AADC (Ada Apa Dengan Cadar)?

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Dalam pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada tgl 13 Agustus mendatang, terdapat salah 1 peraturan yakni dilarangnya memakai penutup wajah/cadar selama pelaksanaan  PBAK-U/OSPEK kampus. 

Aturan ini tertulis dalam Keputusan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Nomor 3304Un.3/HK.01.4/05/2018 tentang Pedoman PBAK-U, Peraturan Nomor 2 point b.2 : Ketentuan pakaian wanita baju putih lengan panjang, rok hitam panjang, sepatu hitam, kaos kaki putih, jas almamater, berjilbab putih (tidak berbahan kaos) dan tidak bercadar, dengan alasan untuk Meminimalisir Gerakan Radikalisme dan Intoleransi.

Kami disini sebagai mahasiswa, bagian civitas akademika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang meminta bantuan Mahasiwa, Dosen maupun seluruh jajaran civitas akademik kampus untuk membantu menyebarkan dan menandatangi petisi  ini sebagai bentuk dukungan terhadap  diperbolehkannya memakai cadar pada saat pelaksanaan PBAK-U/OSPEK UIN Malang. 

Saat ini ingin diadakan mediasi antara pihak penggungat dengan pihak rektorat. 

Mengapa isu radikalisme dan intoleransi harus dicirikan dengan mereka yang memakai cadar?

Ini tidak menghargai muslimah yang ingin menjalankan syariat Islam yang merupakan sunnah Rasulullah yakni memaki cadar. Apalagi di dalam Hadist dan Kitab suci Al - Qur'an dijelaskan anjuran untuk memakai penutup wajah dan agar menundukkan pandangannya untuk terhindar dari fitnah, sebagai berikut contoh hadist dan ayat suci Al - Qur'an yang menjelaskan tentang menundukkan pandangan dan menutup wajah. 

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka. [An Nur/24: 31]

Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminat untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan [1].

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. [An Nur/24: 31]

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” [2].

Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka. [An Nur/24: 31]

Berdasarkan apa yang ayat ini, sebagian dari muslimah yang bercadar setuju bahwa menutup wajah adalah sebuah kewajiban, karena wajah juga merupakan pusat kecantikan seorang muslimah. [3]

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” [An Nur/24: 31]

Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. [4]

5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An Nur/24: 60]

Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. [5]

Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. [6]

Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” [An-Nur/24: 60]

Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:

وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur/24: 60]

Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” [7]

6. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” [An-Nur/24: 60]

Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. [8]

7. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Ahzab/33: 59]

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” [9]

Qatadah berkata tentang firman Allah ini (Al Ahzab/33: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” [10]

Diriwayatkan Ibnu Abbas berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” [11]

Islam mewajibkan menutup aurat hingga menganjurkan menutup sebagian wajahnya/bercadar semata-mata hanya ingin memuliakan kaum hawa. 

Kami harap Pihak Rektorat bisa mempertimbangkan permohonan kami untuk mencabut larangan memakai cadar saat pelaksanaan PBAK-U maupun seterusnya,  sebagai bentuk menghargai privasi, hak asasi dan pilihan individu  masing-masing orang dalam melaksanakan syariat Islam. 



Hari ini: Indy mengandalkanmu

Indy Faizha membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Aliansi Mahasiswa UIN Malang : AADC (Ada Apa Dengan Cadar)?". Bergabunglah dengan Indy dan 751 pendukung lainnya hari ini.