Philip Kotler & Hermawan Kartajaya: Mohon Tutup “Museum of Marketing 3.0” di Ubud, Bali

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Salam Budaya,

Sejak tahun 2011, Philip Kotler (profesor pemasaran dari Amerika Serikat) dan Hermawan Kartajaya (motivator pemasaran dari Jakarta) telah mendirikan sebuah bangunan yang dinamakan “Museum of Marketing 3.0” di dalam kompleks Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali. Langkah ini telah merugikan bukan hanya Museum Puri Lukisan dan para seniman Bali yang karya-karyanya dipamerkan di Museum Puri Lukisan, namun juga menimbulkan berbagai permasalahan lainnya. Bangunan yang disebut “museum” itu juga sebenarnya lebih tepat disebut sebagai showroom bisnis.


Maka, kami mempetisi Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya untuk:

  • Menutup showroom bisnis berkedok “Museum of Marketing 3.0” di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali.
  • Menghormati sejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya dalam bidang seni-budaya.
  • Menghormati agama, adat, budaya, sejarah, dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Bali khususnya yang menyangkut Museum Puri Lukisan Ubud dan Puri Agung Ubud.

 

SEJARAH MUSEUM PURI LUKISAN UBUD

Museum Puri Lukisan adalah salah satu kompleks bangunan bersejarah di Ubud, Bali. Museum ini mulai dibangun pada tahun 1954 dan diresmikan pada tahun 1956. Tujuannya untuk melestarikan dan mengembangkan seni-budaya Bali, terutama karya seni lukis dan karya seni patung dari para seniman Pita Maha. Pita Maha adalah perkumpulan seniman Bali yang dibentuk pada tahun 1930-an dengan para pendiri antara lain Tjokorda Gde Agung Sukawati, Tjokorda Gde Raka Sukawati (beliau berdua berasal dari Puri Agung Ubud), I Gusti Nyoman Lempad (seniman terkemuka Bali), Walter Spies (seniman ekspatriat asal Jerman), dan Rudolf Bonnet (seniman ekspatriat asal Belanda). Pita Maha adalah salah satu perkumpulan seniman terkemuka pada masa itu sehingga kehadirannya menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan seni-budaya bukan hanya di Bali namun juga di Indonesia.

Rencana pendirian Museum Puri Lukisan sudah ada sejak masa Pita Maha. Namun, karena terjadi Perang Dunia Kedua dan disusul oleh Perang Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka Museum Puri Lukisan tertunda pembangunannya. Setelah masa damai, pada awal tahun 1950-an,keluarga besar Puri Agung Ubud (terutama Tjokorda Gde Agung Sukawati), Rudolf Bonnet, dan para seniman Bali bergotong-royong melanjutkan cita-cita mendirikan Museum Puri Lukisan. Tjokorda Gde Agung Sukawati menyediakan lahannya. Rudolf Bonnet mengerjakan arsitektur bangunan museum serta menyumbangkan sebagian besar koleksi karya seni Bali miliknya. Keluarga Besar Puri Agung Ubud lainnya dan berbagai unsur masyarakat juga turut berperan dalam pencarian dana, penyediaan bahan bangunan ataupun menyumbangkan tenaganya.Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Rudolf Bonnet juga terus berkeliling meminta masukan dari para seniman untuk pembangunan Museum Puri Lukisan.

Maka, Museum Puri Lukisan dibangun berdasarkan proses yang panjang atas jerih-payah perjuangan banyak pihak secara gotong-royong untuk kepentingan bersama yang mulia.

Pada waktu yang berdekatan dengan pendirian Museum Puri Lukisan, juga terjadi serangkaian peristiwa bersejarah, antara lain pembangunan Pura Langon di Ubud, pendirian Universitas Udayana di Denpasar, pembentukan Provinsi Bali, pengakuan agama Hindu-Bali oleh Pemerintah Republik Indonesia, pendirian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan juga pembangunan Istana Kepresidenan di Tampak Siring. Semua ini adalah bagian dari “nation and character building” bangsa Indonesia yang masih berusia muda saat itu.

