Kembalikan Gendang Beleq Sebagai Musik Khas Lombok


Kembalikan Gendang Beleq Sebagai Musik Khas Lombok
Masalahnya
Nyongkolan adalah sebuah tradisi dan budaya turun temurun di Pulau Lombok. Yakni sebuah tradisi yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok. Kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa berupa kelompok penabuh rebana, atau lebih sakral di iringi gendang beleq.
Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki
Yang Terhormat Bapak Gubernur, Dr. H. M. Zainul Majdi
Dalam perkembangannya, acara nyongkolan kini jarang sekali kita lihat di-iringi oleh Gendang Beleq yang notabene merupakan Tradisi yang turun temurun nenek moyang kita di Lombok. Nyongkolan masa kini lebih banyak digemari jika diiringi oleh Kecimol, yaitu salah satu iring-iringan musik orkestra drum band yang menyajikan musik musik dangdut dan pop modern plus penari erotis yang bikin jakun para pria turun naik. Sebuah kreativitas budaya katanya, tapi seiring dengan perkembangannya terjadi penyelewengan oleh oknum dari peserta kecimol itu sendiri. Alat musik yang asli Gendang Beleq mulai di tinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat lebih senang menanggap/menyewa kecimol dengan alasan tarifnya yang lebih murah dan lebih bervariatif ketimbang Gendang Beleq.
Dalam bahasa Sasak, dari artinya saja KECIMOL di plesetkan menjadi "Kelalahan Cikar Motor Liwat". Jadi, jangan heran jika kita menemukan kemacetan berkilo-kilo jika ada nyongkolan, dan biasanya pada hari-hari libur kerja seperti hari sabtu/minggu. Kemacetan itu biasanya peserta-peserta yang berjoget tidak peduli terhadap hak para pengguna jalan yang lain sehingga menghambat jalannya kecimol.
Selain itu, Kecimol juga banyak disebut DAJAL = Dangdut Jalanan. Dimana penarinya menari seperti penari striptis tapi ngga ada tiangnya. Dan para remaja-remaja yang ikut dalam iring2an kecimol juga tidak lupa untuk Moshing menikmati hentakan musik dari KECIMOL yang biasanya mengundang perkelahian/keributan antar remaja-remaja yg moshing. Semua tidak lepas dari pengaruh minuman keras atau tuak (Tuak adalah sejenis minuman beralkohol Nusantara yang merupakan hasil fermentasi dari nira, beras, atau bahan minuman/buah yang mengandung gula) yang mereka minum sebelum berangkat nyongkol, karena bagi mereka kalau tidak mabuk katanya ga seru, ga kuat jalan, dan sebagainya. Aksi brutal, angkuh, semrawut ini seringkali menjadi sumber petaka dan perkelahian anak muda sampai antar kampung.
Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kades
Kami prihatin sekali dengan maraknya musik kecimol di Lombok yang sudah mengalami pergeseran nilai termasuk tata caranya. Tidak jarang juga para muda mudi berjoget di depan kecimol bahkan anak-anak juga ikut serta. Sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, juga sangat mengurangi "sakral-nya" prosesi nyongkolan tersebut.
Jika Nongkolan adalah tradisi yang dianggap sakral dan dianggap sebagai ajang silaturrahim antar kedua pihak keluarga, serta untuk menyiarkan kepada publik tentang pernikahan muda-mudi tersebut, maka kembalikanlah pada posisinya yang benar yang sesuai dengan tradisi dari suku Sasak itu sendiri. Tidak perlu ada joget-jogetan atau tarian seronok oleh muda-mudi dalam rombongan kecimol apalagi ada mabuk-mabukan. Itu kan mempertontonkan sesuatu yang buruk bagi masyarakat. Belum lagi nanti kalau terjadi kecelakaan siapa yang di salahkan?
