Dukungan Gelar Pahlawan Nasional Sultan Hamengkubuwono II

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.

Dengan 500 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!

Mohon doa dan dukungan Masyarakat Indonesia , Penganugerahan  Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional RI.

Latar Belakang

Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono II, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sri Sultan Hamengku Buwono II adalah raja kedua di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogya.  Beliau dilahirkan pada tanggal 7 Maret 1750, dan naik tahta menggantikan sang ayah, Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada 2 April 1792 (Purwosemantri, 2011: 26).  Sosok raja kedua Keraton Yogya ini menjadi istimewa karena sebagai penerus ayahnya, Sultan Hamengku Buwono II pun bersikap anti terhadap penjajahan oleh bangsa asing.  Sikap ini telah beliau tunjukkan sejak masih berstatus sebagai Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota.  Beberapa sumber bahkan menyatakan bahwa sikap anti penjajah yang ditunjukkan oleh Sultan Hamengku Buwono II jauh lebih demonstratif, frontal, dan mengerikan dibandingkan pendahulunya (Poespaningrat, 2016, 45-46).

Sejarah mencatat, Sultan Hamengku Buwono II memiliki keunikan dalam perjalanannya menduduki tahta Keraton Yogya.  Keunikan tersebut adalah bahwa hanya beliaulah satu-satunya Sultan di Keraton Yogya yang naik tahta sebanyak tiga kali. Hal tersebut terjadi tak lain karena perlawanan beliau yang konsisten terhadap pihak penjajah melalui berbagai saluran, dan di sinilah terlihat kepiawaian dan ketajaman pribadi beliau, sehingga beliau mampu mengolah saluran yang beliau miliki untuk menyatakan sikap dan pendiriannya.  Ketika masih berstatus putra mahkota, beliau “memanfaatkan” posisi tersebut melalui tugas-tugas kenegaraan yang dipercayakan kepada beliau oleh ayahandanya.  Salah satunya adalah keberhasilan beliau menunda proyek renovasi  benteng Vredeburg hingga 22 tahun lamanya, karena ketika itu beliau mengalihkan sumber daya untuk membangun Baluwarti, salah satu proyek resmi yang beliau inisiasi atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono I. 

Saat menduduki tahta Keraton Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono II tetap konsisten dalam sikapnya dengan memanfaatkan jejaring pribadinya.  Hal yang beliau lakukan antara lain mengganti pejabat dan staf di lingkungan keraton dengan personel-personel yang beliau kenal betul, dan diyakini hanya loyal pada Keraton.  Di samping itu, beliau mendukung dan memfasilitasi perjuangan kerabat beliau guna melawan penjajah di daerah mereka masing-masing.

Maksud dan Tujuan

Bertolak dari latar belakang tersebut, keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang berhimpun dalam Trah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono II menginisiasi suatu gerakan yang berpangkal pada pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional.  Gerakan ini terkoneksi dan kami gaungkan pula terutama kepada Trah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono II di Yogyakarta sejak tahun 2006, dan telah memperoleh dukungan.

Tentu saja, pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional ini memiliki tujuan.  Adapun tujuan tersebut adalah:

1.Wujud penghormatan dan bakti kami kepada leluhur,

2.Menyebarluaskan riwayat hidup dan perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam menentang penjajahan oleh bangsa asing kepada masyarakat luas,

3.Memberi alternatif tokoh besar bangsa ini untuk dapat diteladani cipta, rasa, karsa, dan karyanya

Matur Nuwun; Trah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono II,