Tolak kehadiran Tambang Emas Silo

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.500.


Jember di antara Pertanian Berkelanjutan VS Tambang

Jember merupakan Kabupaten yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini menjadi sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Jember tahun 2015-2035. Dalam RTRW Kabupaten Jember BAB II pasal 6 tahun 2015 – 2035, berbunyi “Penataan Ruang Kabupaten Jember bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah Kabupaten yang berbasis agribisnis didukung oleh pertanian yang berkelanjutan, pariwisata, dan usaha ekonomi produktif yang berbasis potensi lokal”.

Dengan adanya RTRW tersebut, sudah jelas bahwa Kabupaten Jember memang direncanakan sebagai kabupaten yang berbasis pertanian. Akan tetapi, nampaknya hal ini tidak diindahkan oleh pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang pada tanggal 23 April 2018 menerbitkan Keputusan Menteri 1802 K/30/MEM/2018 tentang Wilayah Izin Usaha Pertambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus. Dengan adanya Keputusan Menteri tersebut, maka resmi blok Silo dapat dijadikan sebagai lokasi pertambangan emas. Hal ini tentu tidak sesuai dengan RTRW kabupaten Jember yang mengamanahkan bahwa Kabupaten Jember harus dikelola sebagai kabupaten yang asri, berbasis pada pertanian, serta pariwisata, dan bukan pertambangan.

Masyarakat Silo menolak keras dihadirkannya tambang emas di tanah Silo. Sudah jelas, bahwa Bupati Kabupaten Jember pada tanggal 20 September 2018 telah menemui menteri ESDM, Ignasius Jonan untuk menegaskan bahwa masyarakat Silo menolak kehadiran tambang emas, dilansir dari antaranews.com. Akan tetapi, dinas provinsi ESDM tetap berambisi untuk mempercepat diadakannya lelang. Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada manfaat yang nyata atas usaha diplomasi Bupati Jember dengan Menteri ESDM, termasuk dengan surat keberatan yang telah dilayangkan Bupati kepada pemerintah provinsi.

Berbagai upaya telah dilakukan. Penyampaian aspirasi secara diplomatif hingga jalur turun jalan telah dilakukan. Pada 20 September 2018, PMII Jember telah menggelar demonstrasi untuk menolak terbitnya Keputusan Menteri ESDM. Perjuangan melalui jalur turun jalan pun, kembali PMII gelar pada tanggal 7 Desember 2018 dan dihadiri ratusan mahasiswa. Bahkan, hari Selasa, 11 Desember 2018, masyarakat Silo dengan sebanyak 2.500 massa telah bersiap untuk menumpahkan aspirasinya di jalanan menuju kantor DPRD Kabupaten Jember dan dilanjutkan longmarch ke muara aksi, di Kantor Pemkab Jember. Realitas ini perlu diketahui dan diinformasikan dengan jernih kepada masyarakat di seantero Indonesia, sehingga PMII Rayon FKIP Universitas Jember membuka petisi online ini.



Hari ini: PMII RAYON FKIP UNEJ mengandalkanmu

PMII RAYON FKIP UNEJ membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Masyarakat Indonesia: Tolak kehadiran Tambang Emas Silo". Bergabunglah dengan PMII RAYON FKIP UNEJ dan 1.379 pendukung lainnya hari ini.