Harapan kami, bantu kami kembali ke budaya Sasak, kembali ke falsafah dan Etimologi suku sasak "LOMBOQ MIRAH SAKSAK ADHI". Yang Kata "lomboq" nya dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama atau "kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama"
Falsafah “Lombok Mirah Sasak Adi” dipercaya merupakan cita-cita para leluhur dan harus dilestarikan oleh anak cucunya. Falsafah ini juga menjadi pandangan hidup masyarakat suku sasak sampai saat ini. Walaupun falsafah tersebut tercantum dalam kitab Negara kertagama yang notabene adalah milik dari masa kerajaan majapahit, tapi falsafah tersebut masih tetap dipegang teguh bahkan ketika agama islam masuk dan menggantikan kepercayaan hindu yang dianut oleh orang sasak.
Dalam perspektif islam makna dari “Lombok Mirah Sasak Adi” diartikan sebagai jalan lurus (siratalmustaqim) yang berarti jalan kebenaran yang akan membawa pada keselamatan di dunia maupun akhirat. Makna dari falsafah tersebut juga diartikan sebagai pengimanan masyarakat suku sasak terhadap keesaan Allah dan kerasulan Nabi Besar Muhammad SAW. Hal ini juga menjadi prinsip yang dipegang teguh sebagai prinsip dalam kehidupan spiritual masyarakat Suku Sasak.
Bapak Gubernur, Bapak Bupati, Bapak Camat dan Bapak Kades kami yang tercinta
Dan sebagai catatan penting tidak ada yang bisa meniadakan kecimol ini kecuali ada ketegasan dari pemerintan dan juga masyarakat Lombok Sendiri. Setidaknya saudara-saudara kami yang menjadi bagian besar seniman Kecimol ini di BINA dan di ARAHKAN menjadi lebih baik lagi, tidak erotis lagi, tidak mabuk-mabukan lagi. Misalnya kelompok-kelompok Kecimol ini dibina dan dilatih menjadi Kelompok Pemain Gendang Beleq atau diberikan lapangan pekerjaan lain sehingga mereka juga tidak kehilangan sumber penghasilan.
Mari bersama-sama Jaga Budaya Kita
Budayakan Gendang Beleq Sebagai Musik Tradisional Khas
Atur Ulang terkait kebijakan Prosesi Nyongkolan yang menggunakan Iring Iringan Kecimol
Hormat kami
Kanan Lomboq Mirah Sasak Adi

Masalahnya
Nyongkolan adalah sebuah tradisi dan budaya turun temurun di Pulau Lombok. Yakni sebuah tradisi yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku sasak di Lombok. Kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa berupa kelompok penabuh rebana, atau lebih sakral di iringi gendang beleq.
Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki
Yang Terhormat Bapak Gubernur, Dr. H. M. Zainul Majdi
Dalam perkembangannya, acara nyongkolan kini jarang sekali kita lihat di-iringi oleh Gendang Beleq yang notabene merupakan Tradisi yang turun temurun nenek moyang kita di Lombok. Nyongkolan masa kini lebih banyak digemari jika diiringi oleh Kecimol, yaitu salah satu iring-iringan musik orkestra drum band yang menyajikan musik musik dangdut dan pop modern plus penari erotis yang bikin jakun para pria turun naik. Sebuah kreativitas budaya katanya, tapi seiring dengan perkembangannya terjadi penyelewengan oleh oknum dari peserta kecimol itu sendiri. Alat musik yang asli Gendang Beleq mulai di tinggalkan oleh masyarakat Lombok, sebagian masyarakat lebih senang menanggap/menyewa kecimol dengan alasan tarifnya yang lebih murah dan lebih bervariatif ketimbang Gendang Beleq.
Dalam bahasa Sasak, dari artinya saja KECIMOL di plesetkan menjadi "Kelalahan Cikar Motor Liwat". Jadi, jangan heran jika kita menemukan kemacetan berkilo-kilo jika ada nyongkolan, dan biasanya pada hari-hari libur kerja seperti hari sabtu/minggu. Kemacetan itu biasanya peserta-peserta yang berjoget tidak peduli terhadap hak para pengguna jalan yang lain sehingga menghambat jalannya kecimol.
