Frantinus Nirigi Korban Arogansi Maskapai Penerbangan Lion Air

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.500.


Kuasa Hukum: Sikap Pramugari Kasar, Kepanikan Bukan Karena Ucapan FN

PONTIANAK, SP - Penasehat hukum FN dari Firma Hukum Ranik, Marcelina Lin meyakini kepanikan di pesawat Lion Air JT 687, bukan karena reaksi ucapan bom yang dikatakan FN, melainkan dari peringatan pramugari di pesawat.

Marcelina mengatakan, FN memang mengatakan adanya bom di dalam tasnya. Namun tidak dengan berteriak, hanya dengan suara pelan.

"Hati-hati bu menyimpan tas saya, karena disitu ada tiga buah laptop,” ujarnya menirukan perkataan FN, usai menjenguk di Polresta Pontianak, Rabu (30/5).

Pramugari justru menanggapi perkataan FN dengan reaksi tak mengenakkan. Tas FN diletakkan dengan cara kasar, karena kabin sudah hampir penuh.

Tas tersebut berisi tiga laptop. Titipan saudara FN. Hanya satu yang masih layak pakai. Sementara dua laptop lainnya rusak dan rencananya diperbaiki di Papua.

“Kemudian dia bilang hati-hati bu ada bom. Tetapi tidak berteriak,” imbuhnya.

Setelah mendengar pernyataan FN tersebut, pramugari menegur FN dengan keras dan mengatakan tidak boleh seperti itu (mengatakan bom).

Kemudian FN langsung menunduk sambil mengaku bersalah serta meminta maaf kepada pramugari.

Sementara itu, kepanikan penumpang lain di pesawat tersebut pun muncul setelah adanya peringatan dari pramugari sebanyak tiga kali.

Pramugari menyatakan ada penumpang yang membawa bahan peledak.

Pada imbauan pertama tidak disebutkan adanya isu bahan peledak. Namun pada imbauan kedua, disebutkan bahwa adanya penumpang diduga membawa bahan peledak.

“Diimbau kepada seluruh penumpang untuk keluar melalui pintu depan, karena ada salah satu orang penumpang diduga membawa bahan peledak. Itulah yang membuat panik,” jelasnya berdasarkan hasil pertemuannya dengan FN.

Menurutnya, hal itulah yang membuat penumpang panik hingga beberapa terjatuh.

Sebelum imbauan tersebut, FN juga sempat diminta keluar melalui pintu depan pesawat sambil membawa tasnya untuk diperiksa oleh security bandara bersama pramugari.

Pasca diperiksa, pramugari memerintahkan FN untuk kembali duduk dan menyimpan tasnya di kabin.

“Setelah menyimpan tas itu Frans duduk,” ujarnya.

Usai pemeriksaan, pramugari masuk ke ruang pilot untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Mengetahui hal itu, pilot yang merupakan orang asing keluar sambil marah dan berkata dengan berbahasa Inggris, berselang kurang lebih dua menit dari waktu pemeriksaan.

Dalam kejadian tersebut, Marcelina menyebutkan FN sempat bingung dan tidak menyangka bahwa dia penumpang yang dimaksud oleh pramugari melalui pengeras suara.

Dia mengatakan, jika cerita tersebut tidak benar, maka tidak mungkin FN dapat bercerita dengan lugas kepada pihaknya.

Sumber: Suarapemredkalbar.com 

 



Hari ini: Hendra mengandalkanmu

Hendra Tjipta membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Perhubungan Republik Indonesia: Frantinus Nirigi Korban Arogansi Maskapai Penerbangan Lion Air". Bergabunglah dengan Hendra dan 1.344 pendukung lainnya hari ini.