Petisi ditutup

karo bukan batak

Petisi ini mencapai 251 pendukung


Karo bukan batak ialah PERNYATAN yang didasari dari hasil fakta dilapangan sebagai pembuktian bahwa suku karo memang sangat berbeda dengan suku batak. Oleh sebab itu, tulisan ini saya terbitkan untuk mempermudah
mendalami bagaimana kesebenaranya yang terkandung dalam pernyataan itu tadi. Adapun beberapa fakta yang bisa menjadi acuan dalam menyikapi pertanyaan untuk menjawab beberapa perbedaan antara karo dan batak ialah sebagai berikut,

Dari sisi Bahasa,
Bahasa karo dan bahasa batak sangatlah berbeda, hal ini bisa kita lihat dari dialek yang tidak sinkron antara karo dan batak. Oleh sebab itu, kita bisa lihat sendiri bahwa seorang karo berbicara dengan bahasa karo tidak akan saling mengerti jika lawan bicaranya seseorang yang bersuku batak dengan menggunakan bahasa batak. Patut di apresiasi adanya bahasa indonesia sebagai perantara terbaik sesama laskar indonesia yang berasal dari latar belakang yang berbeda suku.
Dari sisi wilayah,
Menurut catatan sejarah, wilayah sumatera bagian utara dimulai dari perbatasan riau sampai ke perbatasan aceh tenggara dulunya adalah tanah ulayat orang karo, hal ini sesuai dengan penamaan nama wilayah tersebut yang masih lebih kental kaitanya dengan bahasa karo,
Sebagian besar dapat dijabarkan sebagai berikut :
Medan, medan adalah nama ibukota provinsi sumatera utara yang dalam catatan sejarah berawal dari sebuah kampung yang diberi nama (madan) oleh putra suku karo, pembuka kampung tersebut bernama Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi, nama kampung tersebut berartikan sehat jika kita translit ke bahasa indonesia, disebut kampung madan atau sehat dikarenakan pembuka kampung tersebut dikenal sebagai Tabib yang bisa mengobati beberapa macam penyakit, oleh karena ketenaran beliau dalam mengobati sehingga menjadi catatan sejarah jika hendak ke wilayah tersebut selalu hanya tertuju ke kampung madan untuk berobat kepada beliau, dikenalnya nama kampung tersebut menjadi landasan hingga kini bagi orang banyak dan menjadi nama kebesaran wilayah sebagai wilayah ibukota provinsi. Untuk mengenang jasa beliau, kini telah terbukti adanya patung kebesaran Guru Pa Timpus Sembiring Pelawi yang terletak posisi di sekitar kota medan dan tak lepas dari peran pemerintah setempat sebagai penghormatan kepada beliau.
Kota Binjai, kata "Binjai" merupakan kata baku dari istilah "Binjéi" yang merupakan makna dari kata "ben" dan "i-jéi" yang dalam bahasa Karo artinya "bermalam di sini". Pengertian ini dipercaya oleh masyarakat asli kota Binjai, khususnya etnis Karo merupakan cikal-bakal kota Binjai pada masa kini. Hal ini berdasarkan fakta sejarah, bahwa pada masa dahulu kala, kota Binjai merupakan perkampungan yang berada di jalur yang digunakan oleh "Perlanja Sira" yang dalam istilah Karo merupakan pedagang yang membawa barang dagangan dari dataran tinggi Karo dan menukarnya (barter) dengan pedagang garam di daerah pesisir karo seputaran Langkat. Perjalanan yang ditempuh
Perlanja Sira ini hanya dengan berjalan kaki menembus hutan belantara menyusuri jalur tepi sungai dari dataran tinggi Karo ke pesisir Langkat dan tidak dapat ditempuh dalam waktu satu atau dua hari, sehingga selalu bermalam di tempat yang sama, begitu juga sebaliknya, kembali dari dataran rendah Karo yaitu pesisir Langkat, Para perlanja sira ini kembali bermalam di tempat yang sama pula, selanjutnya seiring waktu menjadi sebuah perkampungan yang mereka namai dengan "Kuta Benjéi".
Sebagian wilayah Simalungun dan Sebagian Dairi, sebagian wilayah ini sejak awal mula permukiman sudah menjadi hunian penduduk karo yang bernuansa karo, ini bisa dilihat dari pemakaian bahasa, adat istiadat, rumah rumah adat, dll. Oleh sebab itu, tradisi karo juga sangat kuat dengan orang karo yang berada di sebagian wilayah simalungun dengan menyalurkan penyampaian melalui sebuah lagu adat yang berjudul simalungun rayat. Bahkan sampai sekarang disetiap acara adat orang karo saat berlangsung selalu tak luput dari lagu adat simalungun rayat ini. Sementara ulayat yang keasliannya sebagai wilayah suku batak, Letak geografisnya berada di wilayah Tapanuli bagian Humbang, Silindung, Toba dan Samosir yang memang masih dalam satu provinsi bersama dengan ulayat karo. Geografis ini dapat menjadi acuan sebagai adanya lingkaran pembatas oleh karo dan batak.
Dari sisi tradisi dan adat budaya.