Pendirian Museum Puri Lukisan juga tidak terlepas dari peranan para bapak bangsa (founding fathers) Indonesia. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mr. Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Republik Indonesia, pada 31 Januari 1954. Sementara peresmiannya oleh Mr. Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada 31 Januari 1956. Presiden pertama RI, Ir. Sukarno, juga ikut membantu pembangunannya dan sering mengunjungi Museum Puri Lukisan secara resmi bersama para tamu negara Republik Indonesia ataupun secara informal bersama para seniman Bali.

Presiden Sukarno yang sangat mencintai seni sangat membanggakan Museum Puri Lukisan beserta koleksinya yang menunjukkan keunggulan karya seni bangsa Indonesia. Banyak karya seni yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan diperoleh Presiden Sukarno dari pergaulan beliau dengan para seniman Bali yang dikenalnya saat mengunjungi Museum Puri Lukisan.

Inilah sejarah singkat Museum Puri Lukisan yang bukan hanya berperan penting dalam perkembangan seni-budaya di Bali, namun juga dalam perjuangan dan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setelah berdiri, Museum Puri Lukisan terus dijaga dan dirawat oleh keluarga Puri Agung Ubud, para seniman, dan masyarakat dengan segala suka-dukanya. Pameran-pameran seni terus diselenggarakan sampai saat ini.Masyarakat juga terus menceritakan tentang Museum Puri Lukisan kepada generasi penerus. Maka, Museum Puri Lukisan bukanlah sekadar kompleks bangunan. Museum ini adalah pusaka serta menjadi kebanggaan dan perlambang harga diri para seniman Bali pada khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Museum Puri Lukisan juga menjadi salah satu obyek wisata yang ramai dikunjungi para tamu dari dalam maupun luar negeri.

"MUSEUM OF MARKETING 3.0"

Pada 27 Mei 2011, di dalam kompleks Museum Puri Lukisan, diresmikan sebuah bangunan baru yang megah yang dinamakan “Museum of Marketing 3.0” oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Philip Kotler berasal dari Amerika Serikat dan dikenal sebagai profesor dan penulis buku pemasaran. Sementara Hermawan Kartajaya berasal dari Jakarta dan dikenal sebagai motivator dan penulis buku pemasaran. Mereka berdua tidak pernah tinggal di Bali dan selama ini tidak pernah dikenal namanya, apalagi kontribusinya, dalam bidang seni-budaya di Bali. Peresmian ini bertepatan dengan pesta perayaan HUT ke-80 Philip Kotler dan juga dihadiri oleh anggota keluarga Philip Kotler.

Nama “Museum of Marketing 3.0” berasal dari buku Marketing 3.0 yang ditulis oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Buku ini sama sekali tidak berkaitan dengan seni atau Bali. Di dalam buku tersebut bahkan sama sekali tidak ada kata yang menyebutkan tentang seni atau Bali. Buku ini sepenuhnya berisi teori-teori dan jargon-jargon bisnis dan pemasaran dari berbagai korporasi asing, sama sekali tidak berkaitan dengan seni-budaya Bali.

Ide pendirian “Museum of Marketing 3.0” diumumkan secara terbuka pada pesta perayaan HUT ke-78 Philip Kotler tanggal 27 Mei 2009 di Jakarta oleh Jero Wacik (saat itu Menteri Kebudayaan dan Pariwisata). Sementara peletakan batu pertamanya dilakukan pada HUT ke-79 Philip Kotler tanggal 28 Mei 2010 oleh Irman Gusman (saat itu Ketua Dewan Perwakilan Daerah/DPD dan Ketua Dewan Pembina Indonesia Marketing Association/IMA).

Sejak rencana pembangunan “Museum of Marketing 3.0” terdengar pada pertengahan tahun 2010 setelah acara peletakan batu pertama, sejumlah pertanyaan dan protes sudah dilancarkan oleh banyak orang. Masyarakat dan para seniman sama sekali tidak pernah diberitahu. Saat itu hanya diinformasikan bahwa proses konstruksi bangunan yang sedang berjalan adalah bagian dari pengembangan Museum Puri Lukisan, bukan pembangunan “Museum of Marketing 3.0”.

