

Mendesak Pemprov Jabar Batalkan Proyek Data Center AI di Waduk Jatiluhur - Purwakarta
Masalahnya
MANUSIA HANYALAH TAMU, YANG MULAI LUPA DIRI
Petisi Mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat Membatalkan Proyek Data Center AI di Kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta
Kepada:
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Pemerintah Kabupaten Purwakarta
Pemerintah Republik Indonesia
serta seluruh pihak yang memiliki kewenangan dalam perencanaan, perizinan, pembangunan, dan pengawasan proyek Data Center AI di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta.
KAMI TIDAK SEDANG MEMBELA ALAM
Karena alam tidak pernah meminta kita untuk membelanya.
Alam telah ada jauh sebelum manusia datang membawa peta, sertifikat, izin, teknologi, beton, kabel, mesin, dan algoritma.
Gunung tidak membutuhkan manusia untuk menjadi gunung.
Air tidak membutuhkan manusia untuk menjadi air.
Hutan tidak membutuhkan manusia untuk menjadi hutan.
Burung tidak membutuhkan manusia untuk mengetahui ke mana ia harus terbang.
Dan Waduk Jatiluhur tidak pernah diciptakan hanya untuk menjadi ruang kosong yang menunggu diisi oleh kepentingan manusia.
Yang membutuhkan alam adalah manusia.
Karena itu, petisi ini bukan tentang bagaimana manusia menyelamatkan alam.
Petisi ini adalah tentang bagaimana manusia berhenti menganggap dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.
MANUSIA HANYALAH TAMU
Manusia datang belakangan.
Tetapi kita bertindak seolah-olah datang sebagai pemilik.
Kita mengukur tanah, membagi ruang, menetapkan batas, membuat izin, kemudian menyebut sesuatu sebagai “milik kita”.
Kita membangun.
Kita mengubah.
Kita mengambil.
Kemudian ketika alam menunjukkan akibatnya, kita menyebutnya sebagai bencana alam.
Padahal sering kali, yang terjadi bukan alam yang sedang menghukum manusia.
Melainkan manusia yang sedang mengalami akibat dari lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari sistem kehidupan.
MENGAPA DATA CENTER AI HARUS DIPERTANYAKAN?
Kami memahami bahwa teknologi, kecerdasan buatan, digitalisasi, dan infrastruktur data merupakan bagian dari perkembangan peradaban.
Namun pertanyaannya bukan:
“Apakah manusia membutuhkan AI?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Di mana AI seharusnya hidup tanpa mengorbankan keberadaan ekologis yang menopang kehidupan?”
Kemajuan teknologi tidak otomatis menjadi kemajuan peradaban apabila biaya ekologisnya dipindahkan kepada alam.
Sebuah data center membutuhkan energi.
Membutuhkan sistem pendinginan.
Membutuhkan air dan infrastruktur.
Membutuhkan jaringan listrik.
Membutuhkan konstruksi.
Membutuhkan lahan.
Dan seluruh kebutuhan tersebut memiliki jejak material.
Karena itu, pembangunan data center berskala besar tidak boleh dinilai hanya dari investasi, lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, atau kapasitas komputasinya.
Ia harus dinilai dari seluruh hubungan ekologis yang disentuhnya.
JATILUHUR BUKAN SEKADAR LAHAN
Waduk Jatiluhur bukan sekadar titik koordinat.
Bukan sekadar kawasan yang dapat dilihat sebagai ruang pembangunan.
Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang jauh lebih besar daripada kepentingan satu proyek.
Air bergerak.
Tanah menyerap.
Hutan menahan.
Sungai mengalir.
Ikan berkembang biak.
Burung berpindah.
Mikroorganisme bekerja tanpa pernah masuk dalam laporan investasi.
Masyarakat hidup berdampingan dengan ekosistem.
Dan seluruh hubungan tersebut membentuk sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam nilai rupiah.
Ketika satu bagian sistem berubah, bagian lain ikut merasakan akibatnya.
Itulah sebabnya keputusan pembangunan di sekitar Jatiluhur tidak boleh hanya menggunakan logika:
“Apakah proyek ini menguntungkan manusia?”