Selain itu, Kecimol juga banyak disebut DAJAL = Dangdut Jalanan. Dimana penarinya menari seperti penari striptis tapi ngga ada tiangnya. Dan para remaja-remaja yang ikut dalam iring2an kecimol juga tidak lupa untuk Moshing menikmati hentakan musik dari KECIMOL yang biasanya mengundang perkelahian/keributan antar remaja-remaja yg moshing. Semua tidak lepas dari pengaruh minuman keras atau tuak (Tuak adalah sejenis minuman beralkohol Nusantara yang merupakan hasil fermentasi dari nira, beras, atau bahan minuman/buah yang mengandung gula) yang mereka minum sebelum berangkat nyongkol, karena bagi mereka kalau tidak mabuk katanya ga seru, ga kuat jalan, dan sebagainya. Aksi brutal, angkuh, semrawut ini seringkali menjadi sumber petaka dan perkelahian anak muda sampai antar kampung.
Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Camat, Pak Kades
Kami prihatin sekali dengan maraknya musik kecimol di Lombok yang sudah mengalami pergeseran nilai termasuk tata caranya. Tidak jarang juga para muda mudi berjoget di depan kecimol bahkan anak-anak juga ikut serta. Sangat tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, juga sangat mengurangi "sakral-nya" prosesi nyongkolan tersebut.
Jika Nongkolan adalah tradisi yang dianggap sakral dan dianggap sebagai ajang silaturrahim antar kedua pihak keluarga, serta untuk menyiarkan kepada publik tentang pernikahan muda-mudi tersebut, maka kembalikanlah pada posisinya yang benar yang sesuai dengan tradisi dari suku Sasak itu sendiri. Tidak perlu ada joget-jogetan atau tarian seronok oleh muda-mudi dalam rombongan kecimol apalagi ada mabuk-mabukan. Itu kan mempertontonkan sesuatu yang buruk bagi masyarakat. Belum lagi nanti kalau terjadi kecelakaan siapa yang di salahkan?
Harapan kami, bantu kami kembali ke budaya Sasak, kembali ke falsafah dan Etimologi suku sasak "LOMBOQ MIRAH SAKSAK ADHI". Yang Kata "lomboq" nya dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama atau "kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama"
Falsafah “Lombok Mirah Sasak Adi” dipercaya merupakan cita-cita para leluhur dan harus dilestarikan oleh anak cucunya. Falsafah ini juga menjadi pandangan hidup masyarakat suku sasak sampai saat ini. Walaupun falsafah tersebut tercantum dalam kitab Negara kertagama yang notabene adalah milik dari masa kerajaan majapahit, tapi falsafah tersebut masih tetap dipegang teguh bahkan ketika agama islam masuk dan menggantikan kepercayaan hindu yang dianut oleh orang sasak.
Dalam perspektif islam makna dari “Lombok Mirah Sasak Adi” diartikan sebagai jalan lurus (siratalmustaqim) yang berarti jalan kebenaran yang akan membawa pada keselamatan di dunia maupun akhirat. Makna dari falsafah tersebut juga diartikan sebagai pengimanan masyarakat suku sasak terhadap keesaan Allah dan kerasulan Nabi Besar Muhammad SAW. Hal ini juga menjadi prinsip yang dipegang teguh sebagai prinsip dalam kehidupan spiritual masyarakat Suku Sasak.
Bapak Gubernur, Bapak Bupati, Bapak Camat dan Bapak Kades kami yang tercinta
Dan sebagai catatan penting tidak ada yang bisa meniadakan kecimol ini kecuali ada ketegasan dari pemerintan dan juga masyarakat Lombok Sendiri. Setidaknya saudara-saudara kami yang menjadi bagian besar seniman Kecimol ini di BINA dan di ARAHKAN menjadi lebih baik lagi, tidak erotis lagi, tidak mabuk-mabukan lagi. Misalnya kelompok-kelompok Kecimol ini dibina dan dilatih menjadi Kelompok Pemain Gendang Beleq atau diberikan lapangan pekerjaan lain sehingga mereka juga tidak kehilangan sumber penghasilan.
Mari bersama-sama Jaga Budaya Kita
Budayakan Gendang Beleq Sebagai Musik Tradisional Khas
Atur Ulang terkait kebijakan Prosesi Nyongkolan yang menggunakan Iring Iringan Kecimol
Hormat kami
Kanan Lomboq Mirah Sasak Adi

Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 2 Desember 2016