Saat peresmian “Museum of Marketing 3.0” bulan Mei 2011, keluarga Puri Saren Agung Ubud serta masyarakat Ubud pada umumnya sedang berduka. Sekitar 2 minggu sebelum peresmian, Gung Niang Rai, ibu dari keluarga Puri Saren Agung Ubud dan sekaligus istri dari Tjokorda Gde Agung Sukawati (pendiri Museum Puri Lukisan), meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, I Made Sadia, seniman tabuh senior dan klian (pemimpin) kelompok gamelan yang rumahnya terletak di seberang Museum Puri Lukisan, juga wafat. Di tengah suasana duka dan kesibukan untuk mempersiapkan Upacara Pelebon (ngaben) ini, dan juga di tengah-tengah protes dari banyak pihak, “Museum of Marketing 3.0” tetap diresmikan sebagai bagian dari peringatan HUT ke-80 Philip Kotler.

Saat peresmian, Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya menyatakan bahwa “Museum of Marketing 3.0” diinspirasi dari Tjokorda Gde Agung Sukawati, diinspirasi dari Tri Hita Karana, dan sebagainya. Karena itulah “Museum of Marketing 3.0” dibangun di Museum Puri Lukisan.Setelah kami teliti lebih lanjut dan melihat sendiri isi “Museum of Marketing 3.0”, pernyataan tersebut sama sekali tidak berdasar dan lebih merupakan alasan yang dibuat-buat.

Perlu dicatat bahwa pada saat peletakan batu pertama tahun 2010, nama lengkap “museum” ini seperti yang tertera pada lembar tanda-tangan adalah “Marketing 3.0 Museum by Philip Kotler”. Setelah dipertanyakan dan diprotes masyarakat, tiba-tiba saja saat peresmian setahun kemudian namanya berubah menjadi “Museum of Marketing 3.0 Inspired by Tjokorda Gde Agung Sukawati.” Padahal, seperti sudah disebutkan di atas, sama sekali tidak ada nama Tjokorda Gde Agung Sukawati di buku Marketing 3.0 tersebut.

Lebih anehnya lagi, jika di Ubud dikatakan bahwa Marketing 3.0 diinspirasi oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati, namun di tempat lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam, selalu dikatakan bahwa Marketing 3.0 diinspirasi oleh Nabi Muhammad (Nabi umat Islam). Hal ini tidak pernah dikemukakan kepada masyarakat di Bali (informasi ini didapatkan dari para tamu domestik dan juga ditemukan di internet). Dan lagi-lagi juga tidak ada nama Nabi Muhammad di buku Marketing 3.0 tersebut.

Jadi, pernyataan bahwa Marketing 3.0 diinspirasi oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati atau Tri Hita Karana adalah pernyataan yang mengada-ada, sama sekali tidak berdasar, dan lebih merupakan alasan untuk mencari pembenaran belaka.

SHOWROOM BISNIS BERKEDOK "MUSEUM"

Penamaan “Museum of Marketing 3.0”dilakukan secara sepihak oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Hal-hal berikut menunjukkan bahwa bangunan beserta isinya tersebut sebenarnya adalah sebuah showroom, bukan museum.

1. Nama “Museum of Marketing 3.0” jelas mengacu kepada judul buku yang ditulis oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya.“Marketing 3.0” juga adalah nama merek dari seminar-seminar motivasi pemasaran dari Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa “Museum of Marketing 3.0” adalah sebuah showroom untuk iklan/promosi buku dan seminar dari Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya.

2. Persis di samping pintu masuk terpampang poster besar berisi foto dan profil dari Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya.