Adat dan Budaya sangatlah berbeda, bahkan sama sekali tidak ditemukan persamaan diantara kedua suku bangsa yang kental dengan tradisi adat istiadat ini. Pada sisi karo adat istiadat yang sudah berakar sejak jaman dulu ialah menggunakan Sangkep Nggeluh, atau sering pula disebut dengan Kuh Sangkep Nggeluh. sangkep nggeluh atau sering juga disebut kuh sangkep nggeluh adalah sebuah system kerabat yang biasa digunakan oleh suku karo dalam menjalani hubungan hidup sosial terhadap sesama. Kuh Sangkep Nggeluh adalah bahasa karo yang mengartikan pihak pihak yang menjadi bagian dari individu karo dalam menjalani kehidupan, baik sedang dalam keadaan hidup maupun sudah meninggal. Dalam tradisi kerabat pada suku karo, Penamaan Sangkep Nggeluh ini berasal dari penggabungan dua kata, yaitu Ngepkep dan Nggeluh.
Kata ngepkep adalah kata kerja yang mengartikan melindungi, memperhatikan, menasehati, mengajari, menuntun, memberi arahan, membantu dan bertanggung jawab terhadap sesama di internal karo. Sedang kata Nggeluh adalah kata baku yang mengartikan kehidupan. Dari penggabungan dua kata tersebut dapat kita jabarkan sangkep nggeluh adalah seluruh kerabat yang me ngepkep seorang karo selama menjalani kehidupan. sedang kata Kuh sendiri ialah bahasa karo yang mengartikan suatu makna kelengkapan, oleh sebab itu Kuh Sangkep Nggeluh dapat disimbolkan Sebagai : Semua elemen yang melindungi, membantu, menasehati, menghormati, dll, setiap individu karo selama menjalani kehidupan sosial terhadap sesama karo.
Pada sisi Suku Batak, Adat istiadat yang sudah berakar pada masyarakat batak ialah Dalihan Natolu. Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat
darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.
Dari kedua tradisi yang telah dipaparkan diatas, tentu kita sudah semakin memiliki makna perbedaan diantara Karo Dan Batak, Karena suku batak yang memakai Filosofi Dalihan Natolu (tiga tungku memasak), sementara suku Karo memakai Filosofi kelengkapan yang berasal dari semua elemen Penghuni Rumah Adat. Bahkan jika kita melihat langsung ke lapangan sebagai bukti nyata, jika ada pernikahan yang suku asal pengantin berasal dari Karo Dan Batak, maka kedua adat tradisi haruslah dijalankan, jika hanya menjalankan tradisi Karo, pengantin ini tidak akan sah secara adat batak jika tidak dilakukan resepsi adat batak juga seperti sedari awal yang sudah menjalan adat dari tradisi Karo.
Dari sisi identitas Merga atau Marga.
Pada sisi identitas Karo yang biasa disebut dengan merga, keidentitasannya memakai system Patrilinear Berbatas, dimana setiap penyandang merga yang sama hanya akan menjadi sembuyak (satu keturunan berdasarkan darah ) sampai pada batas wilayah yang sering disebut dengan urung. Setelah adanya pemisahan urung, struktur merga yang sama menjadi hubungan Senina. Oleh sebab itu, merga merga orang karo pada umumnya sejak jaman dahulu TIDAK PERNAH menyatakan sehubungan darah (sembuyak) yang mengartikan pemakaian nomor merga per individu.
Pada sisi identitas Suku Batak yang biasa disebut dengan Marga, keidentitasannya memakai system Patrilinear Tidak Terbatas. Dimana setiap penyandang merga yang sama (dongan sabutua) akan dapat ditarik garis lurus untuk menentukan Penomoran Garis Keturunan sejak mulai dari leluhur sampai kepada urutan selanjutnya disetiap penyandang merga yang sama pada masyarakat batak.
Dari sisi identitas yang sudah dijelaskan diatas dari kedua suku ini, tentu kita sudah memahami bagaimana perbedaan yang sangat terasa pada kedua masyarakat yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya ini.
Dari empat poin penting sebagai bukti pembeda antara karo dan batak yang dipaparkan diatas, tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang yang belum memahami kenapa Karo selalu tertulis dengan kata batak karo di beberapa catatan buku sejarah oleh para pengelana yang datang ke sumatera, para sejarawan, pun juga tak luput para peneliti lokal yang sudah membuat satu hasil ilmiah dengan menjadikan catatan pendatang sebagai bahan isi dari suatu catatan. Para pengelana asing yang sudah sejak awal merumuskan karo sebagai bagian dari sub batak adalah melalui tulisan, HANYA bermaksud untuk mempermudah kepentingan mereka dalam membuat krangka struktur kesukuan dengan menggunakan identitas agama sebagai pembeda. Alangkah suatu kerugian besar pada masyarakat karo jika ini dibenarkan karena suku bangsa karo bukanlah mereka yang berada di pegunungan saja, oleh sebab itu, pemisahan persekutuan dengan melandaskan agama ini telah membuat pengkerdilan terhadap suku karo yang jelas memang tidak hanya monoton pada agama tertentu saja. Setidaknya akan lebih menarik jika mereka datang dan membuat tulisan saat semua masih berkeyakinan sama sejagad sumatera, karena dengan keadan demikian, saya menduga para pengelana ini akan menemukan perbedaan yang begitu jelas bila mengikuti dasar bahasa, letak geography, adat istiadat, dan banyak lainya.

