Jangan Hapus Mata Pelajaran Bahasa Inggris ditingkat SD/MI, Jangan Hilangkan Hak kami.

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Bapak-Ibu, Adik-Kakak, Teman-teman, Saudara-saudaraku sebangsa & setanah air Indonesia,

Saya, Muhlison, mewakili diri saya sendiri dan guru-guru Bahasa Inggris SD/MI se antero Negeri Indonesia Tercinta, hadir di sini menulis sebuah petisi yang membutuhkan dukungan Anda semua di luar sana.

Bukan rahasia lagi bahwa sejak dulu hingga sekarang, Bahasa Inggris adalah sebuah kemewahan bagi banyak warga Negara Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah. Padahal, kebutuhan berbahasa Inggris hampir tidak bisa dihindari. Memasuki era globalisasi, berbagai hal yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan hidup dan pekerjaan menggunakan sistem komputerisasi yang berbahasa Inggris, bahkan yang menggunakan sistem manual pun ada yang berbahasa Inggris. Kebanyakan sumber informasi dan pengetahuan di internet berbahasa Inggris. Buku teks universitas kebanyakan berbahasa Inggris. Bahasa Inggris diperlukan oleh setiap warga sebagai sarana komunikasi, baik dalam keperluan pendidikan/pekerjaan di luar negeri maupun dalam keperluan menghadapi/melayani wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Dapat dikatakan secara singkat, Bahasa Inggris menjadi salah satu prasyarat penting dalam memasuki era globalisasi.  

Lalu solusi apa yang ditawarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terhadap kebutuhan akan bahasa Inggris tersebut? Kurikulum baru (Kurikulum 2013) yang meniadakan Bahasa Inggris dari daftar mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD Sederajat)! Alasannya? Agar Bahasa Indonesia peserta didik di SD/MI menjadi lebih baik. Padahal peserta didik SD/MI sangat perlu memliki dasar keterampilan & kemampuan dasar berbahasa Inggris sebelum mereka menerima pendidikan keterampilan & kemampuan berbahasa Inggris tingkat selanjutnya di SMP.

Saya setuju bahwa masih banyak penggunaan Bahasa Indonesia yang belum benar oleh berbagai lapisan masyarakat termasuk peserta didik di SD/MI. Tapi apakah hal tersebut terjadi karena diajarkannya Bahasa Inggris di SD/MI yang hanya 2 jam pelajaran (2 X 35 menit) per minggu itu? Padahal 32-34 jam pelajaran sisanya digunakan untuk mengajarkan mata pelajaran lainnya dengan mengunakan Bahasa Indonesia. 

Jika dikonfirmasi tentang ditiadakannya atau dihapuskannya Bahasa Inggris di SD/MI ke pihak Kemendikbud, maka jawaban yang diberikan adalah  sebenarnya Bahasa Inggris di SD/MI tidak dihapuskan. Namun jika memang benar Bahasa Inggris di SD/MI tidak dihapuskan, mengapa dalam Kurikulum 2013 tidak dicantumkan mata pelajaran Bahasa Inggris dalam daftar mata pelajaran yang diajarkan di SD/MI? Selama ini Bahasa Inggris hanya menjadi mata pelajaran yang dimasukkan ke muatan lokal. Mengingat akan pentingnya Bahasa Inggris dalam memasuki era globalisasi, seharusnya dalam kurikulum yang baru (Kurikulum 2013) mata pelajaran Bahasa Inggris ditingkatkan menjadi mata pelajaran pokok, bukannya malah ditiadakan.Kemudian informasi berkembang bahwa Bahasa Inggris hanya akan menjadi materi Pengembangan Diri atau bagian dari kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Tapi hal itu juga tidak dicantumkan dalam Kurikulum 2013. Yang tercantum di sana adalah kegiatan ekstrakurikuler di SD/MI meliputi Pramuka (wajib), PMR, dan UKS (dua yang terakhir sebagai kegiatan ektrakurikuler pilihan). Kalaupun Bahasa Inggris dijadikan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler pilihan, maka yang terjadi nantinya adalah kegiatan pembelajarannya terkesan seperti di lembaga pendidikan les/kursus Bahasa Inggris yang pesertanya didominasi oleh mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas karena dapat dipastikan bahwa yang memilih kegiatan ekstra kurikuler (pilihan) Bahasa Inggris adalah mayoritas mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas yang di luar jam sekolah cenderung tidak memiliki kewajiban membantu meringankan pekerjaan orang tuanya dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Hal ini pun menyulut kebingungan di kalangan kepala sekolah dan guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SD/MI, baik negeri maupun swasta, sehingga yang terjadi sekarang ini adalah :

