Kemenangan

Usut Ketidakadilan bagi Verell anak autis yang kompeten

Petisi ini membuat perubahan dengan 1.329 pendukung!


Nama saya Jeanny Herawati, anak saya Verell. Dan ini keluh kesah saya atas diskriminasi terhadap Verell, penyandang Autisme ringan, yang kami alami di sekolah SDK St. Maria II, Malang.
Selama ini, Verell senang dan bangga bisa mengenyam pendidikan yang baik di sana, hingga Mei 2018 lalu ketika kenaikan kelas 5 ke kelas 6, Verell "dipaksa" harus mengundurkan diri dari sekolah yg selama ini menaunginya, dengan sepihak & tanpa alasan yg jelas, yang mana gejalanya mulai terasa sejak Suster Veronique Marie SPM, Kepala Sekolah yg baru tahun lalu ditugaskan mengepalai sekolah ini, pada saat baru menjabat tiba2 beliau memanggil saya dan mulai mempermasalahkan sesuatu yg selama 4 tahun berjalan tidak pernah menjadi masalah, seperti: Verell hanya pandai di bidang2 khusus seperti Matematika dan Bahasa Inggris, sedangkan di pelajaran2 lain yang dituntut penalaran seperti PKN & Bahasa Indonesia, Verell kurang tertarik, sehingga kurang memperhatikan. Dan ini dipandang beliau sudah mengganggu kelas, meskipun hanya kurang fokus dan malas mencatat saja, tanpa mengganggu kelas (teman & guru). Pada saat itu Suster Kepsek ybs mempertanyakan apakah Verell diterapi scr khusus, mengharuskan Verell diterapi, yang selanjutnya juga kami patuhi (yang memang membantu Verell lebih fokus & menghasilkan pernyataan lagi bahwa Verell layak di sekolah normal). Namun pada saat itu terucap jelas bahwa tanpa empati dan nurani sedikitpun, Suster Kepsek ybs tidak menginginkan supaya Verell terus belajar di sekolahnya, dan menyarankan Homeschooling. Meskipun sebenarnya sebelum masuk SD dari TK yg sama, Verell sudah memegang sertifikat dari sebuah lembaga psikologi yg menyatakan bahwa Verell LAYAK bersekolah di sekolah biasa.
Hari2 berikutnya, saya banyak menangis & berdoa di gereja agar Tuhan mengetuk hati Suster agar Verell tidak dikeluarkan hanya karena tidak mau mencatat pelajaran tertentu yg tidak disukainya. Dan Suster ybs sempat melunak dan menyatakan bhw Verell masih diperbolehkan lanjut. Mengingat hanya tinggal 1th saja sudah kelas 6.
Selama ini Verell memang mampu mengikuti pelajaran dg cukup baik. Memang nilai2 pelajarannya tidak termasuk di golongan yg sangat baik, namun juga tidak buruk, krn masih banyak anak lain yg nilai2nya jauh di bawah Verell. Verell juga tidak pernah menyusahkan guru, sekolah, ataupun mengganggu teman di kelas maupun di luar kelas. Bahkan untuk presentasi & main drama pun Verell mampu!

Tibalah saat setelah Ujian Penilaian Akhir Tahun sebelum penerimaan Rapor (saat itu nilai2 Rapor belum diinput). Nilai2 PAT sudah keluar dg hasil cukup baik dg nilai 60 untuk Bahasa Indonesia, 68 untuk PKN (di bawah KKM), dan di rentangan 70-90 untuk pelajaran2 lain. Namun kami dikagetkan kembali dg adanya panggilan dari pihak sekolah melalui guru kelas Verell, yg mempermasalahkan hal2 yang bahkan belum terjadi seperti:
*bagaimana jika nanti pada saat ujian kelas 6 dijaga guru dari sekolah lain?
*bagaimana jika nanti Verell tidak lulus?
*dsb.
Dan menurut guru kelas ybs, dari perdebatan panjang di Forum Guru (bukan berdasarkan history nilai2 Verell), diungkapkanlah opsi untuk tidak menaikkan Verell ke kelas 6, dg pertimbangan "lebih baik tidak naik kelas karena hanya diketahui lingkungan sekolah saja, daripada nantinya tidak lulus".
Kami bertanya, apakah sekolah khawatir nantinya kelulusan SD tidak 100% gara2 Verell? Dan dijawab bahwa kekhawatiran itu HANYA SEBAGIAN KECIL. Pada saat itu kami berpikir:
1. Lalu apa sebenarnya hal yang lebih besar & prinsip, yang menjadi kekhawatiran sekolah ini?
2. Alangkah hebatnya orang2 di sekolah ini, bisa memprediksi hal2 yang akan datang & memvonis nantinya Verell akan tidak lulus. Sedangkan anak2 lain yg nilainya jauh di bawah Verell, sepertinya dijamin akan lulus hanya karena mereka normal, bukan penyandang Autisme.

