

BOIKOT RUBEN ONSU
Masalahnya
Apakah seseorang boleh terus dipuja, dibela, dan diberikan panggung hanya karena dia seorang artis senior, memiliki nama besar, dan banyak penggemar?
Ketika dugaan manipulasi, penggiringan opini, dan tindakan yang menyudutkan ibu dari anak anaknya muncul di ruang publik, bahkan dengan adanya bukti bukti penyimpangan seksual di ruang publik.
Dan membiarkan itu menjadi budaya yg merusak generasi bangsa, popularitas mengalahkan sikap kritis, loyalitas penggemar mengalahkan objektivitas, dan citra seseorang dianggap lebih penting daripada dampak perbuatannya. Sehingga dampak yang timbul adalah kalau saya Artis terkenal dan punya banyak pendukung saya tidak perlu intropeksi diri dan memperbaiki perbuatan dan moral saya.
dan ini yang lebih memprihatinkan, agama digunakan untuk membangun simpati.
Agama mengajarkan kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab. Bukan manipulasi, bukan penggiringan opini, dan menjadi contoh bagaimana seseorang berprilaku di masyarakat terutama dia seorang Publik Figur
Lalu, di mana tanggung jawab televisi, media, dan industri hiburan?
Apakah selama seseorang masih memiliki nilai komersial, dia akan terus mendapatkan panggung tanpa ada ruang untuk mempertanyakan dugaan tindakannya secara berimbang?
Apakah menjadi artis senior berarti seseorang harus selalu dibela, bahkan ketika penyimpangan seksual dan perbuatannya sudah tidak bisa menjadi contoh?
Dan yang paling penting, pesan apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?
Jangan sampai generasi muda belajar bahwa seseorang tidak perlu memperbaiki kesalahannya selama dia terkenal, punya kekuasaan, pandai membangun citra, dan memiliki penggemar yang selalu membelanya.
Bayangkan jika suatu hari anak-anak kalian menjadi korban manipulasi, penyalahgunaan kepercayaan, atau grooming oleh seseorang yang mereka kagumi. Apakah kita baru akan peduli ketika korbannya adalah keluarga kita sendiri?
Karena itu, kami menyerukan kepada televisi, media, industri hiburan, dan masyarakat agar tidak memberikan pembelaan membabi buta. terapkan standar etika yang sama kepada siapa pun.
Kami tidak meminta seseorang dihukum karena identitas atau kehidupan pribadinya. Kami meminta agar nama besar tidak menjadi alasan untuk menutup mata terhadap dugaan perbuatan yang merusak yang merusak nilai-nilai agama dan moral.
Dengan menormalisasi dan membiarkan orang bernama Ruben Onsu ini yang diduga GUNAKAN AGAMA dan nama besarnya SEBAGAI TAMENG PENCITRAAN. Sama saja kita membuang semua nilai2 yg selama ini dijunjung tinggi nenek moyang kita, pemuka agama dan orang-orang tua kita
Karena ketika masyarakat terus membela seseorang tanpa memedulikan benar atau salah, yang sedang kita rusak bukan hanya rasa keadilan, melainkan standar moral yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

62
Masalahnya
Apakah seseorang boleh terus dipuja, dibela, dan diberikan panggung hanya karena dia seorang artis senior, memiliki nama besar, dan banyak penggemar?
Ketika dugaan manipulasi, penggiringan opini, dan tindakan yang menyudutkan ibu dari anak anaknya muncul di ruang publik, bahkan dengan adanya bukti bukti penyimpangan seksual di ruang publik.
Dan membiarkan itu menjadi budaya yg merusak generasi bangsa, popularitas mengalahkan sikap kritis, loyalitas penggemar mengalahkan objektivitas, dan citra seseorang dianggap lebih penting daripada dampak perbuatannya. Sehingga dampak yang timbul adalah kalau saya Artis terkenal dan punya banyak pendukung saya tidak perlu intropeksi diri dan memperbaiki perbuatan dan moral saya.
dan ini yang lebih memprihatinkan, agama digunakan untuk membangun simpati.
Agama mengajarkan kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab. Bukan manipulasi, bukan penggiringan opini, dan menjadi contoh bagaimana seseorang berprilaku di masyarakat terutama dia seorang Publik Figur
Lalu, di mana tanggung jawab televisi, media, dan industri hiburan?
Apakah selama seseorang masih memiliki nilai komersial, dia akan terus mendapatkan panggung tanpa ada ruang untuk mempertanyakan dugaan tindakannya secara berimbang?
Apakah menjadi artis senior berarti seseorang harus selalu dibela, bahkan ketika penyimpangan seksual dan perbuatannya sudah tidak bisa menjadi contoh?
Dan yang paling penting, pesan apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?
Jangan sampai generasi muda belajar bahwa seseorang tidak perlu memperbaiki kesalahannya selama dia terkenal, punya kekuasaan, pandai membangun citra, dan memiliki penggemar yang selalu membelanya.
Bayangkan jika suatu hari anak-anak kalian menjadi korban manipulasi, penyalahgunaan kepercayaan, atau grooming oleh seseorang yang mereka kagumi. Apakah kita baru akan peduli ketika korbannya adalah keluarga kita sendiri?
Karena itu, kami menyerukan kepada televisi, media, industri hiburan, dan masyarakat agar tidak memberikan pembelaan membabi buta. terapkan standar etika yang sama kepada siapa pun.
Kami tidak meminta seseorang dihukum karena identitas atau kehidupan pribadinya. Kami meminta agar nama besar tidak menjadi alasan untuk menutup mata terhadap dugaan perbuatan yang merusak yang merusak nilai-nilai agama dan moral.
Dengan menormalisasi dan membiarkan orang bernama Ruben Onsu ini yang diduga GUNAKAN AGAMA dan nama besarnya SEBAGAI TAMENG PENCITRAAN. Sama saja kita membuang semua nilai2 yg selama ini dijunjung tinggi nenek moyang kita, pemuka agama dan orang-orang tua kita
Karena ketika masyarakat terus membela seseorang tanpa memedulikan benar atau salah, yang sedang kita rusak bukan hanya rasa keadilan, melainkan standar moral yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 12 Oktober 2026