Kemenangan dikonfirmasi

#SaveVOAIndonesianRadio: Jangan Stop Siaran Radio Berbahasa Indonesia

Petisi ini membuat perubahan dengan 333 pendukung!


Sejarah VOA Program Bahasa Indonesia Bagaimana dan Bilamana Bermula Siaran Bahasa Indonesia ?

Indonesia ketika itu masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Sekitar waktu siaran pertama Suara Amerika itu, ada beberapa pemuda Indonesia di Amerika Serikat. Mereka itu anggota Korps Penerbangan Sukarela yang disponsor Belanda, dan pada tahun 1942 dikirim ke Royal Netherlands Military Flying School (Sekolah Penerbangan Militer Kerajaan Belanda) di Fort Leavenworth di negara bagian Kansas, di bagian barat tengah Amerika, untuk latihan terbang. Para pemuda Indonesia itu kemudian direkrut oleh Badan Penerangan Perang Amerika Serikat (Office of War Information) untuk turut menjelaskan kepada dunia mengapa Amerika terlibat dalam Perang Dunia II.

Para pemuda Indonesia itu menerjemahkan naskah siaran di New York, kemudian direkam dan disiarkan ke Indonesia dari San Francisco. Di antara pemuda-pemuda itu terdapat Kadet Sudjono. Ia dilahirkan di Surakarta tanggal 8 Januari 1923, dan berpendidikan AMS (SMA zaman Belanda) jurusan Sastra Timur, dari tahun 1939-1942. Ia kembali ke Indonesia pada pertengahan 1940-an dan menerjunkan diri dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia, dan pada tahun 1950-an kembali ke Amerika Serikat menjadi Atase Udara Republik Indonesia di Kedutaan Besar Indonesia di Washington.

Pada tahun 1957, Sujono mengikuti pendidikan di Air Transportation Institute di University of George Washington di ibukota Amerika Serikat, dan pada tahun 1970 mengikuti Sekolah Staf dan Komano AURI. Di AURI, Sujono mencapai pangkat Marsekal Madya Udara. Pada tahun 1971 ia menjadi anggota DPR, dan pada tahun 1977 menjadi Wakil Ketua DPR.

Menyiarkan dalam Bahasa Jawa Juga

Dalam bulan Mei 1943, sebuah seksi dengan resmi didirikan di San Francisco di bawah Badan Penerangan Perang Amerika (Office of War Information), dan seksi itu disebut Seksi Bahasa Melayu, dikepalai oleh Dr. Vernon Hendershot, kini almarhum, dan penyiarnya 6 orang, di antaranya Pamudjo, seorang warga Amerika Serikat, yang menjadi Konsul Kehormatan untuk Indonesia sebentar, setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945. Kelima penyiar lainnya adalah : Mansarudin Bogok, Eddy Koestoer, Machmud Raksapermana, Eddy Tirayoh, dan William W. Siwy, almarhum.

Siaran-siaran ke Indonesia pada waktu itu, dalam bahasa Jawa dan Melayu, sebagian besar berupa warta-berita dan penjelasan mengenai penyerbuan pasukan Jepang di kawasan Pasifik, dan juga ulasan-ulasan yang dimaksudkan untuk mendorong semangat juang rakyat Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. Pada permulaan, siaran dalam bahasa Jawa dan Melayu itu berlangsung hanya setengah jam, tetapi ketika pasukan Amerika bertambah kuat di kawasan Pasifik, staf penyiar dan jam siaran ditambah. Dengan berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Seksi Bahasa Melayu diganti namanya menjadi Seksi Bahasa Indonesia.

Hanya tiga hari setelah negara-negara Axis menyerah, VOA menceritakan kepada dunia tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia negara pertama di antara berbagai bangsa Asia yang memproklamirkan kemerdekaan. Dalam ucapan selamat yang dikirim kepada VOA pada ulang tahunnya yang ke 35 tanggal 24 Februari 1977, bekas Kepala RRI Sugito mengatakan bahwa Suara Amerika dimonitor selama perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, ketika kantor pusat RRI berkedudukan di Yogyakarta.

Dari San Francisco ke New York Lalu ke Washington

Dalam bulan Agustus tahun 1946, VOA, termasuk Seksi Bahasa Indonesia, pindah dari San Francisco ke New York, dan VOA menjadi bagian dari Departemen Luar negeri Amerika. Ketika itu James Mysburg diangkat menjadi kepala Seksi Indonesia, yang digantikan kemudian oleh John A. Nalley. Beberapa kepala seksi setelah itu adalah Dr.Vernon Hendershot, Yoshio Sakaue, J. Brooks Spector, George F. Grow. Kini dijabat oleh Dr. Norman Goodman. Sedangkan Kepala Urusan Luar, Odjahan Siahaan, M.A.

Seksi Bahasa Indonesia mengumandangkan siarannya yang pertama dalam bentuknya yang sekarang pada tanggal 27 Desember 1949, pada hari Amerika Serikat mengakui Indonesia sebagai negara merdeka. Pada bulan September 1954, VOA pindah lagi -- kali ini ke kota Washington, ibukota Amerika Serikat. VOA menjadi bagian dari badan yang baru dan berdiri sendiri, yakni United States Information Agency (USIA), atau Badan Penerangan Amerika Serikat, yang direkturnya langsung bertanggung jawab kepada presiden Amerika Serikat.

