Petition updateDukung Penulis Buku Anak Berkarya Tanpa Sertifikasi

ABSURD AND UNNECESSARY

Penulis Buku AnakIndonesia
Dec 30, 2023

Penulis: Wiwien Wintarto

Itulah kedudukan sertifikasi bagi para penulis fiksi. Bisa dikatakan demikian karena tak semua kerjaan bisa dipandang hanya lewat ranah kompetensi-kompetensi. Di dunia kepenulisan fiksi, kompeten saja tak cukup. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu proses jatuh bangunnya.

Bukan semata dalam kerja-kerja nulisnya, melainkan juga dalam nglakoni (menjalani) hidup secara keseluruhan. Orang nulis puisi, cerpen, atau novel, tak sekadar untuk golek duwit, ikut proyek, menyelesaikan tugas dari atasan, atau memenuhi tenggat-tenggat, melainkan merupakan cerminan dari apa yang ia alami, menempanya, kisah survive-nya, dan segala hal yang membuatnya mendapatkan pencerahan-pencerahan batin.

Menulis fiksi hanya 15 persennya saja yang merupakan job. Sisanya adalah bagian langsung dari pergulatan hidup itu, terutama dalam urusan asmara.
Yang paling krusial adalah tahap mengalaminya. Ilmu yang dipelajari lewat pengalaman, dan bukan bukti-bukti bahwa kita sudah bisa ini dan itu yang kemudian bisa diukur dengan tes-tes seperti pelajar hendak lulus sekolah.
Faktanya, mayoritas penulis fiksi bekerja tak dengan "alur sekolah", yaitu terlebih dahulu mempelajari teori-teori, definisi-definisi, hapalan quote akademisi, juga klasifikasi-klasifikasi; dan baru kemudian menggunakan bukti penguasaan semua itu (lembaran kertas resmi yang dinamai ijazah) untuk bekerja nyari uang.

Mereka ngetik dulu puluhan bahkan ratusan naskah, gagal berkali-kali, remuk berkali-kali, dan baru belakangan tahu yang sudah dikerjakan itu jebul namanya plot twist, prolog, cliffhanger, Chekov's gun, Save the Cat!, Snowflake, red herring, dan sebagainya.

Which means, jauh sebelum paham kemampuan nulisnya maupun teori dan definisinya--yaitu hal-hal yang masuk uji kompetensi--seorang pengarang sudah akan terlebih dulu ratusan kali lolos uji kompetensi editor koran, editor majalah, produser film, atau editor penerbit. Bahkan mungkin sudah puluhan kali diundang untuk ngajar dan berbagi, yang di luar jalur formal sekolah dan kampus.

Sebab urusan puisi, cerpen, novel, dan skrip film, tak semata bicara soal iso secara teknis dan tahu istilah-istilah, tapi juga soal rasa dan estetika. Dan itu hanya mungkin tercapai jika penulis selain kompeten (bisa nulis) juga kaya dalam dua hal itu tadi, penghayatan dan pemahaman.

Ranah kepenulisan lainnya, seperti jurnalistik, memiliki aspek-aspek kemampuan yang dapat dengan mudah diukur (measurable). Unsur rasa gak terlalu urgen di jurnalistik. Maka ada uji-uji kompetensi (dan sertifikatnya) di PWI. Orang cukup kompeten saja, langsung bisa layak untuk masuk dunia kerja. Employer media massa pun menerima kru baru dengan itu sebagai alat ukurnya, baik di depan maupun di belakang (banyak yang baru ikut uji kompetensi setelah diterima sebagai wartawan resmi; aku contohnya).

Helai kertas resmi pembuktian dapat dipahami untuk diberlakukan di kerja-kerja editor (terutama untuk buku nonfiksi), penulis biografi, penulis buku pendidikan formal, atau penelitian ilmiah yang diterbitkan umum (sehingga struktur dan diksinya dibikin agak ngepop). Tokoh, penyelenggara proyek, atau penerbit tentu tak ada waktu untuk ngGugel bookografi satu penulis/editor tertentu, atau menyimak pergulatan hidup mereka.

Satu-satunya alat screening kemampuan dan kompetensi kandidat ya memang lembaran sertifikat itu; duwe apa ora.

Namun beda urusannya di fiksi, dan juga dunia seni secara umum. Punya sertifikat--yang artinya lolos ujian--saja gak cukup. Gak pernah cukup. Penentunya bukan itu, karena dua aspek terpenting nulis fiksi, yaitu kreativitas dan imajinasi (JK Rowling bisa bikin olahraga quidditch, JM Barrie ngarang soal Peter Pan yang menolak jadi dewasa), gak bisa diasah dan diapalne hanya demi Hari-H ujian. Keduanya baru bisa dikuasai dalam sekian belas atau bahkan sekian puluh tahun lewat jatuh bangunnya para penulis akan pemahaman urip.

Coba saja simak biografi Rowling, atau nonton film "Finding Neverland". Sepanjang dan serumit itulah proses penciptaan karya dalam kepenulisan fiksi.
Karena akan terasa beda antara yang belum pernah nerbitin buku tapi (ndilalah kok) lulus ujian, dengan yang gak ada sertipikat apa pun tapi matang oleh hidup termasuk dalam hal berkali-kali ditolak (sehingga penasaran dan terus memperbaiki diri).

"Sertipikat"-nya penulis cerita anak, cerpenis, penyair, novelis pop, dan sastrawan ya seluruh deretan karya yang pernah dimuat media massa berhonor dan semua buku yang pernah terbit itu. Memang dipikir bisa tembus koran, majalah, media daring, atau sejenis Gramedia dan Bentang itu gampang? Ra ngrasakke ono sing ditolak terus dan baru bisa masuk 11 tahun kemudian!

Apalagi bila sudah bicara soal talenta. Bisa gitu kemampuan sinematek Hayao Miyazaki, cara Jim Steinman bikin lagu, atau sentuhan ajaib Van Gogh bikin "The Starry Night" diujikompetensikan?

Di titik ini, satu lembaran kertas atau berkas digital sertifikat menjadi sesuatu yang tak punya urgensi dan bahkan keterkaitan apa pun.

(Yang di foto adalah J.M. Barrie, pengarang Peter Pan)

 

(Sumber: https://www.facebook.com/1567303801/posts/pfbid0Ehg4dr1kSu8jcQUQTb2sZN6QxXE8ABSsyF36kzbTViavDMneQNXBSDeFkAf7ebjXl/?mibextid=2JQ9oc

Copy link
WhatsApp
Facebook
Nextdoor
Email
X