 3. “Museum of Marketing 3.0” menampilkan poster-poster yang berisi teori-teori dan jargon-jargon pemasaran. Selain itu ada juga profil dari berbagai korporasi asing (terutama dari Amerika Serikat, negara asal Philip Kotler).Sejumlah korporasi tersebut ternyata juga memiliki hubungan bisnis dengan Philip Kotler atau Hermawan Kartajaya.

4. Bukan hanya nama bangunannya (“Museum of Marketing 3.0”) yang menggunakan bahasa asing (Bahasa Inggris); seluruh isi poster-poster tersebut juga menggunakan Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesia.

5. Arsitektur bangunan sama sekali tidak menerapkan Arsitektur Tradisional Bali (ATB).

6. Di dalam “Museum of Marketing 3.0” juga terdapat buku-buku, majalah-majalah, dan brosur-brosur iklan seminar dari Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Sekali lagi, jelas ini merupakan iklan/promosi bagi Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Sama sekali tidak ada buku, majalah, atau brosur dari para ahli pemasaran lainnya. Semuanya dimonopoli oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya.

Hal ini pernah ditanyakan kepada staf yang ada di dalam “museum”, dan dijawab kira-kira seperti ini “Philip Kotler adalah the Father of Modern Marketing sedangkan Hermawan Kartajaya adalah Presiden World Marketing Association (WMA). Jadi keduanya sudah mewakili ahli pemasaran di seluruh dunia."

Pernyataan ini sangat bombastis dan sulit dipertanggungjawabkan. Informasi tentang organisasi World Marketing Association juga tidak dapat ditemukan sehingga sangat diragukan apakah organisasi ini benar-benar ada ataukah hanya klaim sepihak saja.

7. Pengelola “Museum of Marketing 3.0” disebutkan adalah “Philip Kotler Center for ASEAN Marketing” yang didirikan oleh Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Hooi Den Huan (profesor pemasaran dari Singapura).Organisasi ini ternyata memiliki alamat yang sama dengan PT Markplus, perusahaan penyelenggara kursus pemasaran dan event organizer/EO milik Hermawan Kartajaya, yaitu di sebuah mal mewah di pusat kota Jakarta.

8. Pada saat peresmian, “Museum of Marketing 3.0” langsung mendapatkan hadiah sebuah mobil dari salah satu korporasi sponsor.

9. Setelah peresmian, buku Marketing 3.0 terus dipromosikan oleh Hermawan Kartajaya kepada masyarakat setempat, antara lain pernah dilakukan kepada murid-murid SMAN 1 Ubud.

10. Sejak tahun 2014, pada akhir bulan Mei setiap tahunnya juga dilaksanakan peringatan HUT Philip Kotler di “Museum of Marketing 3.0” dengan event organizer (EO) PT Markplus.

Maka dari berbagai petunjuk di atas dapat disimpulkan bahwa “Museum of Marketing 3.0” sebenarnya adalah sebuah showroom yang bukan hanya ingin mempromosikan Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya namun juga membawa kepentingan bisnis mereka berdua.

Setiap orang tentu tidak bisa sembarangan membangun gedung dan lalu menamakannya sebuah “museum” tanpa melalui prosedur yang benar dan memenuhi kriteria sebuah museum. Jika hal ini dilakukan tentu akan merusak citra dari museum seperti yang telah terjadi dalam kasus “Museum of Marketing 3.0” ini.

MENGAPA MEMILIH MUSEUM PURI LUKISAN SEBAGAI LOKASI “MUSEUM OF MARKETING 3.0”?

Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya telah mencoba menjelaskan sejumlah alasan kenapa mereka memilih Museum Puri Lukisan sebagai lokasi “Museum of Marketing 3.0”. Namun, alasan-alasan tersebut tidak jelas, membingungkan, berbelit-belit, teoritis, dan terkesan dipaksakan. Hal ini menjadi preseden yang buruk; karena jika dibenarkan, alasan-alasan tersebut bisa dipakai setiap orang untuk membangun showroom berkedok "museum" di lokasi-lokasi bersejarah lainnya di bumi Indonesia.
Hal-hal berikut adalah fakta-fakta yang lebih masuk akal, mengapa Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya memilih Museum Puri Lukisan sebagai lokasi "Museum of Marketing 3.0":

1. Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya sama sekali tidak perlu membayar biaya pembangunan gedung, sewa lahan, biaya perawatan (listrik, air), dan fasilitas yang ada (parkir, kamar kecil). Semua biaya ini ditanggung oleh Museum Puri Lukisan.