Tetapi juga harus bertanya:
“Apa yang terjadi terhadap kehidupan yang tidak memiliki suara dalam ruang pengambilan keputusan?”
ALAM TIDAK MEMILIKI LOBI
Pohon tidak datang ke ruang rapat.
Air tidak mengirim surat keberatan.
Burung tidak menghadiri konsultasi publik.
Ikan tidak memiliki pengacara.
Tanah tidak memiliki rekening bank.
Ekosistem tidak memiliki wakil di meja investasi.
Karena itu, ketika keputusan pembangunan dibuat, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kepentingan kehidupan yang tidak mampu berbicara dengan bahasa birokrasi.
Diamnya alam bukan berarti persetujuan.
Ketidakmampuan sebuah ekosistem untuk mengajukan keberatan bukan berarti ia dapat dikorbankan.
KAMI MEMINTA PEMPROV JAWA BARAT UNTUK BERHENTI SEJENAK
Kami tidak menolak teknologi.
Kami tidak menolak kecerdasan buatan.
Kami tidak menolak investasi.
Kami tidak menolak kemajuan.
Kami menolak gagasan bahwa setiap ruang harus dikorbankan demi pertumbuhan manusia.
Kami meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mempertimbangkan satu prinsip sederhana:
Tidak semua tempat yang secara teknis dapat dibangun, secara ekologis layak untuk dibangun.
TUNTUTAN KAMI
Kami mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk:
1. MEMBATALKAN proyek Data Center AI di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta
Apabila proyek tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap sistem ekologis kawasan, kami meminta proyek dihentikan dan dibatalkan.
2. MENETAPKAN JATILUHUR SEBAGAI KAWASAN YANG DIPERLAKUKAN DENGAN PRINSIP KEHATI-HATIAN EKOLOGIS
Jatiluhur harus dipandang sebagai bagian dari sistem kehidupan, bukan sekadar aset ruang yang tersedia untuk investasi.
3. MELAKUKAN KAJIAN EKOLOGIS INDEPENDEN
Kajian tidak boleh hanya berorientasi pada kelayakan ekonomi dan teknis.
Kajian harus mempertimbangkan:
air, tanah, hutan, biodiversitas, iklim, masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.
4. MENYELENGGARAKAN PARTISIPASI PUBLIK YANG BERMAKNA
Masyarakat bukan sekadar objek sosialisasi setelah keputusan dibuat.
Masyarakat harus memiliki ruang nyata untuk mengetahui, mempertanyakan, mengkritisi, dan memengaruhi keputusan.
KAMI MENGAJUKAN SATU PERTANYAAN YANG LEBIH BESAR
Jika kecerdasan buatan dibangun untuk membuat manusia semakin cerdas,
mengapa kita masih menggunakan logika pembangunan yang menganggap alam sebagai sesuatu yang dapat dikorbankan?
Bukankah kecerdasan seharusnya membuat kita mampu memahami batas?
Bukankah kemajuan seharusnya membuat kita lebih bijaksana?
Dan bukankah teknologi yang benar-benar maju seharusnya mampu hidup berdampingan dengan kehidupan lain?
KARENA ALAM TIDAK PERNAH MEMINTA KITA UNTUK MENJADI TUHAN
Manusia menemukan listrik.
Manusia menciptakan komputer.
Manusia menciptakan internet.
Manusia menciptakan kecerdasan buatan.
Tetapi manusia tidak menciptakan air.
Tidak menciptakan atmosfer.
Tidak menciptakan tanah.
Tidak menciptakan ekosistem.
Tidak menciptakan kehidupan.
Kita hanya belajar memanfaatkan sesuatu yang sudah ada jauh sebelum kita.
Maka jangan sampai kemampuan kita menciptakan teknologi membuat kita lupa pada ketergantungan kita terhadap sesuatu yang tidak kita ciptakan.
JATILUHUR TIDAK MEMBUTUHKAN KITA UNTUK ADA
Tetapi kita membutuhkan sistem kehidupan seperti Jatiluhur untuk terus ada.
Itulah perbedaan yang harus kita pahami.
