#OrangRimbaJugaWargaNegara : Penuhi Hak-hak Masyarakat Suku Anak Dalam!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Salam hangat!

Kami di sini hadir untuk menyuarakan dukungan kami bagi saudara-saudara kami di sebuah kawasan terpencil di Indonesia ini, yang tentu sering luput dari perhatian masyarakat luas dan pemerintah. Inilah kisah mereka!

 

Latar Belakang

Indonesia. Sebuah negara kaya akan keindahan alamnya, keberagaman suku dan bahasanya, budayanya, serta keanekaragaman hayatinya. Indonesia yang dibangun atas azas kesatuan dan persatuan dari segala kelompok menjadikan Indonesia pelopor dan contoh bagi negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan toleransi. Keberhasilan lebih dari 300 kelompok etnis dan 1340 suku bangsa di Indonesia untuk hidup bersama ini membuat warisan-warisan budaya yang beragam dari generasi-generasi pendahulu selalu terjaga dengan baik.

Banyak dari total jumlah kelompok etnis dan suku-suku di Indonesia yang tersebar ini tinggal di daerah-daerah terpencil Indonesia. Ada darinya suku-suku yang tinggal di salah satu dari 17.504 pulau yang ada di Indonesia, sebagian darinya adalah pulau-pulau terluar Indonesia yang berada di kawasan Laut Cina Selatan, sebagian lagi adalah suku-suku yang tinggal jauh di atas, kawasan-kawasan pegunungan Papua yang juga merupakan medan yang sulit dilalui. Dan sebagian lagi, adalah suku-suku yang tinggal di hutan belantara Sumatera yang terancam kehidupannya oleh maraknya eksploitasi yang dilakukan industri kelapa sawit. Mereka disebut Orang Rimba.

 

Kehidupan Orang Rimba

Orang Rimba, atau yang sering disebut Suku Anak Dalam atau Suku Kubu, adalah sebuah suku yang tinggal di kawasan hutan Sumatera, khususnya di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) dan hutan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Nenek moyang Suku Anak Dalam dulunya merupakan prajurit-prajurit Kerajaan Jambi yang dikirim untuk berperang melawan Kerajaan Tanjung Jabung. Prajurit-prajurit yang tangguh ini berjanji tidak akan kembali sebelum memenangkan peperangan. Namun naas, persediaan makanan mereka habis di tengah-tengah hutan dan karena malu untuk kembali dengan tangan kosong, mereka memutuskan untuk menetap di dalam hutan dan memulai kebudayaan Suku Anak Dalam yang kita ketahui sekarang.

Suku Anak Dalam sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, pertama mereka yang tinggal di daerah pemukiman warga, kedua mereka yang tinggal di hutan tetapi berbaur dengan masyarakat sekitar, dan ketiga mereka yang betul-betul tinggal di dalam hutan. Mereka yang tinggal di hutan ini hidup secara nomaden, mereka merupakan kelompok yang jarang ada di dalam masyarakat. Mereka yang nomaden ini berpindah bila musim berganti, dimana saatnya sumber makanan (buah-buahan dan buruan) sulit dicari.

 

Sulitnya Jadi Orang Rimba

Orang Rimba kembali menjadi sorotan setelah mereka mendapat kunjungan Presiden Joko Widodo. Orang Rimba seringkali luput dari perhatian pemerintah setempat dan pemerintah pusat. Selain ancaman kehilangan tempat tinggal karena maraknya pembangunan industri sawit, banyak persoalan-persoalan dasar yang harus dihadapi Orang-orang Rimba. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, persoalan-persoalan ini semua berkenaan dengan sebagian besar dari hak-hak dasar Warga Negara Indonesia yang tercantum di UUD 1945 Pasal 27-34. Bila hak-hak itu tidak dipenuhi, maka dapat dikategorikan sebagai wujud dari penolakan pengabulan HAM dan diskriminasi terhadap Suku Anak Dalam. Berikut penjabarannya:

I. Segi Kependudukan

Sebagian besar dari mereka tidak menerima pengakuan sebagai warga negara, bahkan pernyataan seorang Suku Anak Dalam bernama Rusman, yang tidak menerima respons dari pemerintah untuk mendapat KTP setelah mengajukannya pada tahun 2013 sampai saat ia diwawancarai sebuah media pada September 2018. Sulitnya proses pengajuan untuk menjadi warga negara ini menyebabkan Orang Rimba sulit mendapatkan akses kepada fasilitas umum dan membatasi hak-hak kewarganegaraannya.

