Beri sekolah kuota perwakilan lebih banyak untuk seleksi OSN tingkat kabupaten/kota

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Dalam Juklak OSN SMP 2019 Bab III Mekanisme Penyelenggaraan bagian B Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota poin (2) tertulis "Setiap sekolah mengirimkan 1 (satu) peserta lomba untuk setiap bidang lomba dar hasil seleksi tingkat sekolah" dan poin (3) tertulis "Jika sekolah mengirimkan lebih dari 1 (satu) peserta per bidang lomba, maka semua peserta yang dikirimkan sekolah untuk bidang lomba tersebut akan didiskualfikasi"

Ketentuan di atas sangat membatasi kesempatan dan peluang banyak siswa potensial di suatu sekolah untuk mencoba dan mengukir prestasi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN).  Sebagaimana diketahui bahwa OSN (SD, SMP dan SMA) adalah satu-satunya kompetisi sains yang resmi diadakan oleh pemerintah melalui Kemdikbud dan sudah pasti menjadi impian dan incaran setiap siswa untuk berpartisipasi dan berprestasi di ajang ini. 

Untuk berpartisipasi di ajang OSN peserta harus melalui tahapan seleksi yang dimulai dari seleksi tingkat kabupaten/kota (OSK) kemudian dilanjutkan seleksi tingkat provinsi (OSP). Barulah pemenang yang terseleks dari tingkat provinsi inilah yang akan berlaga di OSN berkompetisi dengan siswa dari seluruh Indonesia wakll dari provinsi masing-masing.

Untuk jenjang SMP, seleksi di tingkat kab/kota inilah yang dirasakan ganjalan bagi banyak sekolah terutama siswanya. Karena sebagaimana tertuang dalam Juknis OSN SMP 2019 seperti ditulis di atas, sekolah dibatasi hanya boleh mengirmkan 1 (satu) wakil per bidang studi yang dilombakan untuk mengikuti OSK. Jenjang SMP, OSN melombakan bidang Matematika, IPA dan IPS.  Pembatasan ini berimplikasi menutup kesempatan bagi banyak siswa potensial di banyak sekolah yang mungkin memiliki kemampuan dan keunggulan tersendiri.  Sekolah akan bingung menentukan pilihan terbaik apabila memiliki banyak siswa potensial dan unggul yang kemampuannya hampir sama. Sehingga boleh jadi bukan siswa terbaik yang terplih apabila salah dalam strategi dan metode seleksi.  Selain itu boleh jadi siswa yang tdak terplih di suatu sekolah ternyata lebih baik serta mampu bersaing dan unggul dibandingkan utusan sekolah lain jika diberikan kesempatan yang sama. Maka hal ini berarti kerugian bagi kota karena wakil yang diperoleh dari seleksi bukan yang terbaik.

Disamping itu patut pula mempertimbangkan dan mengapresiasi antusias para siswa dan dukungan orangtua siswa dalam mempersiapkan diri mereka untuk mengikuti kompetisi OSN ini.  Banyak siswa yang telah mengikuti pembinaan reguler dan intensif dalam rangka persiapannya, yang itu dengan biaya yang tidak sedikit.  Betapa kecewanya mereka ketika tidak mendapatkan kesempatan berkompetisi meski baru di tingkat awal yaitu tingkat kabupaten/kota.

Oleh karena itu kami menyeru kepada Subdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Dikdasmen Kemdikbud RI sebagai penyelenggara OSN SMP agar mengubah regulasi sebagaimana tertuang dalam Juknis OSN SMP 2019 sehingga tidak menetapkan batasan bahwa sekolah hanya boleh mengirimkan 1 (satu) peserta per bidang studi.  Kembalikan kepada regulasi 2 (dua) tahun sebelumnya yang memberi kesempatan sekolah mengirimkan 3 (tiga) peserta per bidang studi seperti yang dilakukan pada OSK jenjang SMA dan SD. Tidak ada ruginya memberi kesempatan dan peluang lebih besar kepada peserta didik untuk berkompetisi dan mengaktualisasikan diri.  Justru akan menjaga kualitas kompetisi itu sendiri.