Singkat cerita, diberikanlah opsi berikut kepada kami:
1. Verell tidak naik kelas,
2. Verell naik kelas namun melanjutkan Homeschooling atau pindah ke sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (BUKAN sekolah normal).
Pada saat itu kami diberi kesempatan mempertimbangkan 2 opsi ini, dan harus sudah memberikan keputusan SEBELUM Rapor diisi. Dan di bawah tekanan dan pertimbangan yang sangat berat, kami terpaksa memutuskan Verell naik kelas dengan selanjutnya menempuh Homeschooling. Dan ternyata Suster Kepsek melalui guru kelas memberikan syarat di mana nanti untuk mengambil Rapor, saya harus membawa Surat Keterangan yang menyatakan bahwa Verell sudah diterima di Homeschooling, yang belum kami miliki. Dan benar: Rapor Verell ditahan! Melalui proses persuasi yang gagal, kami juga mempertanyakan kenapa anak2 yang nilai2nya jauh di bawah Verell bisa naik kelas, sedangkan Verell tidak. Guru kelas ybs malah terkesan menantang dg pertanyaan balik yang justru beliau sendiri yang bisa menjawab siapa anak2 yang kami maksud tersebut, yang mana tentunya tidak etis jika kami ungkapkan meskipun sebenarnya kami tahu persis siapa2 saja.

Dalam liburan kenaikan kelas dan Idul Fitri, dalam kesedihan dan keputusasaan, kami mati-matian mencari rekomendasi sekolah yang cocok untuk Verell, sampai akhirnya menemukan orang2 baik yang mau menerima Verell di lembaganya yang memiliki sekolah normal & sekolah kebutuhan khusus. Dalam proses wawancara di sana, Kepala Sekolah tersebut juga menyatakan bahwa Verell layak diterima di sekolahnya yang normal. Selanjutnya memberikan bantuan surat yg menyatakan bahwa Verell bersekolah di sekolah kebutuhan khusus di lembaganya. Karena adanya surat dari sekolah baru tersebut, keluarlah Rapor Verell dari SDK St. Maria II dengan nilai yang bagus2, sama sekali tidak mencerminkan kondisi sebelumnya yang "tidak layak naik kelas".
Kami begitu terharunya dg bantuan yang tidak terduga ini, & jadi berpikir, kenapa Sr. Veronique begitu diskriminatifnya? Dan sebagai seorang biarawati Katolik yang seharusnya mengedepankan cinta kasih, namun begitu kejamnya, tanpa nurani & tanpa empatinya kebijakan Sr. Veronique Marie SPM selaku Kepala Sekolah SDK St. Maria II ini, sampai2 harus orang luar yang sebelumnya tidak kami kenal yang menolong kami mengeluarkan Rapor Verell yang ditahan.
Kenapa kami rasakan kejam?
1. Karena anak normal non-Autistik saja, dipaksa pindah sekolah ketika akan naik ke kelas 6, tentu amat berat baginya untuk mengejar kelulusan SD sembari menyesuaikan diri dengan segala situasi sekolah baru, teman2 baru, cara penyampaian kurikulum yg berbeda, dsb. Apalagi anak dg Autisme seperti Verell. Toh, Verell sudah membuktikan bahwa ia mampu belajar di sekolah normal hingga tuntas kelas 5. Kenapa tidak waktu kelas 2 atau 3 dipermasalahkan dan diminta pindah?
2. Rapor ditahan dengan "tuntutan" Verell harus bersekolah di sekolah kebutuhan khusus; yang mana sebenarnya bukanlah urusan sekolah ini, Sr. Veronique, ataupun guru2nya jika sekolah "normal" yang lain berkenan menerima Verell.

Sekadar untuk diketahui, Verell juga mempunyai kemampuan khusus yg sangat baik pada Peta-peta (Geografi), di mana hal yang di luar negeri dipandang istimewa, hal seperti ini sama sekali tidak dipandang sekolah sebagai suatu keistimewaan. Sebaliknya hanya stigma negatif tentang Autisme Verell lah yang dimunculkan pihak sekolah, yg menunjukkan bahwa SDK Santa Maria II (khususnya Sr. Veronique Marie SPM sebagai Kepala Sekolah) sebagai sekolah Katolik yang bermisi tanggap, solider, peka, empati, peduli, punya belas kasih, dan sebagainya, ternyata tidak ramah Autisme. Bahkan sebagai sebuah sekolah Terakreditasi A, sekolah ini tidak transparan dengan nilai2 siswa, karena nilai Rapor saja bisa disulap sekehendak sekolah dan kepentingan/idealisme Suster Kepala Sekolahnya. Karena itu mohon diaudit dan diusut tuntas. Mengingat untuk mengeluarkan Rapor Verell saya masih juga diharuskan membuat & menandatangani surat permintaan pindah sekolah, yang ternyata juga diketahui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.



Hari ini: Jeanny mengandalkanmu

Jeanny Herawati membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Ketua Perkumpulan Dharmaputri : Keadilan bagi Verell anak autis yang kompeten". Bergabunglah dengan Jeanny dan 1.328 pendukung lainnya hari ini.