2. Museum Puri Lukisan namanya sudah terkenal dan lokasinya strategis di pusat Ubud yang menjadi lalu-lalang para wisatawan. Karena itu, Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya bisa memanfaatkan citra baik dan arus tamu/pengunjung dari Museum Puri Lukisan tanpa perlu bersusah-payah.

3. Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya juga mendapatkan tempat, fasilitas, dan sumber daya manusia (SDM) gratis untuk acara-acaranya di Bali. Mereka tidak perlu bersusah-payah mencari dan membayar sewa tempat serta membayar orang karena bisa memanfaatkan tempat, fasilitas, dan SDM dari Museum Puri Lukisan.

4. Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya juga tidak perlu membayar pajak. Dengan berlokasi di Museum Puri Lukisan dan menamakan showroom-nya sebagai sebuah "museum", maka mereka tidak perlu membayar pajak.

KERUGIAN MUSEUM PURI LUKISAN DAN PARA SENIMAN BALI

Keberadaan “Museum of Marketing 3.0” membawa dampak negatif terhadap Museum Puri Lukisan dan para seniman Bali yang karya-karyanya dipamerkan di Museum Puri Lukisan, antara lain sebagai berikut:

1. Museum Puri Lukisan mengeluarkan dana, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit untuk pembangunan dan operasional “Museum Marketing 3.0” sebagaimana telah disebutkan di atas. Padahal, dana, waktu, dan tenaga ini bisa dialokasikan untuk kepentingan Museum Puri Lukisan seperti perawatan gedung dan koleksi karya seni atau penambahan koleksi karya seni.

2. Proses pembangunan “Museum of Marketing 3.0” terlalu cepat dan peresmiannya dipaksakan bertepatan dengan HUT ke-80 Philip Kotler (27 Mei 2011). Akibatnya, dinding bangunan tersebut belum terlalu kering pada saat diresmikan. Hal ini membuat sejumlah lukisan koleksi Museum Puri Lukisan di bangunan di atas “Museum of Marketing 3.0” yang juga dipamerkan pada saat peresmian terpaksa harus dilapisi papan tripleks di bagian belakangnya. Setiap hari, selama beberapa bulan, papan tripleks ini harus dijemur untuk dikeringkan dan diganti dengan papan yang baru oleh staf Museum Puri Lukisan dibantu para seniman dan masyarakat setempat.

3. “Museum of Marketing 3.0” terletak persis di muka gerbang Museum Puri Lukisan. Karena itu, setiap tamu yang masuk ke Museum Puri Lukisan pertama-tama pasti akan melihat papan nama “Museum of Marketing 3.0”. Hal ini mengakibatkan banyak tamu yang baru pertama kalinya berkunjung ke Museum Puri Lukisan selalu mengira bahwa mereka sedang mengunjungi “Museum of Marketing 3.0”, bukan Museum Puri Lukisan.

4. Tamu Museum Puri Lukisan berkurang. Hal ini karena tamu-tamu tersebut secara sengaja (karena diarahkan oleh staf “Museum of Marketing 3.0”) ataupun tidak sengaja (karena lokasinya yang persis di gerbang masuk Museum Puri Lukisan) memilih masuk ke "Museum of Marketing 3.0" terlebih dahulu daripada ke Museum Puri Lukisan. Tidak sedikit tamu yang semula ingin berkunjung ke Museum Puri Lukisan "terjebak" masuk ke "Museum of Marketing 3.0" dan menghabiskan waktunya di sana.