Alam bukan bawahan manusia.
Alam bukan fasilitas manusia.
Alam bukan komoditas tanpa batas.
Alam adalah kondisi yang memungkinkan manusia ada.
SERUAN KEPADA MASYARAKAT
Jika Anda percaya bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari besarnya investasi...
Jika Anda percaya bahwa air memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar harga...
Jika Anda percaya bahwa hutan, sungai, dan biodiversitas memiliki hak untuk tetap hidup...
Jika Anda percaya bahwa teknologi harus tunduk pada batas ekologis...
Jika Anda percaya bahwa manusia bukan pusat dari seluruh kehidupan...
Tandatangani petisi ini.
Bukan atas nama alam.
Karena alam tidak membutuhkan tanda tangan kita.
Tandatangani atas nama kesadaran manusia.
Atas nama keberanian untuk berkata:
Cukup.
Tidak semua tempat harus dibangun.
Tidak semua ruang harus dimonetisasi.
Tidak semua yang dapat dilakukan berarti harus dilakukan.
Dan tidak semua kemajuan harus dibayar oleh alam.
PETISI INI ADALAH SEBUAH PENGINGAT
Kita datang ke dunia tanpa membawa tanah.
Kita hidup dengan air yang tidak kita ciptakan.
Bernapas dengan udara yang tidak kita produksi.
Makan dari kehidupan yang tidak kita desain.
Kemudian suatu hari kita pergi.
Tanah tetap ada.
Air tetap mencari jalannya.
Angin tetap bergerak.
Burung tetap terbang.
Sementara generasi manusia berganti.
Mungkin masalah terbesar kita bukan kekurangan teknologi.
Mungkin kita hanya terlalu lama lupa bahwa kita adalah tamu.
Dan tamu yang baik tidak menghancurkan rumah tempat ia menumpang.
✊ TANDA TANGANI PETISI INI
DESAK PEMPROV JAWA BARAT:
BATALKAN PROYEK DATA CENTER AI DI WADUK JATILUHUR, PURWAKARTA
MANUSIA HANYALAH TAMU DI BUMI

66
Masalahnya
MANUSIA HANYALAH TAMU, YANG MULAI LUPA DIRI
Petisi Mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat Membatalkan Proyek Data Center AI di Kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta
Kepada:
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Pemerintah Kabupaten Purwakarta
Pemerintah Republik Indonesia
serta seluruh pihak yang memiliki kewenangan dalam perencanaan, perizinan, pembangunan, dan pengawasan proyek Data Center AI di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta.
KAMI TIDAK SEDANG MEMBELA ALAM
Karena alam tidak pernah meminta kita untuk membelanya.
Alam telah ada jauh sebelum manusia datang membawa peta, sertifikat, izin, teknologi, beton, kabel, mesin, dan algoritma.
Gunung tidak membutuhkan manusia untuk menjadi gunung.
Air tidak membutuhkan manusia untuk menjadi air.
Hutan tidak membutuhkan manusia untuk menjadi hutan.
Burung tidak membutuhkan manusia untuk mengetahui ke mana ia harus terbang.
Dan Waduk Jatiluhur tidak pernah diciptakan hanya untuk menjadi ruang kosong yang menunggu diisi oleh kepentingan manusia.
Yang membutuhkan alam adalah manusia.
Karena itu, petisi ini bukan tentang bagaimana manusia menyelamatkan alam.
Petisi ini adalah tentang bagaimana manusia berhenti menganggap dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.
MANUSIA HANYALAH TAMU
Manusia datang belakangan.
Tetapi kita bertindak seolah-olah datang sebagai pemilik.
Kita mengukur tanah, membagi ruang, menetapkan batas, membuat izin, kemudian menyebut sesuatu sebagai “milik kita”.
Kita membangun.
Kita mengubah.
Kita mengambil.
Kemudian ketika alam menunjukkan akibatnya, kita menyebutnya sebagai bencana alam.
Padahal sering kali, yang terjadi bukan alam yang sedang menghukum manusia.
Melainkan manusia yang sedang mengalami akibat dari lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari sistem kehidupan.