Dari sekian lama mengikuti diskusi, debat, dll. Satu hal yang saya temukan sebagai benturan terhadap KBB ialah, mereka mereka yang BELUM benar benar memahami bagaimana sejarah dari sebuah gereja, lalu dengan secara tak langsung sdh menganggap info KBB hanya omong kosong karena hanya melihat dari satu sisi penamaan gereja yang masih menggunakan kata batak.
Untuk gereja yang memakai kata batak ini, selain daripada semua jemaat ialah orang karo karena memakai bahasa karo dalam setiap pertemuanya, gereja ini awalnya bernama KARO KERK yang didirikan oleh penginjil belanda sekitar tahun 1890an, lalu selang waktu berjalan terjadi gejolak pada semua elemen penginjil barat karena Perang Dunia kedua sekitar tahun 1940an, penginjil belanda diharuskan pulang kekampung halaman mereka oleh karena kalah perang dimasa PD kedua. Jerman yang pada saat sebelumnya sudah membuat HKBP diranah suku Batak, merasa perlu meneruskan penginjilan terhadap gereja karo karena memang perjuangan penginjilan jelas dengan sengaja untuk membuat banyak keyakinan diseluruh sumatera. Hal ini disebabkan karena khusus karo yang dibagian pesisir sudah lebih dulu meyakini islam. Penginjil HKBP yang pada saat tersebut melanjutkan penginjilan ke Karo secara langsung telah MENGUBAH nama gereja KARO KERK menjadi GBKP sekaligus sebagai modramen pertama pada sidang sinode 1941 dengan bertempatkan di Buluh Awar Sibolangit. Jelas sekali dari data perubahan nama gereja tersebut bukanlah suatu inisiatif yang berasal dari kalangan karo sendiri, melainkan adanya campur tangan penginjil HKBP sekaligus sebagai modramen pertama sejak perubahan nama dari KARO KERK menjadi GBKP pada tahun 1941.
Semoga bermanfaat buat para pembaca sejagat raya.



Hari ini: Karo Bukan Batak mengandalkanmu

Karo Bukan Batak membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "karo bukan batak". Bergabunglah dengan Karo Bukan Batak dan 250 pendukung lainnya hari ini.