Menuntut pihak Souqy band untuk menarik lagu Autis dari peredaran dan menyampaikan permohonan maaf di depan publik


Menuntut pihak Souqy band untuk menarik lagu Autis dari peredaran dan menyampaikan permohonan maaf di depan publik
Masalahnya
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang kompleks, akibat adanya kelainan biologis dan neurologis pada otak termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan tubuh. Hal ini ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,komunikasi dan interaksi sosial.
Pada umumnya penderita autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial baik pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya.
Jika setiap anak menikmati masa kecil yang indah dan menyenangkan serta disayang orang sekelilingnya, hal itu tidak berlaku bagi penyandang autis. Mereka tumbuh berbeda dibanding anak sebayanya. Selain tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial tak jarang menerima perlakuan yang kurang menyenangkan.
Adalah kebebasan berekspresi dan berkarya yang kebablasan ketika menjadikan autis bahan candaan. Ketika ada sekelompok individu yang sejak lahir dikaruniakan keterbatasan dari sang Pencipta untuk terlahir sebagai autis, mereka dengan seenak perut menyebut orang normal yang cuek terhadap lingkungan sebagai autis.
Entah apa yang ada dalam pikiran grup band Souqy dengan menciptakan lagu berjudul Autis. Tidakkah sebelum menjadikan autis sebagai bahan lagu mereka, hanya akan semakin menyebarkan anggapan dan pandangan yang keliru terhadap apa arti autis yang sebenarnya. Tahukah Bento Syauqi selaku pencipta lagu, bagaimana perjuangan para penyandang autis dan keluarganya agar mereka bisa hidup normal dan layak sebagaimana manusia biasa lainnya.
Mengusung genre musik pop melayu dalam video klip berdurasi 4.08 menit tersebut dikisahkan seorang pria berwajah oriental yang akan bertemu dengan seorang pujaan hatinya di sekolah. Dengan hati yang senang gembira akhirnya ia bertemu dengan perempuan yang diidamkannya.
Namun, tak seindah yang dibayangkan setelah berjumpa dengan perempuan tersebut, sang pria kecewa karena cewek itu lebih sibuk dengan aktivitas melukis, membaca buku di perpustakaan dan aktivitas lainnya. Akhirnya si pria menyebut perempuan itu dasar autis karena merasa diabaikan sejak berkenalan.
Mari kita cermati bersama lirik lagu tersebut :
Duh senangnya hari ini pertama ku jumpa
duh asiknya hari yang ku tunggu telah tiba
namun ternyata semua tak seindah yang ku kira
sepanjang hari sama saja ku jalan sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
menyebalkan dirimu sangatlah menyebalkan
membosankan dari pagi siang hingga malam
kau abaikan, diriku tak pernah kau hiraukan
sepanjang jalan sama saja ku jalan sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
Sebelum menyanyikan lagu ini apakah pihak Souqy Band tidak berpikir bagaimana perasaan para penyandang autis beserta keluarganya, ketika autis dijadikan bahan olok-olok dalam lagu mereka. Padahal siapa pun di dunia ini tidak akan pernah menginginkan anak dan saudaranya terlahir sebagai seorang autis.
Agaknya seluruh personil Souqy Band perlu bertemu dan melihat langsung bagaimana keseharian penyandang autis yang sebenarnya. Pernahkan mereka melihat penyandang autis mengamuk hingga membenturkan kepala ke tembok karena terganggu dan orang tuanya sudah kehabisan akal untuk menenangkannya.
Atau kisah seorang anak penyandang autis yang tinggal bersama neneknya kemudian ditabrak mobil di jalan raya akibat ia lari dan tidak sadar akan bahaya yang mengancamnya. Demikian, juga kisah orang tua yang anak autisnya seminggu tidak pulang ke rumah karena tidak tahu jalan pulang kemudian terlunta-lunta karena tidak makan di jalanan. Lalu kisah seorang ibu rumah tangga yang harus berjuang membesarkan anak autisnya karena ditinggal pergi oleh suami karena tidak siap menghadapi kenyataan.