MENGAPA DATA CENTER AI HARUS DIPERTANYAKAN?
Kami memahami bahwa teknologi, kecerdasan buatan, digitalisasi, dan infrastruktur data merupakan bagian dari perkembangan peradaban.
Namun pertanyaannya bukan:
“Apakah manusia membutuhkan AI?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Di mana AI seharusnya hidup tanpa mengorbankan keberadaan ekologis yang menopang kehidupan?”
Kemajuan teknologi tidak otomatis menjadi kemajuan peradaban apabila biaya ekologisnya dipindahkan kepada alam.
Sebuah data center membutuhkan energi.
Membutuhkan sistem pendinginan.
Membutuhkan air dan infrastruktur.
Membutuhkan jaringan listrik.
Membutuhkan konstruksi.
Membutuhkan lahan.
Dan seluruh kebutuhan tersebut memiliki jejak material.
Karena itu, pembangunan data center berskala besar tidak boleh dinilai hanya dari investasi, lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, atau kapasitas komputasinya.
Ia harus dinilai dari seluruh hubungan ekologis yang disentuhnya.
JATILUHUR BUKAN SEKADAR LAHAN
Waduk Jatiluhur bukan sekadar titik koordinat.
Bukan sekadar kawasan yang dapat dilihat sebagai ruang pembangunan.
Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan yang jauh lebih besar daripada kepentingan satu proyek.
Air bergerak.
Tanah menyerap.
Hutan menahan.
Sungai mengalir.
Ikan berkembang biak.
Burung berpindah.
Mikroorganisme bekerja tanpa pernah masuk dalam laporan investasi.
Masyarakat hidup berdampingan dengan ekosistem.
Dan seluruh hubungan tersebut membentuk sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam nilai rupiah.
Ketika satu bagian sistem berubah, bagian lain ikut merasakan akibatnya.
Itulah sebabnya keputusan pembangunan di sekitar Jatiluhur tidak boleh hanya menggunakan logika:
“Apakah proyek ini menguntungkan manusia?”
Tetapi juga harus bertanya:
“Apa yang terjadi terhadap kehidupan yang tidak memiliki suara dalam ruang pengambilan keputusan?”
ALAM TIDAK MEMILIKI LOBI
Pohon tidak datang ke ruang rapat.
Air tidak mengirim surat keberatan.
Burung tidak menghadiri konsultasi publik.
Ikan tidak memiliki pengacara.
Tanah tidak memiliki rekening bank.
Ekosistem tidak memiliki wakil di meja investasi.
Karena itu, ketika keputusan pembangunan dibuat, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kepentingan kehidupan yang tidak mampu berbicara dengan bahasa birokrasi.
Diamnya alam bukan berarti persetujuan.
Ketidakmampuan sebuah ekosistem untuk mengajukan keberatan bukan berarti ia dapat dikorbankan.
KAMI MEMINTA PEMPROV JAWA BARAT UNTUK BERHENTI SEJENAK
Kami tidak menolak teknologi.
Kami tidak menolak kecerdasan buatan.
Kami tidak menolak investasi.
Kami tidak menolak kemajuan.
Kami menolak gagasan bahwa setiap ruang harus dikorbankan demi pertumbuhan manusia.
Kami meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mempertimbangkan satu prinsip sederhana:
Tidak semua tempat yang secara teknis dapat dibangun, secara ekologis layak untuk dibangun.
TUNTUTAN KAMI
Kami mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk:
1. MEMBATALKAN proyek Data Center AI di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta
Apabila proyek tersebut berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap sistem ekologis kawasan, kami meminta proyek dihentikan dan dibatalkan.
2. MENETAPKAN JATILUHUR SEBAGAI KAWASAN YANG DIPERLAKUKAN DENGAN PRINSIP KEHATI-HATIAN EKOLOGIS
Jatiluhur harus dipandang sebagai bagian dari sistem kehidupan, bukan sekadar aset ruang yang tersedia untuk investasi.
3. MELAKUKAN KAJIAN EKOLOGIS INDEPENDEN
Kajian tidak boleh hanya berorientasi pada kelayakan ekonomi dan teknis.
