Bantu Angeline untuk bertemu dan menegakkan keadilan untuk Papanya "Iwan Liman"

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Anak 12 tahun Menggapai Keadilan Bagi Papanya, Iwan Cendekia Liman


Baru tiga hari sejak diunggah sudah dibaca 747 kali. Sebuah video yang diunggah di laman netizenvoiceofindonesia berdurasi 60 detik, menampilkan sosok bocah perempuan yang terpaksa menahan kerinduan akan kehadiran ayahnya, Iwan Liman yang tengah menjalani masa tahanan di Rutan Salemba.

"Nama saya Angeline dan usia saya 12 tahun. Saya putri dari Iwan Liman. Saya sudah tidak bertemu papa saya selama setahun. Saya sangat kangen papa dan kita perlu keadilan. Saya tahu papa saya tidak bersalah.
Itulah sepenggal ucapan Angel dalam video tersebut. Suara hati seorang anak yang menginginkan agar keadilan ditegakkan di Negeri ini.

Ditemani ibunya, Siau Ing dan Bryan adiknya, Angeline yang kini duduk di kelas 6 Sekolah Dasar di Surabaya tersebut, kembali melukiskan kerinduannya sang ayahnya Iwan Cendekia Liman yang menjalani masa tahanan di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat sejak Mei 2017.

“Papi saya enggak salah, kenapa kok ditahan? Ini tidak sesuai dengan sila kelima dari Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang saya pelajari di sekolah," ujar Angeline dengan suara lantang. “Saya yakin, Papi saya enggak bersalah, ” katanya sekali lagi

Keyakinan itulah yang membuat Angeline mengaku enggan menanggapi reaksi teman-temannya seputar kasus yang menimpa ayahnya. Sekarang, kalau masih ada teman yang bilang tentang papa. Saya biarin aja,” katanya.
Jauh-jauh hari sebelum video tersebut diunggah, Angeline maupun adiknya Bryan sempat menjadi sasaran empuk hujatan teman-temannya di sekolah. “Di sekolah banyak teman yang nanyain tentang papa. Saya jawab di Singapura, tapi ada teman yang cerita bahwa Papa saya di penjara.
Saya sedih. Apalagi Mama saya setiap hari menangis. Kalau ditanya kenapa menangis, dia bilang sakit kepala, kalau enggak sakit perut.
Dibenarkan oleh Siau Ing, mengaku sempat berbohong kepada kedua anaknya seputar kejadian yang menimpa suaminya.

“Semula saya rahasiakan dengan mengatakan bahwa papanya sedang bekerja di Singapura. Namun berbohong kepada anak-anak tidak ada gunanya. Apalagi kasus tersebut selalu ramai diperbincangkan di banyak media Surabaya. Bahkan kedua anak saya mengetahui kalau papanya sudah di penjara justru dari teman-temannya lewat hujatan di sekolahnya, ‘Papamu di penjara ya’.

Teman-temannya dapat kabar tersebut dari orang tua masing-masing, bahkan ada orang tua yang melarang anaknya berteman dengan Angeline karena papanya di penjara.
Anak saya harus menanggung hujatan teman-teman selama beberapa bulan. Kemudian lambat laun surut karena mereka sudah capek sendiri.

Mengenai kasus yang menimpa Iwan, secara singkat Siau Ing mengatakan bahwa sosok pelapor yang bernama Rezky Herbiyono adalah sahabat Iwan Liman sejak lama. “Dia sering bertandang ke rumah, bahkan kedua anak saya memanggilnya uncle,” ujar wanita yang sudah membentuk rumah tangga bersama Iwan sejak tahun 2002 ini.
Menyangkut persoalan hukum yang membelit suaminya, Siau Ing menceritakan secara singkat.

Intinya, si pelapor punya hutang ke Iwan. Jadi Iwan suami saya dikurung supaya Iwan Liman enggak bisa menagih haknya. “Kepada majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pelapor bahkan sudah mengaku punya utang kepada Iwan Liman yang nilainya lebih dari Rp10 Miliar,” ujar Siau Ing.