Belum lagi beban sosial yang harus ditanggung akibat pandangan miring dari lingkungan sekitar terhadap anak dan keluarga penyandang autis. Mendidik anak autis butuh perjuangan bukan hanya materi namun juga perasaan dan jiwa yang harus tegar. Tak jarang para orang tua autis selalu bertanya kepada sang Pencipta kenapa mereka dikaruniakan anak yang spesial berbeda dari yang lain. Tahukah Souqy para penyandang autis itu sangat tidak ingin terlahir demikian, namun semua itu diluar kehendak mereka.
Apakah Souqy Band masih nyaman menjadikan kata autis sebagai bahan ejekan dalam lagunya. Apakah semua yang terlibat dalam proses terciptanya lagu itu telah kehilangan empati dan merasa karya yang dihasilkan itu adalah murni sebentuk hasil kreatifitas tanpa peka dengan kondisi yang ada. Semoga mereka berpikir ulang bahwa menjadikan autis sebagai bahan ejekan dalam lagu adalah salah satu kekeliruan terbesar yang melukai perasaan banyak orang.
Mengunakan kata autis secara tidak tepat dalam lagu tersebut adalah salah satu bentuk bulying kepada para penyandangnya, juga kepada keluarganya. Bukankah kita yang normal dan penyandang autis hidup dalam dunia yang sama. Mereka tidak butuh dikasihani, hanya perlu diberi ruang agar dapat tumbuh dengan normal dengan keistimewaaan yang dimiliki. Stop menjadikan autis sebagai bahan candaan dan ejekan.
ikhwan w & ikhwatul k.
catatan :
sehubungan dengan adanya sanggahan dari pihak nagaswara yang menyatakan lagu Autis karya Souqy Band tdk di produseri oleh mereka, maka dengan ini kami selaku pembuat petisi melakukan ralat.
sebelumnya Nagaswara memang pernah memproduseri Souqy Band untuk lagu yang berjudul Sungguh Tega, dengan masa kontrak terhitung sejak 26 Januari 2010 sampai 26 Januari 2011.
Oleh sebab itu atas kekeliruan ini kami mohon maaf kepada pihak terkait, dan tetap meminta kepada Souqy Band untuk menarik lagu ini.

Masalahnya
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang kompleks, akibat adanya kelainan biologis dan neurologis pada otak termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan tubuh. Hal ini ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku,komunikasi dan interaksi sosial.
Pada umumnya penderita autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial baik pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya.
Jika setiap anak menikmati masa kecil yang indah dan menyenangkan serta disayang orang sekelilingnya, hal itu tidak berlaku bagi penyandang autis. Mereka tumbuh berbeda dibanding anak sebayanya. Selain tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial tak jarang menerima perlakuan yang kurang menyenangkan.
Adalah kebebasan berekspresi dan berkarya yang kebablasan ketika menjadikan autis bahan candaan. Ketika ada sekelompok individu yang sejak lahir dikaruniakan keterbatasan dari sang Pencipta untuk terlahir sebagai autis, mereka dengan seenak perut menyebut orang normal yang cuek terhadap lingkungan sebagai autis.
Entah apa yang ada dalam pikiran grup band Souqy dengan menciptakan lagu berjudul Autis. Tidakkah sebelum menjadikan autis sebagai bahan lagu mereka, hanya akan semakin menyebarkan anggapan dan pandangan yang keliru terhadap apa arti autis yang sebenarnya. Tahukah Bento Syauqi selaku pencipta lagu, bagaimana perjuangan para penyandang autis dan keluarganya agar mereka bisa hidup normal dan layak sebagaimana manusia biasa lainnya.
Mengusung genre musik pop melayu dalam video klip berdurasi 4.08 menit tersebut dikisahkan seorang pria berwajah oriental yang akan bertemu dengan seorang pujaan hatinya di sekolah. Dengan hati yang senang gembira akhirnya ia bertemu dengan perempuan yang diidamkannya.
Namun, tak seindah yang dibayangkan setelah berjumpa dengan perempuan tersebut, sang pria kecewa karena cewek itu lebih sibuk dengan aktivitas melukis, membaca buku di perpustakaan dan aktivitas lainnya. Akhirnya si pria menyebut perempuan itu dasar autis karena merasa diabaikan sejak berkenalan.