Kajian harus mempertimbangkan:
air, tanah, hutan, biodiversitas, iklim, masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.
4. MENYELENGGARAKAN PARTISIPASI PUBLIK YANG BERMAKNA
Masyarakat bukan sekadar objek sosialisasi setelah keputusan dibuat.
Masyarakat harus memiliki ruang nyata untuk mengetahui, mempertanyakan, mengkritisi, dan memengaruhi keputusan.
KAMI MENGAJUKAN SATU PERTANYAAN YANG LEBIH BESAR
Jika kecerdasan buatan dibangun untuk membuat manusia semakin cerdas,
mengapa kita masih menggunakan logika pembangunan yang menganggap alam sebagai sesuatu yang dapat dikorbankan?
Bukankah kecerdasan seharusnya membuat kita mampu memahami batas?
Bukankah kemajuan seharusnya membuat kita lebih bijaksana?
Dan bukankah teknologi yang benar-benar maju seharusnya mampu hidup berdampingan dengan kehidupan lain?
KARENA ALAM TIDAK PERNAH MEMINTA KITA UNTUK MENJADI TUHAN
Manusia menemukan listrik.
Manusia menciptakan komputer.
Manusia menciptakan internet.
Manusia menciptakan kecerdasan buatan.
Tetapi manusia tidak menciptakan air.
Tidak menciptakan atmosfer.
Tidak menciptakan tanah.
Tidak menciptakan ekosistem.
Tidak menciptakan kehidupan.
Kita hanya belajar memanfaatkan sesuatu yang sudah ada jauh sebelum kita.
Maka jangan sampai kemampuan kita menciptakan teknologi membuat kita lupa pada ketergantungan kita terhadap sesuatu yang tidak kita ciptakan.
JATILUHUR TIDAK MEMBUTUHKAN KITA UNTUK ADA
Tetapi kita membutuhkan sistem kehidupan seperti Jatiluhur untuk terus ada.
Itulah perbedaan yang harus kita pahami.
Alam bukan bawahan manusia.
Alam bukan fasilitas manusia.
Alam bukan komoditas tanpa batas.
Alam adalah kondisi yang memungkinkan manusia ada.
SERUAN KEPADA MASYARAKAT
Jika Anda percaya bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari besarnya investasi...
Jika Anda percaya bahwa air memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar harga...
Jika Anda percaya bahwa hutan, sungai, dan biodiversitas memiliki hak untuk tetap hidup...
Jika Anda percaya bahwa teknologi harus tunduk pada batas ekologis...
Jika Anda percaya bahwa manusia bukan pusat dari seluruh kehidupan...
Tandatangani petisi ini.
Bukan atas nama alam.
Karena alam tidak membutuhkan tanda tangan kita.
Tandatangani atas nama kesadaran manusia.
Atas nama keberanian untuk berkata:
Cukup.
Tidak semua tempat harus dibangun.
Tidak semua ruang harus dimonetisasi.
Tidak semua yang dapat dilakukan berarti harus dilakukan.
Dan tidak semua kemajuan harus dibayar oleh alam.
PETISI INI ADALAH SEBUAH PENGINGAT
Kita datang ke dunia tanpa membawa tanah.
Kita hidup dengan air yang tidak kita ciptakan.
Bernapas dengan udara yang tidak kita produksi.
Makan dari kehidupan yang tidak kita desain.
Kemudian suatu hari kita pergi.
Tanah tetap ada.
Air tetap mencari jalannya.
Angin tetap bergerak.
Burung tetap terbang.
Sementara generasi manusia berganti.
Mungkin masalah terbesar kita bukan kekurangan teknologi.
Mungkin kita hanya terlalu lama lupa bahwa kita adalah tamu.
Dan tamu yang baik tidak menghancurkan rumah tempat ia menumpang.
✊ TANDA TANGANI PETISI INI
DESAK PEMPROV JAWA BARAT:
BATALKAN PROYEK DATA CENTER AI DI WADUK JATILUHUR, PURWAKARTA
MANUSIA HANYALAH TAMU DI BUMI

Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 30 September 2026