Pasal yang berkenaan:

-     Hak atas status kewarganegaraan “setiap orang berhak atas status kewarganegaraan”. Hak memiliki status kewarganegaraan adalah sebuah hak asasi manusia. (Pasal 28D Ayat 4 UUD 1945)

II. Segi Fasilitas Umum

Fasilitas-fasilitas umum seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan pun juga sangat sulit didapatkan Suku Anak Dalam. Dua fasilitas ini tergolong hak-hak dasar yang harus dimiliki setiap manusia, bukan hanya warga negara saja. Dengan terdidiknya anak-anak rimba dan terjaminnya kesehatan mereka, maka kualitas manusia di Indonesia akan terus meningkat, serta menjauhi eksploitasi lingkungan dan pribadi masyarakat Suku Anak Dalam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Pasal yang berkenaan:

-     Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia. (Pasal 28C Ayat 1 UUD 1945)

-    Hak untuk mendapatkan pendidikan “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” (Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945)

-    Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. (Pasal 28H Ayat 1 UUD 1945)

III. Segi Keberlangsungan Hidup

Hutan bagi Orang Rimba adalah rumah, tempat bermain, tempat membangun rumah tangga, hutan adalah segalanya. Mereka dibesarkan mempercayai bahwa hutan adalah kepemilikan suku, warisan yang harus dijaga. Kemanapun mereka pergi, selama ada di dalam hutan maka itu adalah rumah. Dengan datangnya para pengusaha kelapa sawit yang merampas tanah nenek moyang mereka, Orang Rimba semakin terancam kehidupannya.

Pasal yang berkenaan:

-    Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(Pasal 28A UUD 1945).

-    Hak atas kelangsungan hidup. “Hak anak untuk kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” (Pasal 28B Ayat 2 UUD 1945)

-    Hak untuk hidup bebas dari ketakutan  “Hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda, Hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi manusia.” (Pasal 28G Ayat 1 UUD 1945)

-    Hak atas milik peribadi yang tidak boleh diambil alih sewenang - wenang oleh siapapun. (Pasal 28H Ayat 4 UUD 1945)

IV. Segi Kebebasan Orang-orang Rimba

Orang-orang Rimba harus hidup dalam ketakutan akibat illegal logging dan pembakaran hutan oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit serta penolakan dari sejumlah masyarakat akibat budaya dan cara mereka menyongsong kehidupan mereka. Banyak di antara masyarakat Suku Anak Dalam dipaksa untuk menganut agama tertentu atau dipaksa untuk menetap agar dapat menjadi seorang warga negara.

Pasal yang berkenaan:

-     Hak kebebasan untuk meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati nuraninya. (Pasal 28E Ayat 2 UUD 1945)

-    Hak untuk melaksanakan cara hidup adat “Hak atas identitas budaya dan hak masyarakat tradisional.” (Pasal 28I Ayat 3 UUD 1945)

 

Mari Dukung Orang-orang Rimba!

Orang Rimba saat ini sudah mendapat binaan Hutan Harapan, sebuah upaya konservasi di TNBD dan TNBT, serta merasakan secercah rasa bersekolah. Bagi 228 kepala keluarga Suku Anak Dalam di kawasan Hutan Batanggari dan Muarojambi, binaan untuk ikut andil dalam konservasi hutan Sumatera melalui binaan Hutan Harapan sudah diselenggarakan. Sekarang, mereka ikut dalam menjaga dan melestarikan keberadaan hutan. Binaan Hutan Harapan merekrut kepala-kepala keluarga ini untuk secara langsung di lapangan menjaga keberadaan hutan, sekaligus mencari bibit-bibit kayu untuk menghijaukan kembali lahan-lahan gundul yang ditinggalkan perusahaan kelapa sawit. Kontribusi Orang Rimba sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sudah tidak diragukan lagi! Anak-anak Rimba saat ini juga mulai diperhatikan pendidikannya. Antara lain adalah adanya Sokola Rimba yang diselenggarakan oleh antropolog Butet Manurung, dan sekolah kelas jauh yang disediakan oleh perusahaan konservasi hutan PT REKI. Anak-anak Suku Anak Dalam ini tak lain adalah bagian dari masa depan Indonesia, maka hak-hak mereka sebagai individu pun harus dipenuhi!

Dengan ini, mari kita dukung masyarakat Suku Anak Dalam untuk mendapatkan hak asasi mereka yang belum terpenuhi seutuhnya. Dukunglah mereka untuk bisa meraih status kewarganegaraan tetap, yang sudah sepatutnya mereka miliki saat ini. Mendukung saudara sebangsa dan setanah air untuk mendapatkan hak-haknya adalah wujud nasionalisme yang sangat baik, dan juga bagian dari pelaksanaan kewajiban kita semua sebagai seorang warga negara. Demi kesatuan dan persatuan saudara-saudara Negara Kesatuan Republik Indonesia, ayo suarakan #OrangRimbaJugaWargaNegara!