Biarkan Satwa Bernafas Bebas, Tegakkan Konservasi Satwa Liar

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


Berdasarkan Pasal 4 Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya berbunyi

 

“Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat.”

 

Belum lama ini telah menggaung dengan keras bahwa kondisi satwa di Indonesia sedang sangat tidak baik-baik saja. Padahal satwa sendiri dapat mandiri tanpa bantuan manusia untuk dapat hidup dengan nyaman di habitatnya. Namun, beberapa oknum memandang satwa sebagai nilai ekonomis yang tinggi serta beberapa menjadikan satwa (re:perburuan) sebagai mata pancaharian yang menggiurkan. Sebab keuntungan yang diperoleh lumayan tinggi dan cukup instan. Seperti misalnya dilansir dari jpnn.com bahwa kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dapat mencapai nilai Rp 60 juta. Selain itu, dilansir juga oleh Voainonesia.com yang bersumber dari Union for Conservation of Nature  bahwa Harimau Sumatera diperkirakan hanya tersisa 400 hingan 500 ekor yang ada di hutan.Dilansir oleh situs Mongabay pada 13 Februari 2018 bahwa orang utan kalimantan tepatnya (Pongo pygmaeus) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan timur, tewas akibat 130 butir peluru yang ada ditubuhnya, dari hasil nekropsi oleh drh. Felisitas Flora SM, luka-luka yang ada disebabkan oleh senapan angin. Selain itu, dilansir dari detik.com pembunuhan gajah jinak Bunta di CRU Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur Aceh pada 9 Juni 2018 yang dilakukan oleh 2 terduga. Tidak bernasib baik juga pada spesies burung dilindungi, pada 26 Juli 2018 KLHK usut penyelundupan 1.380 ekor burung dimana diantaranya 1080 ekor adalah burung dilindungi sedangkan 300 ekor burung tidak dilindungi tanpa Surat Izin Angkut TSL Dalam Negeri (SAT-DN). Beberapa jenis burung yang dilindungi yakni Kolibri Ninja, Sepah Raja dan Gelatik Wingku. Di Jogja sendiri, seperti dilansir Kompas (07/08/2017) belasan hewan dilindungi berhasil diselamatkan dari praktik penjualan satwa liar. Satwa yang disita berjumlah 12 satwa, yaitu lima ekor kucing hutan, dua ekor jelarang, seekor trenggiling, seekor binturung, seekor alap-alap, seekor landak, dan seekor Garangan Jawa.

 

Diawali dari keprihatinan ini Fakultas Kehutanan UGM meluncurkan sebuah petisi mengenai “Jogja Peduli Satwa Liar” untuk mendorong masyarakat Jogja lebih mengenal dekat dan peduli terhadap keberadaan satwa liar . Dalam petisi ini mengandung beberapa poin mengenai :

 

1. Mengajak masyarakat Indonesia dan Jogja pada khususnya untuk berperan serta dalam mendukung kelestarian satwa liar.

 

2. Mendorong pemerintah untuk menindak tegas terhadap kegiatan yang mengancam kelestarian satwa liar.

 

3. Mendukung segala upaya konservasi satwa liar di Indonesia.

 

Kemenangan petisi ini akan sampai dengan mendesak peninjauan kembali Undang-undang menyangkut konservasi satwa oleh pihak terkait dan penindakan tegas pelaku kejahatan pada satwa. Kedua, meminta semua elemen masyarakat yang peduli satwa menggencarkan dan mengecam aksi perburuan satwa di media sosial serta mengkampanyekan peduli satwa lewat media sosial dengan hashtag.

 

#BersamaLindungiSatwa

 

 

 

Sumber :

http://jambi.tribunnews.com/2015/02/24/korem-pajang-offset-harimau-polhut-dan-bksda-jambi-lempar-lemparan

 

http://www.mongabay.co.id/2018/02/13/mengenaskan-orangutan-ini-mati-ditembus-130-peluru/ 

 

https://news.detik.com/berita/d-4096897/klhk-pembunuhan-gajah-jinak-di-aceh-kejahatan-luar-biasa

 

 https://regional.kompas.com/read/2017/08/07/14072841/belasan-hewan-dilindungi-selamat-dari-penjualan-satwa-liar-di-diy 

 

 



Hari ini: Forestweek mengandalkanmu

Forestweek Fakultas Kehutanan UGM membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Biarkan Satwa Bernafas Bebas, Tegakkan Konservasi Satwa Liar". Bergabunglah dengan Forestweek dan 118 pendukung lainnya hari ini.