Dari pengakuan di persidangan tersebut, Siau Ing merasa sudah terang benderang bahwa Iwan tidak bersalah, yang didukung oleh bukti-bukti. “Tetapi kok malah Iwan yang dikurung. Ini ada apa?”
Siau Ing bertekad akan terus berusaha mencari keadilan yang hakiki. “Kalau memang tidak bersalah, jangan seperti ini. Iwan Liman adalah tulang punggung keluarga kami dan sudah satu tahun Iwan tidak bekerja,”. Jadi kami jujur saja kehilangan tulang punggung keluarga serta sosok Ayah bagi anak-anak saya. Ujar Siau Ing sambil mengusap kelopak matanya yang dibasahi oleh air mata saat bercerita tentang kisah harunya dalam mencari keadilan.

JPU Diduga Sengaja Memasukan Perkara Narkoba 

ke Perkara Penggelapan Ferari Speciale

Jakarta,-

Iwan Cendikia Liman merasa aneh dirinya dusangkut pautkan dengan perkara pidana narkoba, padahal dirinya di dakwa kasus penggelapan kendaraan Ferarri 458 Speciale. Oleh karenanya, dirinya dengan tegas menuntut keadilan hukum ditegakkan seadil-adilnya. Hal tersebut terungkap dalam memori kasasi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yulianto Ariwibowo saat mengajukan permohonan Kasasi ke Mahkamah Agung (MA) atas perkara penggelapan kendaraan Ferarri 458 Speciale yang menyeret terdakwa Iwan Cendekia Liman itu, Jaksa ikut menyelipkan kasus narkoba didalamnya.  

Patut diduga keras JPU mengalihkan Perkara Penggelapan menjadi Perkara Narkoba. Padahal, pokok perkaranya jelas berbeda. JPU terbukti kurang teliti, salah dalam berperkara. 

“Aneh ..., saya tidak pernah ada tersangkut dengan narkoba. Itu nomor perkara orang lain, bukan nomor perkara saya. Jaksa ceroboh. Saya minta keadilan hukum ditegakkan seadil-adilnya,” jelas Iwan Liman dari Rutan Salemba.

Sebagaimana amar putusan Pengadilan Tinggi DKI, Jakarta No:258/PID.SUS/2017/PT.DKI tanggal 1 November 2017 yang tercantum di memori kasasi yang diajukan Jaksa adalah milik atas nama terdakwa I: Victor dan terdakwa II: Iing Erwan Supangkat alias Iwan Belo, terkait perkara narkotika dan psikotropika. Dengan jelas kedua terdakwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan perkara Iwan Cendekia Liman. Iwan Liman pun tidak kenal dengan kedua terdakwa kasus narkoba tersebut.

Iwan Cendekia Liman didakwa melakukan tindak pidana penggelapan Pasal 372 KUHP, sesuai dengan vonis ditingkat pertama Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan No:1267/Pid.B/2017/PN.Jkt.Brt dan dikuatkan putusan banding di tingkat Pengadilan Tinggi DKI No:331/PID/2017/PT.DKI. Kini kasusnya telah dilimpahkan ke Mahkamah Agung untuk Kasasi. 

Iwan menduga kuat kasus yang menjerat dirinya sengaja dipaksakan dan diduga kuat ada campur tangan yang menginginkan dirinya dijebloskan masuk penjara. Karena Iwan pada perkara penggelapan yang didakwakannya mengaku tidak bersalah dan justru dirinya lah yang menjadi korban mafia hukum. 

Pasalnya, kasus yang dilaporkan Rezky Herbiyono kepadanya, tidak memenuhi unsur penggelapan sebagaimana yang disangkakan kepadanya. Padahal posisi Iwan Cendikia sebagai penerima pengalihan hak fidusia dari PT Mitsui sebagai penerima fidusia. 

Seperti diketahui, mobil Ferrari 458 Speciale milik Rezky Herbiyono (tidak lain sahabatnya), ditarik leasing PT Mitsui Leasing Capital Indonesia. Rezky sebagai debitur telah gagal memenuhi kewajibannya untuk melunasi cicilan mobil tersebut. Pihak leasing kemudian menawarkan mobil tersebut kepadanya, dengan status unit tarikan. Setelah melakukan pelunasan sebesar  Rp10,2 miliar, terhadap cicilan mobil tersebut, Iwan Cendekia Liman mendapatkan BPKB dan STNK mobil itu. 

