Darurat Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum.

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Pentingnya Pendidikan Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum
dan Mitigasi Bencana Wajib Masuk Sorotan Utama Pemerintah
Daerah

Indonesia disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia-
hingga 2017 jumlah pulau di Indonesia yang secara resmi telah
bernama dan tercatat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
sebanyak 16.056 pulau. Secara geografis, Indonesia diapit dua
samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Literatur menyebutkan Indonesia berdiri di atas pertemuan tiga
lempeng bumi yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan
lempeng Pasifik; Terkait pertemuan lempeng tersebut, pada 11
Oktober 2018, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika) menyampaikan terdapat 295 sesar aktif di Indonesia
serta, masih ada sumber-sumber yang belum terindentifkasi dan
jumlahnya disebut cukup banyak.

Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara di dunia yang
berada di jalur Ring of Fire kawasan Pasifik; Jalur gunung api yang
terbentuk di sepanjang tepian Lempeng Pasifik ini melingkar dari
Amerika Selatan, Kanada, Jepang, Filipina, membuat ‘simpul’ di
Indonesia hingga ke Kepulauan Pasifik; Selain memunculkan
lingkaran gunung api, disebut juga menjadi rumah bagi 90 persen
gempa di bumi dan 81 persen di antaranya memiliki kekuatan
terbesar di dunia.

Tak ayal, setidaknya terdapat 400 gunung api dan dari jumlah
tersebut, 129 di antaranya merupakan gunung api aktif yang rutin
meletus dan sebagian lagi ‘tidur’, termasuk yang ‘istirahat’ untuk
sementara; dari jumlah gunung api yang aktif tersebut, Pusat
Vulkanologi dan Mitigasa Bencana Geologi (PVMBG) mencatat
per 15 Oktober 2018 mencatat satu (1) gunung berstatus Awas
yakni Gunung Sinabung, dua (2) berstatus Siaga yaitu Gunung
Soputan dan Gunung Agung, dan 18 gunung lainnya termasuk level
II atau Waspada yang antara lain Anak Krakatau, Bromo, Banda Api, Rinjani, Gamalama, Kerinci, Semeru, Merapi, dan Marapi.

Ahmad Arif dalam bukunya “Hidup Mati di Negeri Cincin Api,”
mengatakan Indonesia adalah rumah bagi lahir dan matinya
sebagian besar gunung di bumi; Disuplai oleh tenaga berlimpah
dari tumbukan tiga lempeng benua yang hiperaktif, membuat
negeri kita ini ibarat tungku penuh bahan bakar.

Banyaknya gunung api di Indonesia tak ayal ada yang memberikan
penilaian “Volcanoes of Indonesia, Creators and Destroyers.”

Sementara dari sisi hidrometeorologi, Indonesia memiliki
ancaman bencana longsor, banjir, dan kekeringan.

Beritagar.id mencatat, reputasi Indonesia sebagai negara rawan
bencana, juga tercatat dalam laporan The Atlas of the Human
Planet 2017. Laporan itu merekap ancaman di pelbagai penjuru
dunia dari enam jenis bencana alam: gempa bumi, gunung api,
tsunami, banjir, angin badai tropis, dan kenaikan permukaan air
laut.

Banyaknya potensi ancaman bencana (alam) menyiratkan
pertanyaan apakah masyarakat dan pemerintah khususnya
pemerintah daerah, menyadari akan adanya potensi sejumlah bencana alam?

Hingga petisi ini disampaikan, terdapat sejumlah pemerintah
daerah yang menerbitkan kebijakan wujud inisiatif melakukan
antisipasi bencana. Antara lain, Dinas Pendidikan dan Olahraga
Kabupaten Banjarnegara memutuskan adanya pemberian materi
soal kebencanaan, yang akan mulai disampaikan kepada siswa
SMP tahun ajaran 2018/2019; Terkait itu, Dinas Pendidikan dan
Olahraga bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) setempat.

Jauh sebelum langkah insiatif yang dilakukan Pemerintah
Kabupaten Banjarnegara, antara lain Pemerintah Kota Banda
Aceh sejak 2010 sudah memutuskan kebijakan serupa bahkan,
pendidikan kebencanaan yang sedianya mulai diberikan pada
2011 itu diberikan pada kurikulum SD hingga SMA.

Dapat disebut yang terbaru, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
dalam laman Instagramnya pada 30 September 2018,
menyampaikan Pemprov Jawa Barat akan memulai project "West
Java Resilience Culture Blue Print"; Cetak biru dimaksud
diperlukan, kata Ridwan Kamil, karena Pemprov Jawa Barat ingin
melahirkan peradaban yang adaptif terhadap takdir geologis
Indonesia; Budaya tanggap bencana, budaya menyiasati bencana,
dan budaya menghindari bencana seperti halnya Bangsa Jepang
yang lebih dulu adaptif terhadap situasi serupa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
menyampaikan potensi kerugian karena bencana disebut risiko
bencana; Terkait pelbagai informasi di atas, BNPB menilai di
Indonesia, risiko bencana ini tidak bisa dihindari dan hampir
seluruh wilayah Indonesia memiliki risiko bencana.

Nah, menilik dari pelbagai potensi bencana (alam) di atas,
sebagai warga negara saya mendesak pemerintah khususnya
kementerian terkait penyelenggaraan pendidikan dan juga 'pengawas' pemerintah daerah yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi, dan juga Kementerian Dalam Negeri, untuk:

1. Memasukkan informasi potensi bencana alam di Indonesia dan upaya pengurangan dampak bencana (mitigasi bencana), dalam kurikulum wajib di seluruh penyelenggara pendidikan kepada siswa SD, SMP, SMP hingga
pendidikan tinggi dan atau setingkat;

2. Mewajibkan pemerintah daerah untuk memiliki komitmen yang
nyata baik dalam wujud regulasi maupun program seperti
sosialisasi mengenai mitigasi bencana; Serta, mengoptimalkan peran BPBD dan Satpol PP (sesuai PP Nomor 6 tahun 2010 tentang Satpol PP) dalam memasyarakatkan mitigasi bencana maupun saat terjadi bencana.

