Stop Sirkus Lumba Keliling Paradis-Q Waterpark Kubu Raya

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


SURAT PENOLAKAN DAN PENGHENTIAN SIRKUS LUMBA-LUMBA “KELILING”

Dengan Hormat,
Kami dari “Koalisi Khatulistiwa Biru”, yang terdiri dari akademisi, dokter hewan, praktisi konservasi, pemerhati satwa, komunitas, LSM, mahasiswa, pelajar, dan jurnalis lingkungan menyatakan keprihatinan dan mengajukan keberatan atas diselenggarakannya peragaan lumba-lumba secara tidak menetap (sirkus lumba-lumba “keliling”) yang masih diselenggarakan di Indonesia, khususnya di Paradis-Q Waterpark, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat oleh PT. Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) mulai tanggal 15 Februari hingga 18 Maret 2018 (32 hari).
Oleh karena itu kami meminta penyelenggaraan sirkus keliling ini segera dihentikan dengan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Secara Alami, lumba-lumba merupakan hewan bermigrasi namun dalam peragaan ini untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, lumba-lumba harus diangkut menggunakan transportasi darat dan udara, berpindah dari kota asal menuju kota lain dan dari lokasi pemeliharaan ke bandara maupun ke tempat sirkus kelilling. Mamalia laut ini diletakkan di bagasi pesawat (bukan di kabin pesawat), yang memiliki tingkat kebisingan tinggi (dekat dengan mesin pesawat). Kondisi tersebut berpotensi terhadap pecahnya paru-paru/kantong-kantong udara (monkey lips) dan organ dalam telinga yang disebabkan oleh perbedaan tekanan atmosfer di habitat alami (di bawah air) dengan atmosfer di ketinggian jelajah udara, serta kebisingan suara yang dihasilkan oleh mesin pesawat. Selama perjalanan (tergantung jarak tempuh) lumba-lumba diletakkan di bagasi tanpa menggunakan media air yang menjadi habitat seharusnya. Lumba-lumba dalam siklus hidupnya tidak pernah berada di luar air dalam jangka waktu lama, sebagaimana kegiatan transportasi untuk peragaan sirkus keliling dilakukan. Dengan demikian, aktifitas pengangkutan lumba-lumba dapat menimbulkan berbagai potensi abnormalitas, kerusakan organ serta stres bahkan kematian.
  2. Setelah berada di lokasi atraksi, lumba-lumba diletakkan di dalam kolam berukuran sempit dan dangkal, dibandingkan habitat alaminya di laut atau perairan estuaria. Media air dalam kolam umumnya mengandung klorin dan sodium yang ditujukan membasmi mikroba dalam media kolam atau pun membuatnya terlihat jernih dibandingkan air sumber. Senyawa klorin tersebut berdampak jangka panjang terhadap kesehatan lumba-lumba, seperti berkurangnya indera penglihatan lumba-lumba akibat endapan klorin yang melekat di selaput mata sehingga dapat mengakibatkan kebutaan, akhirnya lumba-lumba akan diafkir. Dengan demikian, hal ini telah melanggar asas kesejahteraan hewan (animal walfare) yaitu bebas dari penyakit.
  3. Untuk dapat mengikuti instruksi trainer, dan memperagakan sejumlah atraksi dalam pertunjukan sirkus keliling, lumba-lumba sengaja dibuat lapar dan makanan baru diberikan ketika perintah trainer dinilai telah dilakukan dengan baik. Pemberian imbalan, berupa ikan secara sedikit demi sedikit, tiap lumba-lumba menyelesaikan satu atraksi yang ingin ditampilkan terkesan sebagai bentuk ekploitasi yang luar biasa menafikan kesejahteraan hewan, terutama satwa dilindungi. Di sisi lain, atraksi tersebut terkesan hanya untuk mencari perhatian penonton agar lumba-lumba terlihat cerdas dan menghibur para pengunjung. Padahal lumba-lumba itu dalam kondisi lapar dan tersiksa. Dengan demikian, atraksi lumba-lumba melanggar asas kesejahteraan hewan yaitu bebas dari rasa lapar.
  4. Di alam, lumba-lumba merupakan makhluk sosial yang hidup berkelompok dan bersama-sama memiliki strategi perburuan makanan (ikan hidup). Sedangkan di kolam, lumba-lumba diberikan ikan mati sehingga dapat mengubah perilaku alaminya yang bertentangan dengan asas kesejahteraan hewan yaitu bebas mengekspresikan tingkah laku normal. Satwa lumba-lumba yang di ikut sertakan dalam peragaan keliling ini juga berkaitan dengan tingkah laku atau sifat alami reproduksi lumba-lumba yang enggan melakukan perkawinan di dalam kolam. Dengan demikian, pemeliharaan lumba-lumba di kolam tidak memenuhi unsur konservasi. Sehingga tidak layak penyelenggara sirkus lumba-lumba diberikan izin sebagai “Lembaga Konservasi”.
  5. Lumba-lumba adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok dan memiliki kerentanan psikologis tinggi dan stres. Secara ilmiah menurut penelitian K.Noda et.al 2007, dengan judul “Relationship Between Transportation Stress and Polymorphonuclear Cell Functions of Bottlenose Dolphine” menyatakan bahwa transportasi pemindahan satwa dapat menyebabkan tingkat stres yang cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh dan meningkatkan resiko infeksi penyakit serta kemungkinan kematian setiap kali mereka dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Stres juga bisa bersumber dari rasa takut, kegelisahan, frustrasi, penangkapan, kebosanan, dan pengasingan. Kondisi tersebut akan mengakibatkan perubahan psikologi dan fisik yang dapat berujung kepada sakit berkepanjangan, bahkan kematian.
  6. Umur lumba-lumba di alam cenderung lebih lama dibandingkan di kolam. Sejauh ini tidak ada publikasi dari PT. Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) terkait rentang waktu hidup lumba-lumba yang berhasil bertahan selama di kolam pemeliharaan. Sampai saat ini, belum pernah dilakukan pendataan dan penandaan individu lumba-lumba yang dipelihara di TIJA, baik berupa tagging, RFID/microchip, atau uji genetik yang terverifikasi dan terpublikasi, sehingga tidak dapat dibedakan antar individu satu dengan lainnya dan tidak dapat diketahui rentang waktu hidup (umur) di kolam. Dengan demikian selama ini kita tidak dapat mengetahui bahwa terus terjadi pergantian individu lumba-lumba namun terlihat dengan jumlah yang sama.
  7. Menurut Telegraph (2016) Indonesia merupakan 1 dari 5 negara yang masih melakukan sirkus lumba-lumba, namun kita menjadi satu-satunya negara yang masih mengizinkan sirkus lumba-lumba keliling, dimana hal ini membuat Indonesia menjadi negara yang dikecam pemerhati mammalia laut global.

Demikian surat ini dibuat untuk dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan penghentian segala bentuk kegiatan sirkus lumba-lumba “keliling”. Atas perhatian Bapak/Ibu/sdr/i kami mengucapkan terima kasih.



Hari ini: Koalisi mengandalkanmu

Koalisi Khatulistiwa Biru membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden Republik Indonesia: Stop Sirkus Lumba Keliling Paradis-Q Waterpark Kubu Raya". Bergabunglah dengan Koalisi dan 2.200 pendukung lainnya hari ini.