Berawal 24 Oktober 2016, Anton Teddy  menawarkan Iwan Cendekia Liman melalui surat penawaran resmi PT Mitsui Leasing Capital Indonesia dengan kop,yang tidak bertanggal, untuk segera  lwan Cendekia Liman Surabaya (memohon)  agar dapat melakukan pembayaran ke Bank : BCA Cabang Central Park, No Rekening :5485.678.911  an Rekening PT. Mitsui Leasing Capital Indonesia, sebesar Rp. 6,200,000,000, sehubungan dengan penjualan unit tarikan PT. Mitsui Leasing Capital Indonesia. Dengan keterangan Ferrari Speciale, Tahun 2015, No Polisi : B 1 WTF, Nomor Rangka ZFF75VHC000205607, Nomor Mesin :251907, Wama : Merah. 

Melalui email anton_teddy@mitsuilease.co.id, jam 13.30 wib, ke alamat email Iwan Cendekia Liman dengan subject email Surat Permohonan Transfer Ferari Speciale. Bahkan Anton Teddy dalam suratnya yang tak bertanggal menegaskan untuk dokumen (Asli) kendaraan, BPKB  (termasuk Form A dan Faktur), STNK, Plat Nomor, akan diserahkan setelah dana pelunasan diterima.

Iwan pun, tanggal 25 Oktober 2016, barulah melakukan pembayaran melalui transfer Bank BCA dengan nomor account 3547067854 ke account number 5485678911 an Mitsui Leasing Capital Indonesia sebesar Rp. 6.200.000.000, dengan From account description Pelunasan Speciale Iwan Liman.

Kejanggalan kasus ini pun nampak, ketika dikeluarkannya Surat Keterangan Lunas Pembiayaan tertanggal 25 Oktober 2016 oleh  PT Mitsui Leasing Capital Indonesia, yang ditandatangani, Anton Teddy selaku Kepala Cabang, menegaskan bahwa hutang debitur atas nama Rezky Herbiyono sejumlah Rp 12.000.000.000,- telah dilunasi pada tanggal 31 Agustus 2016. 

Begitu pula hingga  13 Desember 2016 melalui surat nomor 08.13/OJS.A/XII/16 dari Law Office Osner Johnson Sianipar, sebagai jawaban Somasi nomor 101-S/11216 tertanggal 1 Desember 2016 dari Kantor Hukum Aliansi Reza Prianda SH, Ricky Irawan (Dirut) dan Anton Teddy (Kepala Cabang) PT.Mitsui Capital Leasing Indonesia, pada point 2 mempertanyakan; bahwa berkenaan dengan Perjanjian Pembiayaan tersebut, berdasarkan data yang ada pada catatan Klien Kami  (Rezky Herbiyono, red) telah terdapat pembayaran jatuh tempo, pembayaran melalui Giro Klien Rekan sudah di tolak 3 kali dan informasinya rekening sudah ditutup, bahkan Klien Kami berupaya melalui handphone namun tidak dapat dihubungi selanjutnya dibuat perjanjian tertulis, namun tidak mendapat tanggapan sebagaimana mestinya.

Dan dengan terbukti pula, Anton Teddy mengeluarkan Surat Penjualan Unit Tarikan tertanggal 25 Oktober 2016, sehingga Iwan Liman melakukan pembayaran mobll Ferrari 458 Speaciale dengan care transfer sebesar Rp 6.200 000. 000 ke rekenlng Bank BCA Nomor 5485678911 atas name PT. Mitsui Leasing Capital lndonesia.

Dan setelah pelunasan tersebut, Anton Teddy menyerahkan surat-surat keiengkapan mobll Ferari 458 Speciale berupa Buku Pemlllk Kendaraan Bennetor (BPKB) dan Form A, Faktur Asli, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Plat Nomor Kendaraan B 1 WTF, Surat Pelepasan Hak dan Blangko Kwitansi kepada Iwan Liman melalui sopirnya di Kantor Cabang PT MitsuI Leasing Capital Indonesia di Jalan Central Park Office Tower Lantai 7 Komplek Podomoro City,  Jalan S Parman Kavling 28 Jakarta Barat, sehingga kepemilikan mobil Ferrari 458 Speciale tersebut telah beralih  kepada Iwan Liman. 

