Tolak Penurunan Status Cagar Alam Dan Cagar Alam Laut Gunung Anak Krakatau

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Menanggapi usulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung yang mengusulkan untuk menjadikan sebagian dari cagar alam Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda sebagai taman wisata alam. Selama ini, kawasan GAK sebagai cagar alam bukan tempat wisata. Untuk mewujudkan hal itu terungkap dalam Seminar Internasional dengan tema “Vulkanologi Krakatau dan Pemanfaatannya Dimasa Depan” sebagai forum ilmiah dalam menggali dan menyerap gagasan untuk memanfaatkan GAK di masa datang.

 

Adapun berita acara seminar internasional tersebut, yaitu:

Berita acara hasil kajian seminar internasional vulkanologi Krakatau dan pemanfaatan dimasa depan yang dilaksanakan pada hari jum’at 24-08-2018 di Ballrom bukit randu lampung serta usulan pemerintah provinsi lampung. Dalam seminar internasional tersebut dibuka langsung oleh Setda Provinsi lampung Bpk. Heri Sulistyo, dengan narasumber dari ilmu pengetahuan Indonesia Bpk. Prof.Dr. Tukirin Partomihardjo, Bpk. Ir. Igan S. SutawidjayaM.Sc, dan Bpk. Dr. Eng. Mirzam Abdurracman, ST.,MT serta pihak-pihak yang berwenang yang telah menyepakati dan menandatangani hasil kajian seminar internasional vulkanologi Krakatau dan pemanfaatan dimasa depan, yaitu:

  1. Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kanwil Bengkulu-Lampung, (Teguh Ismail, S.Hut.,M.A.,M.eng.)
  2. Kementrian Pariwisata, Kepela Bidang Destinasi Area IV Deputi Destinasi Pariwisata (Hendri Karnoza)
  3. Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung (Drs. Budiharto HN)
  4. Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kab. Lampung Selatan, Kepela Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kab. Lampung Selatan (Yuda Sukmarina)
  5. Institut Teknologi Sumatra, (Dhani Gathot Harbowo,M.T.)

 

Dalam seminar internasional tersebut didapat permasalahan dan rencana tindak lanjut, sebagai berikut:

  • Setatus cagar alam laut pada Krakatau berdampak pada jenis dan aktivitas wisatawan dalam hal ini berdampak pada social ekonomi masyarakat sekitar
  • Menurunkan cagar alam menjadi taman wisata alam atau memformulasikan rencana pengelolaan cagar alam laut Krakatau sehingga dapat lebih dimanfaatkan sebagai destinasi pariwisata.
  • Minimnya/terbatasnya sarana penunjang pariwis ata dikawasan cagar alam Krakatau
  • Pengelolaan sebagai geopark ataupun destinasi wisata edukasi yang eklusif mengingat tingginya minat wisatawan untuk berkunjung kekawasan tersebut
  • Belum ada formula yang tepat untuk mengelola/memanfaatkan potensi alam dikawasan cagar alam gunung anak Krakatau. Bagaimana memanfaatkan lahan tanpa mengorbankan lingkungan dan kenyataannya sudah banyak wisatawan yang berkunjung secara illegal.
  • Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan melalui balai konservasi sumber daya alam untuk mengoptimalkan keberadaan cagar alam Krakatau melalui sinergitas, kerjasama yang baik, dan kompak anatar pelaku dan pemerintah untuk dijadikan sebagai destinasi wisata unggulan nasional.

 

Terhadap hal tersebut diatas, kami penggiat lingkungan untuk keadilan sumber daya alam dan sosial, berpendapat bahwa :