1.      Tidak sedikit guru Bahasa Inggris di SD/MI, baik negeri maupun swasta, yang terpaksa beralih menjadi guru kelas/mata pelajaran lain dan tidak sedikit juga yang terancam kehilangan pekerjaannya sebagai guru karena tidak bisa beralih menjadi guru kelas/mata pelajaran lain disebabkan oleh sudah terpenuhinya kebutuhan akan guru kelas/mata pelajaran lain di sekolah tersebut. Padahal kami masih harus menghidupi diri kami dan keluarga kami.

2.      Tidak sedikit juga guru Bahasa Inggris di SD/MI, baik negeri maupun swasta, yang sudah bersertifikat sebagai guru profesional bidang Bahasa Inggris harus kehilangan tunjangan sertifikasi kami dikarenakan hal ini. Padahal waktu mengikuti PLPG untuk mendapatkan sertifikat itu, kami diberikan diklat untuk menjadi guru profesional bidang Bahasa Inggris di SD/MI, bukan untuk di SMP/SMA/SMK. Ruangan (kelas) tempat kami diberikan diklat tersebut juga dikhususkan untuk guru-guru Bahasa Inggris SD/MI atau dipisahkan dari guru-guru Bahasa Inggris SMP/SMA/SMK.

Jika dikonfirmasi tentang hal tersebut ke pihak Kemendikbud & Kemenag Kota/Kabupaten, maka jawaban yang diberikan adalah guru Bahasa Inggris yang bersangkutan (baik yang sudah bersertifikat maupun yang belum) harus mutasi ke SMP/SMA/SMK sederajat karena Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran pokok di SMP/SMA/SMK sederajat . Namun kenyataannya mutasi ke SMP/SMA/SMK sederajat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di samping itu, banyak SMP/SMA/SMK sederajat yang telah terpenuhi kebutuhannya akan guru Bahasa Inggris, serta jumlah guru Bahasa Inggris SD/MI yang harus mutasi lebih banyak daripada jumlah SMP/SMA/SMK sederajat yang ada dan juga lebih banyak daripada jumlah kebutuhan akan guru Bahasa Inggris di SMP/SMA/SMK sederajat.        

Berdasarkan hal yang telah kami paparkan di atas, dengan petisi ini saya, Muhlison, mewakili diri saya sendiri dan guru-guru Bahasa Inggris SD/MI, menuntut agar secepatnya:

1.      Dilakukan revisi terhadap Kurikulum 2013 dengan menjadikan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pokok di SD/MI di seluruh Indonesia sehingga dapat diterapkan di tahun ajaran 2018/2019 dan tahun-tahun ajaran selanjutnya. Hal ini tentu saja harus diimbangi dengan perumusan muatan kurikulum & pedoman pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris tsb dengan sangat matang sehingga tepat sasaran.

2.      Pemerintah melanjutkan penyaluran tunjangan sertifikasi kepada kami, guru-guru Bahasa Inggris SD/MI, tanpa kami harus mutasi dari SD/MI karena kami, guru-guru Bahasa Inggris SD/MI, telah diberikan diklat untuk menjadi guru profesional bidang Bahasa Inggris di SD/MI, bukan untuk di SMP/SMA/SMK sederajat.

Terima kasih,

Muhlison dan yang Terwakilkan



Hari ini: Muhammad mengandalkanmu

Muhammad Muhlison membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI: Jangan Hapus Mata Pelajaran Bahasa Inggris ditingkat SD/MI dan Jangan Hilangkan Hak kami.". Bergabunglah dengan Muhammad dan 42 pendukung lainnya hari ini.