Desak Michelin, Bongkar Pagar Listrik untuk selamatkan Gajah Sumatera

14.228

Masalahnya

Halo sahabat,

Perkenalkan, saya Annisa, Senior Wildlife Campaigner di Geopix. Sama seperti kamu, saya sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan satwa liar.

Saya prihatin dengan keberadaan pagar listrik yang mengganggu dan membahayakan pergerakan Gajah Sumatera di areal konsesi PT Lestari Asri Jaya (LAJ), anak perusahaan PT Royal Lestari Utama (RLU) yang merupakan bagian dari Michelin Group. Areal konsesi PT LAJ berada di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, wilayah penting bagi Gajah Sumatera dan berfungsi sebagai koridor hidupan liar. Pengelolaannya sebagai Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Hidupan Liar Datuk Gedang di Bentang Alam Bukit Tigapuluh telah ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Jambi Nomor 8 Tahun 2022.

Sebagian areal konsesi dialokasikan sebagai Wildlife Conservation Area (WCA), yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan Gajah Sumatera dan satwa liar lainnya. Namun, kawasan ini terus menghadapi tekanan. Perambahan dan pembangunan pagar listrik semakin meluas. Berdasarkan pemantauan Geopix, panjang pagar listrik di areal konsesi yang sebelumnya dilaporkan sekitar 70 km kini telah mencapai sekitar 100 km. Pagar tersebut membatasi ruang jelajah gajah, memfragmentasi habitat, dan dapat menimbulkan risiko kematian ketika gajah mencoba melintasinya.

Risiko tersebut bukan sekadar kemungkinan. Pada Mei 2024, gajah betina bernama Umi ditemukan mati tersengat pagar listrik di wilayah konsesi PT LAJ.Umi merupakan gajah berkalung GPS dan bagian penting dari kelompoknya, dan ancaman ini terus berlanjut.

Sejak 2012 hingga 2026, puluhan Gajah Sumatera tercatat mati di Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Pada 25 Agustus 2026, seekor bayi Gajah Sumatera kembali ditemukan mati di dalam konsesi PT LAJ dan kemudian dikuburkan di area tersebut. BKSDA Jambi melakukan nekropsi dan mengambil sampel organ pada 25 Agustus 2026. Hasil pemeriksaan EEHV menunjukkan hasil negatif, sementara uji toksikologi masih berlangsung. Penanganan dan penyelidikan lebih lanjut dilakukan oleh pihak berwenang.

Kematian bayi gajah ini menambah panjang daftar kematian Gajah Sumatera di bentang alam yang seharusnya menjadi ruang penting bagi kehidupan mereka. Sejak 2025, Geopix telah menyampaikan laporan dan kekhawatiran kepada Michelin Group mengenai perlindungan Gajah Sumatera, khususnya di Wildlife Conservation Area. Kami juga telah menyampaikan laporan kepada Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dan Menteri Kehutanan.

Kita tidak bisa menunggu sampai lebih banyak gajah menjadi korban. Mari bersama-sama mendesak Michelin Group untuk segera membongkar pagar listrik yang membahayakan Gajah Sumatera, menangani perambahan, serta memulihkan habitat dan koridor ekologis yang terdegradasi. Membongkar pagar listrik adalah langkah awal. Dalam jangka panjang, diperlukan perlindungan dan restorasi ekosistem pada skala lanskap agar Gajah Sumatera dapat bergerak dengan aman dan memenuhi kebutuhan hidupnya secara alami.

Tanda tangani petisi ini dan desak Michelin Group untuk bertindak sekarang.

Setiap individu Gajah Sumatera sangat berarti. Jangan sampai kita terlambat 🐘🌿

============ENGLISH VERSION===============

Petition Title:

Urge Michelin to Dismantle Electric Fences and Save the Sumatran Elephants

Hello, friends,

My name is Annisa, Senior Wildlife Campaigner at Geopix. Like you, I deeply care about protecting the environment and the wellbeing of wildlife.

I am concerned about the presence of electric fences that disrupt and endanger the movement of Sumatran elephants within the concession area of PT Lestari Asri Jaya (LAJ), a subsidiary of PT Royal Lestari Utama (RLU), part of Michelin Group. PT LAJ’s concession lies within the Bukit Tigapuluh Landscape, an important area for Sumatran elephants and a designated wildlife corridor. Its management as the Datuk Gedang Wildlife Corridor Essential Ecosystem in the Bukit Tigapuluh Landscape was established through Jambi Governor Regulation No. 8 of 2022.

Part of the concession has been designated as a Wildlife Conservation Area (WCA), which plays an important role in supporting Sumatran elephants and other wildlife. Yet this landscape continues to face increasing pressure. Encroachment and the expansion of electric fencing have continued to threaten wildlife. Based on Geopix’s monitoring, the electric fencing across the concession, previously reported at approximately 70 km, has now reached around 100 km. 

These fences restrict elephant movement, fragment their habitat, and can become deadly when elephants attempt to cross them. This risk is not merely hypothetical. In May 2024, a female elephant named Umi was found dead after being electrocuted by an electric fence within PT LAJ’s concession. Umi was fitted with a GPS collar and played an important role within her herd.

And the threat continues. From 2012 to 2026, dozens of Sumatran elephants have been recorded dead across the Bukit Tigapuluh Landscape. On 25 August 2026, another Sumatran elephant calf was found dead inside PT LAJ’s concession and was subsequently buried within the area. BKSDA Jambi conducted a necropsy and collected organ samples on 25 August 2026. Testing for EEHV returned a negative result, while toxicology testing is still ongoing. Further handling and investigation are being conducted by the relevant authorities.

The death of this elephant calf adds to the growing number of Sumatran elephant deaths in a landscape that should serve as an important refuge for their survival. Since 2025, Geopix has raised concerns with Michelin Group regarding the protection of Sumatran elephants, particularly within the Wildlife Conservation Area. We have also submitted our reports to the Jambi Provincial Forestry Agency and the Minister of Forestry.

We cannot wait for more elephants to become victims. Join us in calling on Michelin Group to immediately remove electric fences that endanger Sumatran elephants, address encroachment, and restore degraded habitats and ecological corridors. Removing the electric fences is an essential first step. In the long term, landscape-scale ecosystem protection and restoration are needed to ensure that Sumatran elephants can move safely and meet their needs in the wild.

Sign the petition and urge Michelin Group to act now.

Every Sumatran elephant matters. We cannot afford to wait until it is too late 🐘🌿

Greetings,

Annisa Rahmawati
On behalf of the Sumatran Elephants of the Bukit Tigapuluh Landscape

avatar of the starter
Geopix IDPembuka PetisiKami bekerja menyajikan gambaran terkini mengenai manusia dan lingkungannya, termasuk peradaban untuk menginspirasi respek pada ibu bumi.

Perkembangan Terakhir Petisi