Kemenangan

Dukung Soeharto Untuk TIDAK Menjadi Pahlawan Nasional

Petisi ini membuat perubahan dengan 2.591 pendukung!


Belakangan ini, ramai terdengar isu mengenai Soeharto -Presiden Kedua Indonesia yang penuh kontroversi- diusulkan menjadi pahlawan nasional. Beberapa pihak menganggap Soeharto telah begitu berjasa untuk Indonesia. 

Sebagai generasi millennials yang lekat dengan label apolitik dan ahistoris, saya mencaritahu siapa sesungguhnya yang dipanggil dengan nama “Bapak Pembangunan” ini. Setelah mendengar dan membaca riwayat hidupnya dengan cermat, ada beberapa catatan saya mengenai Soeharto, yaitu: 
1.    Hingga akhir periode jabatannya, Soeharto mewarisi hutang luar negeri sebesar Rp 1.500 Triliun!
2.    Soeharto berhasil membuat kita terkenal di dunia internasional sebagai negara nomor 1 terkorup di dunia berdasarkan temuan data Transperancy International (2004) dan Forbes (2015) dengan total korupsi sebesar USD 35 Miliar atau sekitar Rp 457 Triliun.
3.    Soeharto mengubur cita-cita paman-bibi dan angkatan ibu-bapak saya yang ingin memimpin negeri ini sebagai pemimpin partai, gubernur, walikota dan/atau pemimpin institusi negara lainnya. Karena semua ditentukan oleh kepentingan kekuasaan diri yang berpusat pada Soeharto. 
4.    Soeharto mengontrol bacaan, ruang diskusi, dan berbagai wujud ekspresi juga kritik terhadap pemerintah bahkan bisa dikatakan bahwa virus mengontrol yang terjadi akhir-akhir sebagai warisan dari Soeharto. 
5.    Soeharto membiarkan kita buta sejarah dengan mengerdilkan peran para founding father, seperti Soekarno, Tan Malaka, dan Tirto Adisuryo serta organisasi gerakan perempuan seperti Gerwani. Tak hanya itu, Soeharto mengajarkan kita untuk phobia terhadap kiri padahal secara sederhana esensi kiri adalah gotong royong. Warisan phobia ini telah bertahun-tahun mendarah daging, sehingga mengaburkan kenyataan sejarah bahwa keberagaman ideologi itu berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme dan imperialisme. 
6.    Soeharto membuat saya dan jutaan anak muda lainnya mengalami krisis empati terhadap berbagai kasus dan korban pelanggaran HAM berat di Indonesia karena minimnya pengetahuan kami, serta “ketakutan” orang tua kami untuk menceritakan “dosa” pemerintah Orde Baru.

Ketika menuliskan ini, saya baru mengetahui bahwa dibawah pemerintahan “calon pahlawan nasional” itu terdapat 10 pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia, diantaranya: (i) Penangkapan dan pembantaian massal 1965/1966, serta pembuangan massal para tahanan politik ke Pulau Buru 1967-1979; (ii) Peristiwa Tanjung Priok, 1984; (iii) Tragedi Talangsari-Lampung, 1989; (iv) Penembakan Misterius (1981-1985); (v) Daerah Operasi Militer di Aceh (1989-1998); (vi) Daerah Operasi Militer di Papua (1967-2003); (vii) Peristiwa Kudatuli, 1966; (viii) Penculikan dan Penghilangan Paksa Aktivis Pro-Demokrasi, 1997-1998; (ix) Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, 1998-1999; dan (x) Kerusuhan Mei, 1998.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, tentunya kita memiliki harapan agar kehidupan negeri ini menjadi lebih baik setelah Soeharto dilengserkan pada tahun 1998. Tak hanya itu, semoga kita benar-benar menjadi lebih baik dengan selalu mengkritisi hal-hal yang buruk dari warisan masa lalu untuk kepentingan masa depan, dan itu dilakukan dengan tidak mengangkat koruptor juga pembunuh kelas kakap menjadi pahlawan Nasional. 

Kawan-kawan,
Bersama Forum 65, kami mengajak kawan-kawan untuk membuka mata dan bersuara. Dukung Presiden Jokowi memutus mata rantai kebobrokan era Orde Baru di Indonesia dengan mengakui bersama bahwa SOEHARTO BUKAN PAHLAWAN! kita.

#SoehartoBukanPahlawanKita



Hari ini: Agnes mengandalkanmu

Agnes Indraswari membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden @jokowi, jangan jadikan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.". Bergabunglah dengan Agnes dan 2.590 pendukung lainnya hari ini.