Menteri Pertanian, Tak Ada Korelasi Antara Harga Cabai dengan Make Up!


Menteri Pertanian, Tak Ada Korelasi Antara Harga Cabai dengan Make Up!
Masalahnya
Benahi Urusan Pangan, Belajarlah Tentang Peran Perempuan
Sejak November 2016 hingga awal 2017, rakyat kembali mendapat kado pahit pangan nasional: harga cabe melambung, tak tanggung-tanggung mencapai Rp. 100.000-Rp. 250.000 untuk cabai rawit (Kompas.com, 12/01). Pun untuk jenis cabai keriting hingga cabai merah besar.
Presiden maupun Menteri Pertanian kembali menunjuk faktor cuaca sebagai biang keladinya. Beberapa cara dilakukan pemerintah mengatasi lonjakan ini, yang terkesan tak mampu mengatasi problem musiman ini. Salah satunya dengan memberikan benih cabai gratis untuk ditanam tiap ruman tangga dengan sasaran para ibu. Tentu saja program yang terkesan dadakan ini tak akan banyak menfaatnya, karena cabai baru bisa dipanen pada umur 2,5-3 bulan.
Namun, alih-alih menjawab persoalan naiknya harga, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman justru melontarkan pernyataan yang menghina akal sehat. Menteri mengatakan salah satu cara paling rasional menekan permintaan cabai yakni meminta ibu-ibu menanam cabai di rumah. Ajakan yang baik tapi tidak menjawab masalah ini justru merugikan perempuan saat Menteri mengatakan: "Persoalannya mau apa tidak. Kurangi makeup, kalau sedikit tak apalah agar disayang suami. Jangan malas tanam cabai di rumah," ucap Amran di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Kamis (Detik.com, 12/01/2017).
Kami, Perempuan Pegiat Keadilan Sosial dan Ekologis (Ecosisters) menyatakan keprihatinan atas pernyataan Menteri Pertanian yang tidak proposional, tidak relevan dengan cara menyudutkan perempuan. Beberapa hal yang mendasari keprihatinan ini sebagai berikut:
1. Tidak ada hubungan antara harga cabai yang melambung dengan penggunaan make-up perempuan.
2. Siapa pun, terutama pejabat publik seharusnya tidak melakukan stereotype (pelabelan negatif) atas perempuan dengan pernyataan : "12 jam melanjutkan gosip", meminta "kurangi Make-up" agar bisa tanam cabai. Pelabelan negatif melahirkan diakriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan;
3. Kenaikan harga cabai selain diakibatkan faktor cuaca, juga akibat sistem perdagangan yang tidak adil bagi petani dan permainan di tingkat pasar oleh para spekulan/ pengusaha besar;
4. Petani kecil sama sekali tidak merasakan kenaikan harga cabai karena harga jual di tingkat petani masih tetap sama saat harga pasar melonjak
5. Pernyataan Mentan seakan membebankan tanggungjawab kenaikan harga cabai kepada perempuan, dan mengalihkan pembahasan mengenai tanggungjawabnya atas situasi ini.
Atas dasar keprihatinan di atas, maka kami menuntut:
1. Menteri Pertanian segera meminta maaf secara terbuka kepada perempuan Indonesia dan menarik pernyataanya;
2. Pemerintah, khususnya Menteri Pertanian melakukan langkah nyata memberikan perlindungan bagi para petani cabai dari ketidakaadilan sistem perdagangan saat ini;
3. Pemerintah segera memperkuat dan melindungi sentra-sentra basis produksi pertanian pangan lokal dari kebijakan impor pangan dan kebijakan perdagangan bebas yang mematikan sumber penghidupan petani lokal.
4. Pemerintah segera memutus mata rantai tengkulak demi melindungi petani Indonesia dan menstabilkan harga cabai.
5. Kementerian Pertanian meningkatkan pengetahuannya secara komprehensif tentang peran perempuan dalam rantai produksi dan konsumsi pangan, agar program-programnya berkeadilan gender.
