Petisi ditutup

Kembalikan Pak Dika sebagai pengajar dan stop intimidasi siswa

Petisi ini mencapai 4.185 pendukung


“Aku tak akan menjadi guru yang dulu tidak aku sukai ketika masih jadi murid di sekolah, tak ingin jadi guru yang menyeramkan dan lebih mirip sipir keamanan ketimbang seorang pendidik. Aku ingin jadi guru seperti apa yang dulu aku inginkan ketika dulu aku masih menjadi seorang murid. Guru yang kedatangannya ditunggu dan dinanti, suaranya dirindukan, sosoknya yang selalu menggugah semangat, jalan hidupnya yang selalu memberikan inspirasi, dan aku ingin jadi guru yang kepergiannya pantas untuk ditangisi banyak orang.” - Pak Dika

Pak Dika (Andika Ramadhan F.), seorang guru sejarah di SMAN 13 Depok, tiba-tiba diberhentikan sepihak oleh sekolah karena menyampaikan kritik. Berawal dari penyelenggaraan Internasional Student Day oleh Pak Dika dan murid-muridnya pada tanggal 17 November 2016. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati hari pelajar dan memberikan keluh kesah, kritik, saran, serta harapan dari setiap siswa kepada sekolah. Penyampaian unek-unek tentang sekolah tidak saja dilakukan di lapangan tetapi juga disampaikan melalui media sosial. Pak Dika yang juga menulis tentang seluruh kritiknya tentang sekolah di media sosial Tumblr, dinilai sebagai tindakan yang mencemarkan nama baik, lalu berujung pemberhentian oleh sekolah.

Apa yang dilakukan Pak Dika dan murid-muridnya adalah usaha untuk membenahi kebobrokan dunia pendidikan Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, terjadi banyak pungutan liar di lingkungan sekolah. Selain itu, sistem belajar dan mengajar di sekolah, juga masih jauh dari harapan untuk dapat dibilang baik. Demikian, kritik Pak Dika dan murid-muridnya yang dilakukan di SMAN 13 Depok, beberapa menanyakan kenapa pembangunan gedung baru yang memungut uang dari pihak siswa belum dilaksanakan, kenapa parkiran di sekolah harus bayar, serta mengkritik sistem belajar mengajar.

Pak Dika memang tidak hanya mengajarkan mata pelajaran saja kepada siswanya, tetapi juga memberikan hubungan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari, dan tidak pernah bosan memotivasi semangat belajar para siswa melalui pengalaman yang dia miliki. Dia juga dikenal sebagai guru yang sangat dekat dengan para siswa, bahkan tidak sedikit yang menyampaikan curhatan kepada Pak Dika tentang masalah pribadi maupun sekolah. Tidak berhenti di situ saja, Pak Dika dan muridnya bersama-sama mendirikan sebuah komunitas belajar yang bernama Studi Merdeka. Komunitas tersebut didirikan sebagai wadah bagi para siswa untuk belajar dan berdiskusi serta melaksanakan kegiatan lainnya. Keanggotaan dari Studi Merdeka tidak saja diperuntukan kepada siswa SMAN 13 Depok, tetapi juga untuk umum. Melalui Studi Merdeka mereka meningkatkan Soft Skill dan belajar melihat realita di sekitar mereka.

Sangat disayangkan, kini niat mulia sang guru dianggap sebagai duri bagi sekolah. kritik yang ditujukan dari Pak Dika dan murid-muridnya hanya dianggap sebagai pencemaran, bukan masukan yang bermanfaat. Kini mereka sedang mengalami intimidasi dari pihak sekolah. Tidak hanya, pemberhentian sepihak Pak Dika sebagai pengajar mata pelajaran sejarah. Pihak sekolah memanggil orang tua dari anak-anak yang membela Pak Dika untuk kembali mengajar, lalu memberikan informasi yang tidak sesuai fakta dan menyudutkan Pak Dika. Mereka memanfaatkan relasi kuasa yang timpang dengan "memaksa" para siswa tersebut untuk menandatangani surat persetujuan pemberhentian Pak Dika. Terdapat dugaan apabila enggan menandatangani, ancaman siswa akan diberikan nilai "seadanya" hingga dikeluarkan dari sekolah menjadi alat untuk menekan.

Tidak berhenti di orang tua saja, pihak sekolah mulai mengerahkan guru-guru untuk memberikan informasi sepihak yang menyudutkan Pak Dika. Mulai disebarkan informasi dengan konten tuduhan yang tidak berdasar kepada Pak Dika dan murid pendukungnya. Studi merdeka dianggap sebagai komunitas yang tidak jelas. Padahal jika dibandingkan sekolah lainnya yang hanya bisa nongkrong-nongkrong saja, Studi Merdeka jauh lebih positif kegiatannya.

Disebarkan kabar bohong bahwa SMAN 13 Depok di-blacklist oleh beberapa PTN dalam jalur seleksi SNMPTN selama 5 tahun. Padahal yang bisa membuat suatu sekolah di-blacklist hanyalah jika SMA tersebut melakukan sebuah kecurangan dalam memasukan nilai. Kabar-kabar itu juga dibangun agar siswa-siswi yang mendukung Pak Dika merasa terpojok karena telah menyebabkan sekolah diblacklist 10 PTN. Kabar ini adalah kabar bohong yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Banyak lagi tuduhan lainnya yang dikeluarkan oleh pihak sekolah. Misalnya menuduh siswa siswi yang menyuarakan tagar #SavePakDika telah menyebabkan nama sekolah tercoreng. Padahal suara siswa di media sosial adalah bentuk ekspresi seorang murid melihat guru mereka yang diberhentikan secara sepihak, bukan bermaksud mencoreng nama SMAN 13 Depok.

Melalui praktik pemaksaan kehendak dan pembungkaman para siswa oleh sekolah ini, membuat mata kita semakin terbuka lebar melihat kebobrokan sistem pendidikan di sekolah yang korup dan tiran. Guru yang menyuarakan kebenaran digerus. Siswa-siswa diadu domba dengan informasi yang tidak benar. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan jiwa-jiwa yang merdeka kini berbalik mengurung. Semoga penjelasan ini dapat mengetuk hati kita semua untuk membantu Pak Dika dan murid-muridnya. #SavePakDika #SavePelajarSMAN13Depok



Hari ini: Muhamad Trishadi mengandalkanmu

Muhamad Trishadi Pratama membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Prof. Dr. Muhadjir Effendy: Kembalikan Pak Dika sebagai pengajar dan stop intimidasi siswa". Bergabunglah dengan Muhamad Trishadi dan 4.184 pendukung lainnya hari ini.