraturan Gubernur No. 90 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah yang Berketahanan Iklim. Aturan ini menegaskan arah kebijakan pembangunan kota Jakarta rendah karbon yang mencakup kegiatan mitigasi (untuk mengurangi produksi dan memperbesar serapan emisi gas rumah kaca) dan adaptasi perubahan iklim (untuk mengurangi tingkat kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim), yang memberi ruang bagi peran serta masyarakat.
Akhir kata, kota ramah vegan adalah masa depan. Jadi tunggu apalagi? Sudah Saatnya Pemerintah Nasional, Pemerintah Provinsi DKI, dan Pemerintah Kota di Indonesia mewujudkannya.
Jakarta 28 Oktober 2026, jelang peringatan Hari Vegan Internasional 1 Nopember
Sri Palupi
Peneliti the Institute for Ecosoc Rights, praktisi vegan, dan anggota Vegan Squad Indonesia
[1] https://www.sempergreen.com/en/about-us/news/10-of-the-best-sustainable-city-plans-in-the-world
[2] https://www.bbc.com/future/article/20231130-climate-crisis-the-15c-global-warming-threshold-explained
[3] https://www.dw.com/id/pbb-rilis-laporan-solusi-atasi-krisis-iklim-terbaru/a-65045065
[4] https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-031-58144-1_1
[5] https://lestari.kompas.com/read/2023/06/19/100000386/16-dampak-pemanasan-global-terhadap-dunia?page=all
[6] https://www.jpl.nasa.gov/news/nasa-funded-studies-explain-how-climate-is-changing-earths-rotation/ Sumber berikut dapat melengkapi penjelasan tentang pergeseran kutub bumi dan melemahnya perlindungan bumi: https://www.youtube.com/watch?v=mFD0ITh0AcY dan https://www.livescience.com/18426-earth-magnetic-poles-flip.html; https://www.facebook.com/chen.nicholas.391/videos/546408045149682/?rdid=mMJDzJ99WKzArTR3
[7] https://betahita.id/news/detail/9542/peringatan-pbb-jelang-cop-28-dunia-menuju-pemanasan-iklim-3-c.html?v=1701005604
[8] https://nationalgeographic.grid.id/read/134233525/peternakan-jadi-penyumbang-terbesar-emisi-gas-rumah-kaca-dari-sektor-pangan?page=all#:~:text=Peternakan%20Jadi%20Penyumbang%20Terbesar%20Emisi,Pangan%20%2D%20Semua%20Halaman%20%2D%20National%20Geographic
[9] https://www.theguardian.com/environment/2010/jun/02/un-report-meat-free-diet
[10] https://www.thejakartapost.com/life/2018/06/18/help-save-the-planet-by-going-vegan-study-says.html
[11] https://www.sempergreen.com/en/about-us/news/10-of-the-best-sustainable-city-plans-in-the-world

Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 28 Oktober 2026