Awasi dan Tertibkan Penyalahgunaan Senapan Angin Sesuai Amanat Perkap No. 8 Tahun 2012

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


Perburuan satwa liar menggunakan senapan angin merupakan momok bagi kehidupan satwa di habitatnya. Banyak komunitas ataupun individu pemburu bersenapan angin tersebar di berbagai wilayah Indonesia menjadikan satwa liar sebagai sasaran tembak. Ironis, satwa dilindungi Undang-Undang tak luput menjadi target buruan.

Kemarin, seekor Orangutan betina dan bayinya ditemukan dalam keadaan luka parah di Aceh. Badannya terluka disayat parang, dan 73 peluru senapan angin ditemukan di sekujur tubuhnya! Sementara bayinya mati di tangan petugas karena trauma dan dehidrasi.

Di tahun 2018, kasus perburuan satwa langka viral di media sosial.  Seperti kasus perburuan Burung Julang emas di Sulawesi ataupun kasus perburuan Macan akar di Riau yang dipamerkan oleh para pemburu di jejaring Facebook. Kasus yang paling memilukan ditemukannya orangutan mati dengan 130 butir peluru tertanam dalam tubuhnya di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Tak hanya ketiga kasus itu, diperkirakan masih banyak lagi kegiatan perburuan satwa dilindungi yang tidak terpublikasi.

Bagaimana bisa perburuan satwa langka dengan senapan angin ini masih banyak terjadi?

Padahal peraturan tentang penggunaan senapan angin sudah tertera cukup jelas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat (1) dan (3), senapan angin (air rifle) termasuk ke dalam senjata api olahraga yang pemakaiannya hanya digunakan untuk menembak sasaran atau target. Sedangkan dalam pasal 5 ayat (3), Senapan angin (air rifle) hanya dilakukan di lokasi pertandingan dan latihan.

Pemegang izin senjata api untuk kepentingan olahraga juga memiliki kewajiban untuk tidak melakukan alih status atau fungsi penggunaan senjata api olahraga untuk kepentingan lain (dalam hal ini senapan angin yang seharusnya untuk tembak target digunakan untuk berburu) pada Pasal 40 ayat (e).

Sementara untuk berburu, dijelaskan dalam Pasal 41 bahwa Pemegang Senjata Api untuk kepentingan olahraga dilarang menggunakan atau menembakkan senjata api di luar lokasi latihan, pertandingan, dan berburu. Sementara itu untuk berburu diperlukan izin dari Polres ataupun Polda setempat.

Selain itu setiap orang yang memiliki senapan angin berkewajiban untuk memiliki izin dari Kepolisian dengan persyaratan tertentu. Hal ini ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (1), yaitu :

Persyaratan untuk dapat memiliki dan/atau menggunakan Pistol Angin (Air Pistol) dan Senapan Angin (Air Rifle) untuk kepentingan olahraga sebagai
berikut:

  1. Memiliki kartu tanda anggota klub menembak yang bernaung di bawah Perbakin;
  2. Berusia paling rendah 15 (lima belas) tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima) tahun;
  3. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan Surat Keterangan dari Dokter serta Psikolog; dan
  4. Memiliki keterampilan menembak yang dibuktikan dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Pengprov Perbakin

Untuk pengajuan permohonan izin kepemilikan senjata api sesuai dengan Pasal 20 ayat (1), pemohon wajib :

a. Mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kapolda u.p. Dirintelkam dengan tembusan Kapolres Setempat, dilengkapi dengan persayaratan

b. Mengajukan permohonan izin kepada Kapolri u.p Kabaintelkan Polri tembusan setempat dengan dilengkapi rekomendasi Kapolda dan ketua Pengprov Perbakin setempat.

Perbakin (Persatuan Penembak Indonesia) sendiri mengeluarkan Surat Edaran No. 257/Sekjen/PB/III/2018 perihal Penggunaan Senapan Angin atas tindaklanjut dari surat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 perihal penggunaan Senapan Angin dalam Tindak Pidana Kehutanan dan menghimbau bagi anggota Perbakin agar tidak menggunakan senapan angin untuk berburu, melukai dan membunuh binatang.

Sudah jelas dari ketetapan pasal-pasal ini, penggunaan senapan angin untuk menembak satwa liar sudah diluar konteks. Satwa liar jelas bukan target tembak dan lokasinya juga diluar dari ketentuan lokasi tembak.

Dalam Pasal 35 dijelaskan bahwa pengawasan dan pengendalian perizinan senjata api, peluru, pistol angin (air pistol), senapan angin (Air rifle) dan airsoft gun dilaksanakan pada tingkat: 

a. Polres

b. Polda; dan

c. Mabes Polri 

Pengawasan dan penertiban senapan angin dapat mengurangi perburuan satwa liar sehingga dapat mengurangi penyiksaan dan kekejaman pada satwa, bahkan dapat mengurangi angka perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia! 

Maka dari itu kami meminta kepada aparat penegak hukum, awasi dan tertibkan penyalahgunaan senapan angin sesuai amanat Peraturan Kapolri No. 8 tahun 2012!

Salam,

Pembela Satwa Liar

Baca peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga Disini : http://gardaanimalia.com/pembunuhan-satwa-liar-dengan-senapan-angin-menjadi-jadi/

Instagram : @pembelasatwaliar

Facebook page : Pembela Satwa Liar

Twitter : @pembelasatwa

Website : https://gardaanimalia.com/