Petition updateDukung Penulis Buku Anak Berkarya Tanpa Sertifikasi

Anugerah Kebudayaan Indonesia, Samakah dengan Ajang Sertifikasi Penulis?

Penulis Buku AnakIndonesia
Dec 29, 2023

Penulis: Watiek Ideo

Sungguh lucu jika Program Anugerah Kebudayaan Indonesia ini disamakan dengan ajang untuk mendapatkan sertifikasi penulis.


Berada di program AKI ini membuat saya bertemu dan berkenalan dengan maestro2 budaya yang sudah berkontribusi minimal 10 tahun di bidangnya dan melakukan kegiatan di komunitas/masyarakat. Kami adalah orang2 yang tidak memikirkan sertifikat saat berkontribusi ke masyarakat, terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan.


Sebagai contoh. Ini adalah Ibu Yulin Pangemanan. Beliau penutur tradisi maengket dan mah'zani. Seni tradisi Minahasa ini menggabungkan musik, tari, dan sastra (lirik). Bajunya unik ya? Ini adalah baju adat Tomohon.  


Seni ini seiring perkembangan zaman, mulai ditinggalkan. Ibu Yulin atau Nek Lin (84 thn) gigih merawat tradisi dengan terus mengenalkannya ke masyarakat. Itulah kenapa ia mendapatkan penghargaan AKI. Penerima AKI mendapat julukan para perawat harmoni.


Oh ya, para penerima AKI ini tidak membayar apa2 ya gaes saat mendaftar. Kami malah mendapat dana apresiasi sebesar Rp75 juta/orang untuk kategori penghargaan dari presiden dan Rp50 juta/orang untuk penghargaan dari menteri. Plus semua mendapatkan pin emas dan piagam penghargaan.


Saat mendaftar, saya tidak tahu kalau ada dana apresiasi sebesar ini karena waktu itu tidak membaca utuh terkait program ini. Bayangan saya, saya akan mendapat piagam dan bertemu mas menteri saja. Jadi, kaget sendiri saat mengetahuinya.


Jadi, begitulah adanya. Sangat berbeda dengan sertifikasi. 

[Sumber: https://www.facebook.com/photo?fbid=10230261574178555&set=a.10230261570018451]

Copy link
WhatsApp
Facebook
Nextdoor
Email
X