TINGKATKAN GAJI DOKTER INTERENSHIP (BBH) MINIMAL 5JT DAN DIBAYAR TIAP BULAN

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Dokter interenship, bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan hal tersebut. Seorang mahasiswa kedokteran yang harus berjuang di ranah pre-klinik selama kurang lebih 4.5 tahun (tergantung asal universitas), melanjutkan pendidikannya ke ranah klinik 2 tahun (tergantung asal universitas). Selama masa waktu itu, mereka, calon dokter tetap di penuhi tanggung jawab membayar SPP yang saat ini (2019), telah merata hampir diseluruh universitas baik negeri maupun swasta sebesar 25jt/semester (tergantung asal universitas).

Apakah perjuangan mereka yang sering di elukkan oleh masyarakat sebagai pengabdian telah selesai? TIDAK! Mereka belum selesai hingga mereka lulus UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter). Sebuah ujian dengan 200 nomor soal dan 10 station OSCE (praktik) yang terkadang membuat mereka yang ikut ujian tiba-tiba blank alias terpaku. Tidak sedikit yang langsung lulus ujian dan wisuda dengan gelar dokternya. Tapi, tidak sedikit juga yang gagal entah karena tidak fokus saat ujian digelar, atau nasib. Mereka yang gagal? TETAP HARUS MEMBAYA SPP 25JT TERSEBUT!!

Sekarang, setelah mereka wisuda, apakah lantas mereka langsung bisa menggunakan keterampilan yang telah di uji secara nasional oleh pemerintah tersebut? JAWABANNYA : TIDAK. Mereka harus mengikut program interenship, atau nama lainnya magang. Apakah program pemerintah ini tepat? Menurut saya, tepat. Tapi, yang kurang tepat adalah sistem pembayaran gaji mereka atau Biaya Bantuan Hidup (BBH) dari pemerintah yang menurut akal sehat saya, sangat tidak rasional.

Saya melihat banyak rs dan puskesmas tempat sejawat interenship (wahana iship) tidak mendapatkan pendapatan yang layak. Ada wahana yang jauh dari ibu kota dan hanya mengandalkan BBH dari pemerintah untuk bertahan tiap bulannya. Waha interenship terbatas tiap daerah, oleh karena itu, tidak semua dokter mendapat tempatnyang diinginkannya, mendapat tempat yang memiliki sanak keluarga disana. Saat ini, pemerintah mengeluarkan BBH untuk dokter interenship  diangka Rp.3.150.000,- untuk wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTB dan Rp.3.622.500,- untuk wilayah lainnya. BBH ini akan diberikan tiap 3 bulan. Ketika keluar, jumlahnya memang sangat besar karena diberikan untuk tiga bulan. Akan tetapi, apakah jumlah ini layak?

Jika ada yang menganggap bahwa dokter interenship layak mendapatkan BBH dengan jumlah demikian, karena mereka juga mendapat tunjangan lain dari praktik lainnya, maka dengan tegas saya katakan ANDA SALAH. Menagapa? karena dokter interenship tidak boleh melaksanakan praktik diluar dari wahana interenshipnya. Tidak semua tempat interenship memberikan tunjangan dari RS maupun Puskesmas, Insentif Daerah, ataupun tunjangan lainnya. Sangat banyak, bahkan mungkin >75% dokter interenship yang hidup hanya dari BBH. Lantas bagaimana mereka bertahan? Lagi-lagi, menjual sawah dikampung, atau meminjam sana sini mungkin menjadi salah satu jawabannya.

Menurut saya, dokter interenship berhak diberikan BBH minimal Rp.5.000.000,- per bulan, dan untuk 3 bulan pertama, dibayarkan tiap bulannya secara tepat waktu. Untuk bulan ke-4 dan seterusnya, tergantung kebijakan pemerintah dan itu akan naik secara bertahap tiap tahunnya sesuai dengan kebutuhan saat itu.

Karena, jika pemerintah termasuk instansi terkait menghargai tenaga kesehatan, salah satunya dokter interenship, maka pemerintah harusnya lebih menghargai mereka - mereka yang menghabiskan hari - harinya selama setahun dengan ijazah seorang dokter tanpa bisa melakukan praktik kedokteran atau mengaplikasikan ilmu kedokterannya selain ditempat interenship dengan cara yang layak. Agar peserta interenship juga bisa bekerja (magang) dengan tenang.