5. Terkait dengan poin no. 4, hal ini telah merampas hak-hak para seniman Bali yang karya-karyanya dipamerkan di Museum Puri Lukisan, baik yang merupakan koleksi permanen ataupun pameran sementara, untuk mendapatkan apresiasi dari para tamu. Para seniman sudah bersusah-payah menghasilkan karya, mempersiapkan dan mempublikasikan pameran, namun tamu yang ada justru “dibajak” begitu saja oleh “Museum of Marketing 3.0”.

6. Untuk mempersiapkan pameran lukisan, tidak jarang seniman atau kelompok seniman membutuhkan dukungan kerjasama dari sejumlah pihak lainnya, baik yang ada di Bali maupun di luar Bali. Namun, begitu melihat keberadaan "Museum of Marketing 3.0", tidak sedikit yang membatalkan dukungannya. Alasannya kira-kira seperti berikut: “Saya/Kami ingin mendukung seni-budaya dan seniman Bali, bukan justru ikut mempromosikan bisnisnya Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, atau korporasi-korporasi yang ada di “Museum of Marketing 3.0””. Hal ini, sekali lagi, terkait dengan keberadaan “Museum of Marketing 3.0” beserta papan namanya yang persis di depan gerbang masuk Museum Puri Lukisan.

Maka, dengan sejumlah dampak negatif di atas, sangat tidak masuk akal apabila "Museum of Marketing 3.0" dikatakan diinspirasi oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati dan didukung oleh Keluarga Puri Agung Ubud. Bagaimana mungkin beliau-beliau akan merestui sebuah hal yang bertolak-belakang terhadap cita-cita pendirian Museum Puri Lukisan? Bagaimana mungkin beliau-beliau akan mendukung sebuah hal yang justru menimbulkan dampak negatif terhadap seni-budaya Bali?

PENUTUP

Semua hal di atas sudah disampaikan kepada Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, atau staf “Museum of Marketing 3.0” sejak lama, namun nyatanya mereka semua tidak menghiraukan sama sekali.

Kami sangat sedih bahwa sikap keterbukaan dan toleransi dari masyarakat Ubud, para seniman Bali, dan khususnya Keluarga Besar Puri Agung Ubud dimanfaatkan oleh Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya seperti ini. Sangat disayangkan pula bahwa Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya telah mencoba melemparkan tanggung-jawab kepada Keluarga Besar Puri Saren Agung Ubud. Langkah ini persis seperti politik “divide et impera” pada masa penjajahan di waktu lampau.

Kami yakin sepenuhnya bahwa Keluarga Besar Puri Agung Ubud akan selalu menjaga bhisama dari Raja Betara, Tuan Bonnet, dan para leluhur lainnya terkait Museum Puri Lukisan serta selalu akan berada bersama di tengah-tengah masyarakat dan seniman Bali demi ajegnya Tattwaning Bhuwana Agung.

Kami juga sepenuhnya percaya bahwa masih lebih banyak pihak di luar Bali, baik itu perorangan maupun organisasi, yang benar-benar dapat bersikap jujur, tidak arogan, tidak memaksakan kehendaknya sendiri, tidak bersikap intoleran, mampu menghargai kebinekaan, mampu menghargai sejarah perjuangan para leluhur, serta menghormati nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Bali.

Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan kembali tentang wasiat Presiden Sukarno dalam Trisakti, yaitu sebagai bangsa Indonesia kita seharusnya “Berkepribadian dalam Kebudayaan.” Museum Puri Lukisan adalah bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam bidang kebudayaan yang harus dijaga bersama.

Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Tan hana wang swasta anulus. Kebenaran harus disampaikan. Kami percaya bahwa setiap orang punya pemikiran yang jernih dan hati yang tulus untuk menilai sendiri semua permasalahan ini.

"JASMERAH: Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah!" – Presiden Sukarno



Hari ini: Jaga mengandalkanmu

Jaga BALI membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Philip Kotler & Hermawan Kartajaya: Mohon Tutup “Museum of Marketing 3.0” di Ubud, Bali". Bergabunglah dengan Jaga dan 191 pendukung lainnya hari ini.