  1. Gunung Anak Krakatau adalah Gugusan Kepulauan yang terjadi karena proses alam, terbentuk karena dorongan vulkanik dari dasar laut. Gunung yang saat ini kira-kira setinggi 350 meter di atas permukaan laut ini menjadi destinasi favorit bagi para wisatawan, baik dalam atau luar negeri. Karena asal-usul pembentukan, lokasi dan habitatnya, maka oleh pemerintah Indonesia berdasarkan keputusan mentri kehutanan RI nomor: 85/kpts-II/1990, 7 november 1990. Gunung Anak Krakatau dijadikan kawasan cagar alam bagian dari kawasan konservasi yang harus dilindungi yaitu, cagar alam laut pulau anak Krakatau, lampung selatan, lampung, dengan luas 13.735,10 Ha. Kawasan ini terbuka untuk para ilmuwan dan peneliti, tapi tidak untuk kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersil. Bukan hanya itu, pada tahun 1991, Badan Dunia dibawah Naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (United Nation Educatuon, Sciencetific and Cultural Organization/UNESCO) mengakui Cagar Alam Krakatau sebagai situs warisan dunia/World Heritage Site.
  2. Pada hakikatnya berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dengan jelas menyatakan bahwa kawasan cagar alam bukan peruntukan sebagai tempat wisata. Dan dalam pasal 1 angka 10 undang-undang no 5 tahun 1990, disebutkan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Mengingat cagar alam Krakatau adalah satu-satunya kawasan cagar alam yang ada dilampung yang memiliki kekhasan tersendiri dan harus dilindungi.
  3. Membahas tentang permasalahan yang didapat dalam seminar pada poin pertama, yaitu: Status cagar alam laut pada Krakatau berdampak pada jenis dan aktivitas wisatawan dalam hal ini berdampak pada social ekonomi masyarakat sekitar. Menurunkan setatus bukan solusi yang tepat karena, kondisi saat ini dengan setatus kawasan cagar alam yang seharusnya untuk keperluan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan penunjang budidaya namun pada kenyataanya masih banyaknya wisatawan yang berkunjung hanya dengan tujuan wisata, selain itu juga beberapa tahun terakhir juga ada yang melakukan penambangan penambangan pasir. Dan bagaimana bila setatus diturunkan menjadi wisata alam, dampaknya pasti menjadi luar biasa kerusakan pasti tak terhindarkan dan keutuhan cagar alam tersebut akan hilang.
  4. Menurukan setatus cagar alam gunung anak Krakatau maka menghapus situs warisan dunia yang sudah diakui oleh UNESCO pada tahun 1991. Meski pemerintah provinsi lampung dalam usulanya hanya sebagian yang dijadikan taman wisata alam namun hasil dari seminar internasional tersebut tidak ada kata yang menyebutkan sebagian bahkan dalam rencana tindak lanjut mnyebutkan: menurunkan setatus cagar alam menjadi taman wisata alam.
  5. Hampir setiap minggu (pada akhir pecan) Gunung Anak Krakatau selalu dikunjungi wisatawan dengan jumlah wisatawan antara 30 – 50 orang. Dan hal tersebut perlu kita pertanayakan bagaimana ketaaatan prosedur dalam memperoleh Surat Izin masuk kawasan Konservasi (SIMAKSI) Gunung Anak Krakatau, karena bisa kita pastikan bahwa yang berkunjung ke Gunung Anak Krakatau setiap akhir pecan bukanlah orang yang akan melakukan kegiatan penelitian dana tau mendukung ilmu pengetahuan, melainkan hanya untuk berwisata dan hal ini juga bias kita liat bagaimana maraknya agen perjalanan wisata menjual paket wisata ke Gunung Anak Krakatau.
  6. Bahwa pada tahun 2009 telah terjadi penambangan pasiur besi dengan dalih Mitigasi Bencana oleh PT Asco Unggul Pratama (AUP), kemudian pada tahun 2014 hal yang sama juga terjadi, bahwa telah terjadi penambangan pasir besi di Gunung Anak Krakatau dengan dalih mitigasi bencana oleh PT Energy Vulcano Alam Lampung (EVAL). Perlu kita ketahui bersama bahwa PT AUP dan PT EVAL merupakan perusahaan dengan pemilik yang sama, ayitu perusahaan yang dimpimpin oleh saudara Suharsono yang mana telah ditetapkan sebagai tersangka atas penambangan illegal pasir di Gunung Anak Krakatau dan telah menjalani masa hukuman sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang dengan Nomor Perkara 739/Pid.B/2015/PN Tjk dan tanggal putusan 2 November 2015 dan diputuskan hukuman Pidana Penjara Waktu Tertentu (6 Bulan 20 Hari), Pidana Denda Rp.5.000.000,00 Subsider Kurungan (1 Bulan ).
  7. Pada tahun 2015 PT LIP telah menerima izin untuk pemanfaatan pertambangan di wilayah Pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah pertambangan tersebut juga dimasukkan di dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Lampung tahun 2017 yang terbagi dalam dua titik lokasi. Titik lokasi pertama dengan kode zona TP 14 seluas 3529,36 Hektare dan Kode Zona TP 15 memiliki luas 4077,29 Hektare.
  8. Titik lokasi pertambangan tersebut memang berada diluar kawasan Konservasi Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Gunung Anak Krakatau, namun ancaman terhadap keberadaan Gunung Anak Krakatau dan Keamannnya dari pencurian pasir besi tidak ada yang dapat menjaminnya dan melakukan pengawasan setiap saat apabila pertambangan tersebut tetap dilanjutkan, serta masyarakat sekitar yang bermukim di Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan juga dengan tegas dan Konsisten menolak segal bentuk pertambangan di wilayah Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau.
  9. Berbahaya wisata dicagar alam gunung anak Krakatau, berdasarkan :
  • Pernyataan dari Badan Geologi “G. Anak Krakatau adalah gunung api strato tipe A dan merupakan gunung api muda yang muncul dalam kaldera 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau. Aktivitas erupsi dimulai sejak tahun 1927 – saat ini dengan letusan abu dan aliran lava (erupsi tipe strombolian)”. Radius 0 – 2 Km Sering terlanda aliran lava, gas beracun, aliran awan panas, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat, radius 2 – 5 Km berpotensi terlanda aliran lava, kemungkinan aliran awan panas, kemungkinan lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat, radius 5 – 8 Km berpotensi hujan abu dan kemungkinan lontaran batu (pijar).
  • Pernyataan dari LIPI “Merupakan kawasan gunung api yang sangat aktif, letusan tidak bisa diprediksi, interval letusan sangat tidak menentu, tidak ada sarana transportasi umum, tidak tersedia cukup sumber air tawar, kunjungan perlu dibatasi, selain berbahaya juga mengganggu proses suksesi (darat dan laut), tanah pasir dengan batuan lepas dan mudah longsor sangat berbahaya bagi pengunjung biasa”.

