Gas air mata berdampak langsung pada masyarakat sipil, termasuk mahasiswa, pekerja, dan warga yang hanya melintas di sekitar lokasi aksi. Dampaknya bukan sekadar perih di mata atau sesak napas sesaat, tapi juga risiko jangka panjang seperti kerusakan paru-paru, kebutaan permanen, hingga trauma psikologis. Bahkan, paparan di ruang tertutup bisa berakibat fatal
Jika penggunaan gas air mata terus dibiarkan, keselamatan rakyat akan selalu terancam dan kesehatan publik dipertaruhkan. Selain itu, anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan rakyat justru habis untuk membeli alat represi yang berbahaya. Ini bukan hanya ancaman bagi tubuh, tetapi juga bentuk pemborosan uang rakyat.
Setiap menit penundaan berarti membuka ruang bagi jatuhnya korban baru. Momentum ini penting untuk menekan pemerintah agar menghentikan penggunaan gas air mata, demi melindungi nyawa, kesehatan, dan hak rakyat untuk menyuarakan pendapat. Keselamatan rakyat tidak boleh ditunda, sudah saatnya gas air mata dihentikan sekarang juga. ✊