3. Mewajibkan pemerintah daerah untuk rutin menyerahkan laporan
dan evaluasi mengenai Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana
Penanggulangan Bencana (RPB), dan Rencana Kontijensi per
Bencana; Jika dipandang perlu adanya pemberian reward dan
punishment bagi daerah yang mangkir.

4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian
Agama, serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi,
dan juga Kementerian Dalam Negeri meningkatkan sinergi dengan
BNPB perihal mitigasi bencana.

5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian
Agama, serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi,
dan juga Kementerian Dalam Negeri meningkatkan sinergi dengan
Kementerian PUPR perihal pengawasan pendirian bangunan.

Pelbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia dihimpit potensi bencana, memang terus membaik. Salah satunya ditandai dengan adanya hari peringatan Pengurangan Risiko Bencana Internasional setiap 13 Oktober sejak 2009, bahkan sejak 2013 ditetapkan Oktober menjadi agenda nasional peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana atau BPRB.

Pada tahun ini sendiri, akan digelar di Sumatera Utara. BNPB dan BPBD Provinsi Sumatera Utara akan menyelenggarakan Peringatan BPRB Nasional 2018 di Kota Medan dan sekitarnya. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 19-26 Oktober 2018 dengan mengangkat tema “Sustainable Resilience for Sustainable Development: Coherency for Resilience Through People Public Private Partnership (PPPP)”.

Saya memandang masih diperlukan upaya konkret lainnya untuk menanamkan kesadaran adanya potensi ancaman bencana. Dampak positif dari adanya perkembangan teknologi yang antara lain memang memudahkan kita untuk mencari tahu tentang apa saja dan bagaimana cara menghadapi bencana alam; Namun demikian, hal tersebut juga ditantang oleh ada tidaknya kesadaran untuk mencari tahu? Apakah saat ini sudah tersedia kemudahaan akses baik perangkat maupun jaringan internet yang sama bagi semua orang khususnya siswa sekolah dan mahasiswa di seluruh pelosok daerah Indonesia?

Bukankah menurut sejumlah informasi dari pelbagai pihak di atas, nyaris tidak ada daerah di Indonesia yang terbebas dari bencana alam? Karenanya, saya memandang perlunya kebijakan yang bersifat wajib hingga di daerah-daerah mengenai pengenalan potensi bencana (alam) di Indonesia apa saja dan juga perihal mitigasi bencana; pengetahuan dan juga pemberian materi dimaksud, khususnya disesuaikan dengan risiko terbesar bencana alam di mana sekolah dan atau kampus itu berada di daerah mana serta, dilakukannya pengawasan ketat mengenai pembangunan kawasan pada daerah-daerah yang masuk rawan dan sangat rawan risiko bencana alam.

Saya berpendapat, kita semua memiliki peluang untuk berkontribusi mewujudkan dan juga menjaga pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Ya, meski berada di negara dengan beragam potensi bencana alam. Kontribusi tersebut bisa dimulai sejak dini dengan menanamkan kesadaran sekaligus menjaga terwujudnya pembangunan yang selalu mempertimbangan tiga sisi sekaligus yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Saya dan kamu, kita bisa memulai memasyarakatkan mitigasi bencana dengan menandatangani petisi ini.

Berikut sejumlah link berita sejumlah media massa terkait isu yang saya angkat di atas:

https://news.detik.com/berita/1510378/pendidikan-kebencanaan-masuk-kurikulum-sd-sma-di-aceh

http://fis.uny.ac.id/berita/pendidikan-bencana-perlu-masuk kurikulum.html

https://www.oceanedu.co.id/simulasi-kebencanaan-hendaknya masuk-kurikulum-sekolah/

https://daerah.sindonews.com/read/965200/23/sekolah-wajib ajarkan-pendidikan-kebencanaan-1424094257

https://www.liputan6.com/regional/read/3617130/sekolah-darurat-untuk-anak-korban-gempa-lombok-segera-disiapkan

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4111378/materi-kebencanaan-masuk-kurikulum-smp-di-banjarnegara-tahun-ini

http://news.metrotvnews.com/peristiwa/zNP0pgzN-pendidikan%20mitigasi-bencana-masuk-kurikulum

https://www.republika.co.id/berita/nasional/news analysis/18/10/08/pga0ck430-pendidikan-mitigasi-bencana- yang-belum-masuk-kurikulum-part2

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181011123810-199%20337616/bmkg-ada-295-sesar-aktif-di-indonesia

https://beritagar.id/artikel/berita/indeks-risiko-bencana-di-34-ibu-kota-provinsi-se-indonesia

https://nasional.kompas.com/read/2018/05/04/20442371/indonesi%20a-daftarkan-16056-pulau-bernama-ke-pbb

https://sains.kompas.com/read/2017/12/18/214500823/kenang%20kembali-7-bencana-alam-terparah-di-indonesia-sepanjang-2017

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1046343-wajib-tahu-kota-kota-di-indonesia-yang-dilalui-sesar-aktif

Ahmad Arif. Hidup Mati di Negeri Cincin Api. Januari 2013. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Catatan tambahan: Sumber gambar unduh peta di atas MAGMA Indonesia.



Hari ini: Martina mengandalkanmu

Martina prianti membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Darurat Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum.". Bergabunglah dengan Martina dan 111 pendukung lainnya hari ini.