Dari 2 pernyataan diatas kita dapat mengambil beberapa kesimpulan gunung anak Krakatau merupakan gunung berapi yang sangat aktif sampai saat ini, jarak 0 – 2 Km dari pusat gunung anak Krakatau merupakan area yang paling banyak resiko bahaya yang ditimbulkan jika gunung anak Krakatau meletus, waktu terjadinya letusan tidak dapat diprediksi, tidak ada sarana transportasi umum yang mampu membawa pengunjung secara cepat ketika terjadi letusan, kegiatan kunjungan mengganggu proses suksesi alam. Dengan kata lain gunung anak Krakatau merupakan tempat yang BERBAHAYA untuk dikunjungi.

 

Hal-hal tersebut diatas menjadi landasan kami elemen masyarakat yang memiliki komitmen dan perhatian khusus terhadap  cagar alam dan cagar alam laut Gunung anak Krakatau sebagai situs warisan dunia bagi keberlangsungan pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, kami penggiat lingkungan untuk keadilan sumber daya alam dan sosial, meminta kepada Institusi (Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Lampung) terkait dengan usulan penurunan status cagar alam dan cagar alam laut Gunung Anak Krakatau menjadi taman wisata alam tersebut kami penggiat lingkungan untuk keadilan sumber daya alam dan sosial menyatakan bahwa:

  1. Menolak penurunan status cagar alam laut pulau Krakatau menjadi taman wisata alam oleh Pemerintah Provinsi Lampung berdasarkan Berita acara hasil kajian seminar internasional vulkanologi Krakatau dan pemanfaatan dimasa depan yang dilaksanakan pada hari jum’at 24 Agustus 2018 di Ballrom Hotel Bukit Randu Lampung.
  2. Mendesak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk tidak menerbitkan izin penurunan status cagar alam dan Cagar ALam Laut Gunung Anak  Krakatau menjadi Taman Wisata Alam oleh Pemerintah Provinsi Lampung.
  3. Meminta kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk melakukan audit kepatuhan dan evaluasi kinerja terhadap Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDA) Bengkulu – Lampung hingga ke level tapak agar dikemudian hari tidak lagi terjadi Wisata Liar di Gunung Anak Krakatau.

 Demikian pernyataan sikap ini kami keluarkan sebagai bentuk penolakan dari elemen masyarakat yang memiliki komitmen dan perhatian khusus terhadap cagar alam dan cagar alam laut Gunung Anak Krakatau sebagai situs warisan dunia bagi keberlangsungan pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

Bandar Lampung, 24 September 2018



Hari ini: Walhi Lampung mengandalkanmu

Walhi Lampung membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Siti Nurbaya Bakar: Tolak Penurunan Status Cagar Alam Dan Cagar Alam Laut Gunung Anak Krakatau". Bergabunglah dengan Walhi Lampung dan 97 pendukung lainnya hari ini.