Rezky Herbiyono kemudian melaporkan Iwan Cendekia Liman ke Polisi atas tuduhan penggelapan.

Laporan polisi yang dibuat oleh Rezky Herbiyono terhadap Iwan Cendekia Liman Ini tentu saja merupakan sebuah bentuk kezaliman karena posisi Iwan sebenarnya adalah penerima pengalihan hak fidusia dari PT. Mitsui sebagai penerima fidusia.

Namun laporan ini tetap dilanjutkan oleh kepolisian, dimana Iwan Cendikia Liman langsung ditetapkan menjadi tersangka sampai berkas dinyatakan P21 dan diserahkan ke Kejaksaan. JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Barat kemudian mendakwa Iwan Cendekia Liman dengan Surat Dakwaan No : PDM-323/Jkt.Brt/07/2017 dibacakan pada tanggal 20 Juli 2017, Sedangkan pelimpahan berkas perkara dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Barat ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat baru dilakukan pada tanggal 25 Juli 2017 melalui surat No. TAR-12830/)0.1.12/EP.1/07/2017. Artinya Dakwaan dibacakan sebelum pelimpahan berkas perkara dilakukan sehingga surat
dakwaan yang mengandung cacat substansi dan kabur (obscuur) serta tidak sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 143 Ayat (2) huruf b jo. Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : SE-004/J.A/11/1993 Tentang Pembuatan Surat Dakwaan.

Oleh karena itu, Surat Dakwaan JPU tersebut yang tidak cermat dalam penulisan tanggal serta penguraian tindak pidana serta unsur-unsur pasal yang didakwakan (instrument delicti) sudah seharusnya dinyatakan sebagai Surat Dakwaan yang tidak memenuhi syarat dan konsekuensinya batal demi hukum.

Hal tersebut juga sebagaimana diatur dalam kaidah yurisprudensi dalam Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 808/K/Pid/1984 yang menyatakan : Dakwaan tidak cermat, jelas dan lengkap sehingga harus dinyatakan batal demi hukum.

Ketidak cermatan Jaksa kembali terjadi pada saat menyusun memori kasasi dimana Jaksa mengaitkan perkara Narkoba No Perkara: 258/Pid.Sus/2017/PT.DKI tanggal 1 November 2017 yang jelas-jelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan perkara yang sedang dihadapi Iwan Cendekia Liman. ( Iwan Cendekia Liman tidak pernah terlibat dalam perkara Narkoba apapun )

Kejanggalan lainnya terjadi pada saat Pengadilan Negeri Jakarta barat tidak memberikan terdakwa kesempatan untuk melakukan pembelaan (pleidooi) seperti lazimnya proses dalam peradilan pidana yaitu pada persidangan setelah pembacaan tuntutan JPU. Yang terjadi terdakwa malah dipaksa untuk menyusun pembelaan di hari yang sama dengan hari persidangan pembacaan tuntutan yaitu tanggal 16 Oktober 2017.

Bahkan di hari yang sama dengan pembacaan requisitoir dan pleidooi, yaitu tanggal 16 Oktober 2017, Majelis Hakim membacakan putusannya. Hal tersebut tidak memcerminkan persidangan yang adil karena pembacaan tuntutan, pembelaan serta putusan semua dilakukan dalam satu hari yaitu pada tanggal 16 Oktober 2017.

Keseluruhan proses tersebut juga mengindikasikan bahwa praktek mafia peradilan masih terjadi di lembaga peradilan di Indonesia. Hal yang tentu saja tidak sesuai dengan cita-cita reformasi serta cita penegakan hukum saat ini.

Pihak keluarga terdakwa saat ini masih berupaya untuk menempuh jalur hukum memperjuangkan hak terdakwa yang senyatanya adalah korban konspirasi dan mafia peradilan.



Hari ini: Nadia mengandalkanmu

Nadia Situmorang membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Bantu Angeline untuk bertemu dan menegakkan keadilan untuk Papanya "Iwan Liman"". Bergabunglah dengan Nadia dan 89 pendukung lainnya hari ini.