Hentikan pembangunan PLTA Batang Toru, di kawasan hutan Tapanuli selatan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Hutan di kawasan tapanuli selatan yang meliputi wilayah Kecamatan Sipirok, Marancar, dan Batang Toru. Di wilayah ini akan dibangun sebuah megaproyek yang digadang-gadang akan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air terbesar di Asia Tenggara.  Proyek ini dikerjakan oleh PT North Sumatera Hydro Energy, yang didanai oleh Bank Cina senilai Rp21 triliun.

Namun, dibalik pembangunan PLTA ini yang konon katanya akan menjadi supplayer utama listrik di Sumatera Utara tersimpan nestapa dibaliknya. Para aktivis lingkungan mencemaskan dampak dibalik pembangunan ini, dibalik akan merusak ekosistem hutan, proyek ini juga bepotensi menghilangkan habitat paling langka dihutan itu yakni  pongo tapanuliensis  atau orang utan tapanuli.

Dikutip dari laman Tirto.id - Pada 2014, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) meminta Onrizal, peneliti keanekaragaman hayati dari Universitas Sumatra Utara, untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan PLTA Batang Toru. Saat itu Onrizal menyanggupi dengan dua syarat: Ia diizinkan melihat semua kajian dan mendapatkan akses ke lapangan.

“Hasilnya saya tulis semua,” ungkapnya. “Pembangunan PLTA akan merusak habitat orangutan.”

Pada 2016, PT NSHE bermaksud membuat adendum dalam kajian lingkungan tersebut. Onrizal semula tak ambil pusing karena saat itu sudah putus kerja dengan NSHE. Belakangan, ia mengetahui namanya masih dicatut dalam dokumen 2016 tersebut.

Berdasarkan cerita tersebut nyatanya PT NSHE tidak mempertimbangkan kajian lingkungan yang dibuat oleh Universitas Sumatera Utara yang senyata-nyatanya pembangunan tersebut berdampak terhadap lingkungan sekitar terutama orangutan.

Melalui petisi ini mari kita satukan suara untuk menolak pembangunan PLTA Batang Toru. Sehingga hutan yang menjadi tempat hidup dan berkembangnya orangutan dan hewan lainnya tetap terjamin keberlangsungnya. Warisan alam Indonesia ini harus senantiasa kita jaga.