Pada tahun 1954, Seksi Bahasa Indonesia masih kecil, tetapi lambat laun pegawai-pegawai baru ditambahkan, di antaranya Emma Soeradja, Julian Mara, (alm.) dan Tati Haryati, yang ketiga-tiganya ketika itu bertempat tinggal di Amerika, dan siaran-siaran Seksi Bahasa Indonesia diperpanjang dari satu menjadi dua jam setiap hari. Di antara staf penyiar yang pertama didatangkan langsung dari Indonesia ialah Kamargo Tirtosupono, kemudian Abdul Hannan (alm.), Arjono Tirtohardjo (alm.), Willy Sitompul dan suami-isteri Wahyu dan Prahastuti Adhitama. Pada tahun 1965, Ruben Dangin didatangkan untuk memperkuat staf Seksi Indonesia.

Setelah usaha kudeta komunis yang gagal pada bulan Oktober 1965 di Indonesia, VOA menambah waktu siaran Bahasa Indonesia menjadi tiga jam setiap hari. Ketika itu, Suara Amerika menampung Zulkarnain Tajibnapis, M.A. dan Odjahan Siahaan, M.A., menjadi penyiar; keduanya semula bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Washington. Dalam tahun 1966 dan sesudahnya, tenaga baru langsung direkrut dari Indonesia.

VOA Indonesian Radio

Sejak era Reformasi yang dimulai tahun 1998, kebebasan pers dan berakhirnya kontrol pemerintah terhadap media massa, memungkinan VOA untuk menempuh strategi afiliasi untuk menyebarluaskan program televisi dan radionya. Kini, VOA memiliki lebih dari 240 afiliasi radio FM dan AM di seluruh penjuru Indonesia. Lebih dari 80 persen penikmat VOA menangkap berbagai program VOA melalui radio-radio afiliasi ini. Mulai tahun 2000, VOA melebarkan sayapnya dengan memproduksi program-program televisi. Berbagai program televisi VOA dapat disaksikan di sebagian besar stasiun televisi nasional dan lebih dari 30 televisi lokal.

Jutaan rakyat Indonesia yang adalah pendengar 240 radio afiliasi sudah mendapatkan manfaat dari program-program yang digelontorkan VOA, baik program onair maupun offair. Mereka adalah pendengar-pendengar setia yang selalu menelepon radio afiliasi VOA di daerahnya, bila paket siaran VOA tak naik siar. 

Apa yang Mereka Dapatkan? 

Informasi mengenai hubungan Indonesia dan Amerika Serikat secara independen dan terbuka, mulai dari hal yang human interest hingga masalah pelik sosial politik. Ciri khas VOA yang tetap menjaga firewall pemberitaan membuat semua program mereka cenderung objektif dalam memandang satu masalah. 

Ya, dengan kekuatan media radio, informasi/program radio VOA menjadi 'duta' yang hangat buat hubungan Indonesia-Amerika Serikat. Kekuatan itu adalah intimasi, yang tidak didapatkan dari media lainnya. Apalagi saat ini konsep konvergensi media atau Radio 2.0 marak dijalani. Nyaris semua televisi nasional mengakuisisi radio. Untuk apa? Untuk penetrasi program mereka tentunya, apalagi ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan televisi, dan dapat dilakukan oleh radio. Belum lagi bila kita bicara soal dunia maya alias internet dan mobile gadget.

Jadi, sejatinya gerak media-media itu mesti dimanfaatkan secara apik demi menjalankan visi misi tanpa ketinggalan jaman. Itu yang semestinya dilakukan VOA. Bukan malah 'memotong' salah satu media yang ada (dalam hal ini radio). Hal tersebut terkait dengan rencana menghentikan siaran radio VOA Indonesia, (hanya) karena hasil riset Gallup yang menyebut penetrasi media radio di Indonesia terjun bebas. Sehingga dirasa perlu memotong demi efisiensi (dengan tetap mempertahankan televisi dan internet). (Kabar soal ini dapat diasup melalui media online yang ada). 

Hal ini sangat mengejutkan dan memprihatinkan saya dan rekan-rekan pengerja radio di Indonesia (terutama afiliasi VOA). 

Mengapa Anda harus mendukung petisi ini? 

Sejarah panjang VOA Indonesia, khususnya radio sejak awal membangun intimasi Indonesia-Amerika Serikat.

Esensi media radio yang dari dulu hingga kini masih menjadi 'main platform in news distribution'. Hal ini pun diakui oleh pemerintah Amerika Serikat. 

Keberadaan VOA Indonesia Radio merupakan simbol kebebasan kita dalam mengakses informasi seluas-luasnya. Nah, relakah kita kehilangan akses tersebut?

Nah, bila demikian, apakah pemerintah Amerika Serikat rela mengorbankan keintiman yang selama ini telah terjalin dengan rakyat Indonesia pendengar radio? Menyitir istilah Presiden Soekarno, JasMerah: Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah.  

Apakah pemerintah Amerika Serikat hendak memotong akses informasi via radio tersebut? 

Hanya Negeri Paman Sam yang tahu, namun kita niscaya dapat mengubah alur rencana penghentian siaran radio VOA Indonesia dengan petisi ini.... 

Dengan penuh kerendahan hati, saya bersama rekan-rekan afiliasi radio VOA Indonesia, mengharap dukungan Anda....

Saya, 

Yancen Piris - pendengar setia program VOA Indonesia via radio. 



Hari ini: Yancen mengandalkanmu

Yancen Piris membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "barack obama: #SaveVOAIndonesianRadio: Jangan Stop Siaran Radio Berbahasa Indonesia". Bergabunglah dengan Yancen dan 332 pendukung lainnya hari ini.