#BestFoodNoJunkfood: Setujui gerakan pengurangan konsumsi junkfood sekarang juga

Masalahnya

Fast food merupakan makanan cepat saji yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolestrol yang dapat berisiko memunculkan masalah gizi seperti obesitas dan penyakit degeneratif seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus. Fast food dapat dijumpai pada makanan kentang goreng, ayam goreng, hamburger, soft drink, pizza, donat dan lain-lain. Risiko dapat meningkat bila tidak diimbangi dengan olahraga dan terlalu banyak stress. Fast food identik dengan gaya hidup masyarakat kota atau modern karena penyajiannya cepat dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, higienis serta dianggap sebagai makanan bergengsi. Kemudahan tersebut membuat para ibu rumah tangga sekaligus wanita karir dapat menyiapkan makanan untuk keluarga dengan cepat seperti menyiapkan bekal dengan lauk fast food maupun memesan (delivery order). Namun hal tersebut dapat memunculkan pola perubahan konsumen dan kebiasaan makan yang tidak sehat. Selain pengaruh dari lingkungan rumah, lingkungan sekolah seperti teman juga mempengaruhi pembentukan perilaku dan gaya hidup seperti kebiasaan makan. Mereka menjadi lebih aktif, lebih banyak makan diluar rumah dan mendapatkan pengaruh dalam pemilihan makanan yang akan dimakannya, mereka juga lebih sering mencoba- coba  makanan baru, salah satunya adalah fast food.

 Survei yang dilakukan oleh AC Nilsen bahwa 69% masyarakat kota di Indonesia mengonsumsi fast food yaitu 33% menyatakan makan siang sebagai waktu yang tepat untuk makan di restoran fast food, 25% untuk makan malam, 9% menyatakan sebagai makanan selingan dan 2% memilih untuk memilih untuk makan pagi (Nilsen, 2008). Hal tersebut diperkirakan akan semakin berkembang sesuai dengan meningkatnya tingkat konsumsi makanan fast food di Indonesia.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Health Education Authority (2002), usia 15 – 34 tahun adalah konsumen terbanyak yang memilih menu fast food. Keadaan tersebut dapat dipakai sebagai cermin dalam tatanan masyarakat Indonesia, bahwa rentang usia tersebut adalah golongan pelajar dan pekerja muda. Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO dalam Soetjiningsih (2007) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data Depkes RI (2006), menunjukkan jumlah remaja umur 10-19 tahun di Indonesia sekitar 43 juta (19,61%) dari jumlah penduduk.

Kami mengajak semua stakeholder yang ada di masyarakat khususnya para remaja, Orang tua, pihak sekolah, pihak Dinas Kesehatan, untuk ikut mendukung gerakan ini sebagai tindakan kita untuk menyetujui gerakan pengurangan konsumsi Junkfood untuk meminimalisir terjadinya obesitas dan peningkatan angka kejadian penyakit degeneratif mulai dari sekarang. Penandatangan petisi ini, diharapkan mampu menimbulkan dampak positif berupa perubahan perilaku konsumsi masyarakat ke sayuran dan buah serta peningkatan angka harapan hidup pada masyarakat di Indonesia.

 

 

avatar of the starter
Ratih Nur HayatiPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 166 pendukung

Masalahnya

Fast food merupakan makanan cepat saji yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolestrol yang dapat berisiko memunculkan masalah gizi seperti obesitas dan penyakit degeneratif seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus. Fast food dapat dijumpai pada makanan kentang goreng, ayam goreng, hamburger, soft drink, pizza, donat dan lain-lain. Risiko dapat meningkat bila tidak diimbangi dengan olahraga dan terlalu banyak stress. Fast food identik dengan gaya hidup masyarakat kota atau modern karena penyajiannya cepat dan dapat dihidangkan kapan dan dimana saja, higienis serta dianggap sebagai makanan bergengsi. Kemudahan tersebut membuat para ibu rumah tangga sekaligus wanita karir dapat menyiapkan makanan untuk keluarga dengan cepat seperti menyiapkan bekal dengan lauk fast food maupun memesan (delivery order). Namun hal tersebut dapat memunculkan pola perubahan konsumen dan kebiasaan makan yang tidak sehat. Selain pengaruh dari lingkungan rumah, lingkungan sekolah seperti teman juga mempengaruhi pembentukan perilaku dan gaya hidup seperti kebiasaan makan. Mereka menjadi lebih aktif, lebih banyak makan diluar rumah dan mendapatkan pengaruh dalam pemilihan makanan yang akan dimakannya, mereka juga lebih sering mencoba- coba  makanan baru, salah satunya adalah fast food.

 Survei yang dilakukan oleh AC Nilsen bahwa 69% masyarakat kota di Indonesia mengonsumsi fast food yaitu 33% menyatakan makan siang sebagai waktu yang tepat untuk makan di restoran fast food, 25% untuk makan malam, 9% menyatakan sebagai makanan selingan dan 2% memilih untuk memilih untuk makan pagi (Nilsen, 2008). Hal tersebut diperkirakan akan semakin berkembang sesuai dengan meningkatnya tingkat konsumsi makanan fast food di Indonesia.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Health Education Authority (2002), usia 15 – 34 tahun adalah konsumen terbanyak yang memilih menu fast food. Keadaan tersebut dapat dipakai sebagai cermin dalam tatanan masyarakat Indonesia, bahwa rentang usia tersebut adalah golongan pelajar dan pekerja muda. Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO dalam Soetjiningsih (2007) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data Depkes RI (2006), menunjukkan jumlah remaja umur 10-19 tahun di Indonesia sekitar 43 juta (19,61%) dari jumlah penduduk.

Kami mengajak semua stakeholder yang ada di masyarakat khususnya para remaja, Orang tua, pihak sekolah, pihak Dinas Kesehatan, untuk ikut mendukung gerakan ini sebagai tindakan kita untuk menyetujui gerakan pengurangan konsumsi Junkfood untuk meminimalisir terjadinya obesitas dan peningkatan angka kejadian penyakit degeneratif mulai dari sekarang. Penandatangan petisi ini, diharapkan mampu menimbulkan dampak positif berupa perubahan perilaku konsumsi masyarakat ke sayuran dan buah serta peningkatan angka harapan hidup pada masyarakat di Indonesia.

 

 

avatar of the starter
Ratih Nur HayatiPembuka Petisi

Petisi ditutup

Petisi ini mencapai 166 pendukung

Sebarkan petisi ini

Pengambil Keputusan

Pihak Sekolah
Pihak Sekolah
pihak Dinas Kesehatan
pihak Dinas Kesehatan
Remaja
Remaja
Perkembangan terakhir petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 4 Desember 2015