Kupiah Meukutop Warisan Pidie (Aceh)

0 have signed. Let’s get to 100!



Kupiah Meukutop atau dikenal juga dengan nama Kupiah Tungkop merupakan sebuah warisan budaya Aceh yang sudah dikenal sejak zaman dahulu pada masa kolonial.

Namun, Kupiah Meukutop masih mengandung sedikit unsur kontroversial. Hal ini berkaitan dengan asal usul lahirnya kupiah Meukutop. Sebagian pihak menyebut bahwa Kupiah Meukutop berasal dari Meulaboh, Aceh Barat.

Namun sebagian pihak juga menyebut bahwa Kupiah meukeutop ini berasal dari pemukiman Tungkop, tepat di gampong RawaTungkop Kecamatan Indrajaya Kabupaten Pidie.

Berdasarkan beberapa literatur Kupiah Meukutop pertama sekali di buat oleh nenek Sapiah pada jaman Belanda dulu.

Bersadarkan penuturan orang tua di gampong tersebut, dulu pada zaman kolonial, dimana bangsa Belanda yang menguasai kepulauan Indonesia saat itu sering datang mengunjungi rumah nek Sapiah untuk melihat, mengambil gambar kupiah tungkop dan gambar rumah Aceh almarhumah nek Sapiah.

Dewasa ini, kelompok yang menjaga Kupiah Meukutop ada di Tungkop. Bahkan sudah terbentuk satu kelompok pengrajin yang diberi nama Tungkop indah,  yang diketuai oleh Ibu Fatmawati. Kelompok ini sudah berdiri beberapa tahun yang lalu. Berdirinya kelompok pengrajin ini sudah memberikan kontribusinya untuk memperkenalkan kembali warisan budaya Aceh. Bahkan, gubernur Aceh pernah mengunjungi desa Rawa Tungkop untuk melihat, mengapresiasikan, bahkan membeli karya-karya tangan dari Kelompok pengrajin Kupiah Meukeutop ini.

Kupiah Meukutop memiliki 5 warna, setiap warna mempunyai nilai filosofis tersendiri. Pada warna merah melambangkan kepahlawanan, warna kuning artinya kerajaan atau negara, warna hijau menandakan agama, warna hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sedangkan warna putih bermakna kesucian atau sebuah keikhlasan. 

Kupiah Meukutop juga terbagi dalam 4 bagian. Sama halnya seperti warna kupiah meukeutop, tiap bagian pun juga mempunyai arti tersendiri. Pada bagian pertama bermakna hukum, pada bagian kedua, bermakna adat, sedangkan pada bagian ketiga bermakna kanun dan pada bagian keempat bermakna reusam.

Sementara itu bentuk dan juga motif kupiah meukeutop secara umum sama. Hanya saja warna pada kain songket yang membalut lingkaran kupiah berbeda. Umumnya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian adat.

Mengingat dan menimbang usaha yang telah dilakukan oleh Kelompok Tungkop Indah dalam menjaga warisan budaya Aceh, dan untuk menjaga kebenaran asal muasalnya. Maka sudah sepatutnya semua kalangan membantu untuk usaha kelompok pengrajin tersebut. Bahwa Kupiah Meukutop merupakan warisan budaya asli dari masyarakat Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.


Pidie, 7 Maret 2019
Fatmawati
Kelompok Pengrajin Tungkop Indah