Mari kita cermati bersama lirik lagu tersebut :
Duh senangnya hari ini pertama ku jumpa
duh asiknya hari yang ku tunggu telah tiba
namun ternyata semua tak seindah yang ku kira
sepanjang hari sama saja ku jalan sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
menyebalkan dirimu sangatlah menyebalkan
membosankan dari pagi siang hingga malam
kau abaikan, diriku tak pernah kau hiraukan
sepanjang jalan sama saja ku jalan sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
dasar kau autis, dipanggil-panggil tak rungu
dicolek-colek tak hiraukan, kau malah asik sendirian
ku banyak bicara sampai-sampai mulutku berbisa
namun kau tetap saja begitu, tetap saja asik sendirian
Sebelum menyanyikan lagu ini apakah pihak Souqy Band tidak berpikir bagaimana perasaan para penyandang autis beserta keluarganya, ketika autis dijadikan bahan olok-olok dalam lagu mereka. Padahal siapa pun di dunia ini tidak akan pernah menginginkan anak dan saudaranya terlahir sebagai seorang autis.
Agaknya seluruh personil Souqy Band perlu bertemu dan melihat langsung bagaimana keseharian penyandang autis yang sebenarnya. Pernahkan mereka melihat penyandang autis mengamuk hingga membenturkan kepala ke tembok karena terganggu dan orang tuanya sudah kehabisan akal untuk menenangkannya.
Atau kisah seorang anak penyandang autis yang tinggal bersama neneknya kemudian ditabrak mobil di jalan raya akibat ia lari dan tidak sadar akan bahaya yang mengancamnya. Demikian, juga kisah orang tua yang anak autisnya seminggu tidak pulang ke rumah karena tidak tahu jalan pulang kemudian terlunta-lunta karena tidak makan di jalanan. Lalu kisah seorang ibu rumah tangga yang harus berjuang membesarkan anak autisnya karena ditinggal pergi oleh suami karena tidak siap menghadapi kenyataan.
Belum lagi beban sosial yang harus ditanggung akibat pandangan miring dari lingkungan sekitar terhadap anak dan keluarga penyandang autis. Mendidik anak autis butuh perjuangan bukan hanya materi namun juga perasaan dan jiwa yang harus tegar. Tak jarang para orang tua autis selalu bertanya kepada sang Pencipta kenapa mereka dikaruniakan anak yang spesial berbeda dari yang lain. Tahukah Souqy para penyandang autis itu sangat tidak ingin terlahir demikian, namun semua itu diluar kehendak mereka.
Apakah Souqy Band masih nyaman menjadikan kata autis sebagai bahan ejekan dalam lagunya. Apakah semua yang terlibat dalam proses terciptanya lagu itu telah kehilangan empati dan merasa karya yang dihasilkan itu adalah murni sebentuk hasil kreatifitas tanpa peka dengan kondisi yang ada. Semoga mereka berpikir ulang bahwa menjadikan autis sebagai bahan ejekan dalam lagu adalah salah satu kekeliruan terbesar yang melukai perasaan banyak orang.
Mengunakan kata autis secara tidak tepat dalam lagu tersebut adalah salah satu bentuk bulying kepada para penyandangnya, juga kepada keluarganya. Bukankah kita yang normal dan penyandang autis hidup dalam dunia yang sama. Mereka tidak butuh dikasihani, hanya perlu diberi ruang agar dapat tumbuh dengan normal dengan keistimewaaan yang dimiliki. Stop menjadikan autis sebagai bahan candaan dan ejekan.
ikhwan w & ikhwatul k.
catatan :
sehubungan dengan adanya sanggahan dari pihak nagaswara yang menyatakan lagu Autis karya Souqy Band tdk di produseri oleh mereka, maka dengan ini kami selaku pembuat petisi melakukan ralat.
sebelumnya Nagaswara memang pernah memproduseri Souqy Band untuk lagu yang berjudul Sungguh Tega, dengan masa kontrak terhitung sejak 26 Januari 2010 sampai 26 Januari 2011.
Oleh sebab itu atas kekeliruan ini kami mohon maaf kepada pihak terkait, dan tetap meminta kepada Souqy Band untuk menarik lagu ini.

Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan
Petisi dibuat pada 12 Januari 2015