

Assalamualaikum, Wr. Wb. Suba Mew. Tabea.
Akhir-akhir ini aliran Sungai Sagea mengalami perubahan warna. Aliran sungai Sagea mendadak keruh berwarna kuning. Meski sering keruh ketika terjadi hujan lebat, secara visual kekeruhan seperti saat ini berbeda dari sebelum-sebelumnya dan lebih mirip sungai-sungai yang telah tercemar sedimen tambang seperti Kobe dan Waleh. Keruhnya Sungai Sagea terjadi mulai akhir Juli, sepanjang Agustus hingga akhir September 2023. Terbaru, pada 23 - 25 Oktober kemarin Sungai Sagea mendadak keruh kekuningan.
Sebagaimana temuan Forum Koordinasi DAS Moloku Kie Raha yang tertuang dalam berita acara kunjungan lapangan mereka pada 26 s.d. 27 Agustus 2023, dalam poin 1 menyatakan bahwa: secara faktual di lapangan sudah terdapat perubahan biofisik yang disebabkan faktor non alam / antropogenik (aktivitas manusia); kemudian pada poin 4 yang berbunyi: berdasarkan sebaran IUP di sekitar DAS Ake Sagea, perlu dilakukan pengawasan terpadu dan objektif terhadap aktivitas pertambangan. Hal ini juga diperkuat oleh hasil temuan investigasi Forest Watch Indonesia dan Tempo yang menemukan adanya deforestasi di wilayah DAS Sagea (https://majalah.tempo.co/read/lingkungan/170029/nikel-sungai-sagea
Daerah Aliran Sungai (DAS) Sagea memiliki luas 18.200,4 Ha (BPDAS Ake Malamo, 2023) dimana terdapat 3 sungai besar dan ratusan anak-anak sungai. Sayangnya ada 5 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang sebagian konsesinya masuk dalam DAS Sagea yaitu PT. Weda Bay Nickel seluas 6858 Ha, PT. Dharma Rosadi Internasional seluas 341 Ha, PT. First Pasific Mining seluas 1467 Ha, PT. Karunia Sagea Mineral seluas 463 Ha, dan PT. Gamping Mining Indonesia seluas 2170 Ha. Dari 5 IUP di atas baru PT. WBN yang melakukan aktivitas di bagian hulu DAS Sagea.
Persoalan keruhnya air Sungai Sagea tidak bisa dilepaspisahkan dari DAS yang telah rusak. Ketika turun hujan material tanah bekas bukaan lahan akan tererosi ke sungai. Bagaimanapun aktivitas pembukaan lahan di wilayah DAS Sagea mesti diberhentikan karena besar kemungkinan erosi tanah terus terjadi mengalir ke Sungai Sagea dan akan sangat berpengaruh ke sistem sungai bawah tanah di kawasan Karst Sagea dan Gua Bokimoruru. Sungai Sagea adalah nafas dan harga diri kami: sungai yang selama ini kami jadikan sebagai sumber penghidupan dan dikeramatkan oleh leluhur kami.
Untuk itu pada tanggal 28 Oktober 2023, Koalisi Selamatkan Kampung Sagea atau #SaveSagea melakukan Aksi dan menuntut agar:
1) PT. WBN menghentikan operasinya di hulu DAS Sagea atau wilayah Sagea,
2) Melakukan Restorasi dan Rehabilitasi DAS Sagea,
3) Bertanggungjawab atas dampak dari pencemaran Sungai Sagea, dan 4) Wilayah DAS Sagea harus dilindungi dan dikeluarkan dari rencana pertambangan PT. WBN
kami masih butuh dukunganmu. Bantu kami suarakan keresahan kami ini. Ajak juga teman-teman lainnya untuk dukung dan tanda tangani petisi Sagea. Sebarkan dan sampaikan kepada mereka bahwa kami membutuhkan dukungannya.
Terima kasih,
Koalisi Selamatkan Kampung Sagea (SEKA)
#selamatkansagea #savekarstsagea #savebokimoruru