Ecosisters Indonesia, Kontak ecosistersindo@gmail.com
Masalahnya
Benahi Urusan Pangan, Belajarlah Tentang Peran Perempuan
Sejak November 2016 hingga awal 2017, rakyat kembali mendapat kado pahit pangan nasional: harga cabe melambung, tak tanggung-tanggung mencapai Rp. 100.000-Rp. 250.000 untuk cabai rawit (Kompas.com, 12/01). Pun untuk jenis cabai keriting hingga cabai merah besar.
Presiden maupun Menteri Pertanian kembali menunjuk faktor cuaca sebagai biang keladinya. Beberapa cara dilakukan pemerintah mengatasi lonjakan ini, yang terkesan tak mampu mengatasi problem musiman ini. Salah satunya dengan memberikan benih cabai gratis untuk ditanam tiap ruman tangga dengan sasaran para ibu. Tentu saja program yang terkesan dadakan ini tak akan banyak menfaatnya, karena cabai baru bisa dipanen pada umur 2,5-3 bulan.
Namun, alih-alih menjawab persoalan naiknya harga, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman justru melontarkan pernyataan yang menghina akal sehat. Menteri mengatakan salah satu cara paling rasional menekan permintaan cabai yakni meminta ibu-ibu menanam cabai di rumah. Ajakan yang baik tapi tidak menjawab masalah ini justru merugikan perempuan saat Menteri mengatakan: "Persoalannya mau apa tidak. Kurangi makeup, kalau sedikit tak apalah agar disayang suami. Jangan malas tanam cabai di rumah," ucap Amran di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Kamis (Detik.com, 12/01/2017).
Kami, Perempuan Pegiat Keadilan Sosial dan Ekologis (Ecosisters) menyatakan keprihatinan atas pernyataan Menteri Pertanian yang tidak proposional, tidak relevan dengan cara menyudutkan perempuan. Beberapa hal yang mendasari keprihatinan ini sebagai berikut:
1. Tidak ada hubungan antara harga cabai yang melambung dengan penggunaan make-up perempuan.
2. Siapa pun, terutama pejabat publik seharusnya tidak melakukan stereotype (pelabelan negatif) atas perempuan dengan pernyataan : "12 jam melanjutkan gosip", meminta "kurangi Make-up" agar bisa tanam cabai. Pelabelan negatif melahirkan diakriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan;
3. Kenaikan harga cabai selain diakibatkan faktor cuaca, juga akibat sistem perdagangan yang tidak adil bagi petani dan permainan di tingkat pasar oleh para spekulan/ pengusaha besar;
4. Petani kecil sama sekali tidak merasakan kenaikan harga cabai karena harga jual di tingkat petani masih tetap sama saat harga pasar melonjak
5. Pernyataan Mentan seakan membebankan tanggungjawab kenaikan harga cabai kepada perempuan, dan mengalihkan pembahasan mengenai tanggungjawabnya atas situasi ini.
Atas dasar keprihatinan di atas, maka kami menuntut:
1. Menteri Pertanian segera meminta maaf secara terbuka kepada perempuan Indonesia dan menarik pernyataanya;
2. Pemerintah, khususnya Menteri Pertanian melakukan langkah nyata memberikan perlindungan bagi para petani cabai dari ketidakaadilan sistem perdagangan saat ini;
3. Pemerintah segera memperkuat dan melindungi sentra-sentra basis produksi pertanian pangan lokal dari kebijakan impor pangan dan kebijakan perdagangan bebas yang mematikan sumber penghidupan petani lokal.
4. Pemerintah segera memutus mata rantai tengkulak demi melindungi petani Indonesia dan menstabilkan harga cabai.
5. Kementerian Pertanian meningkatkan pengetahuannya secara komprehensif tentang peran perempuan dalam rantai produksi dan konsumsi pangan, agar program-programnya berkeadilan gender.
Ecosisters Indonesia, Kontak ecosistersindo@gmail.com
Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan
Perkembangan terakhir petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 13 Januari 2017