Dukungan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Moh. Moeffreni Moe'min

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Mohammad Moeffreni Moe’min merupakan sosok pejuang kemerdekaan yang berperan penting dalam merebut mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Sejak remaja telah aktif dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) sebagai Hoofd Redacteur Majalah Pandu Jakarta. Pada tahun 1943 dimana Jepang telah berkuasa di Indonesia, Moeffreni berkesempatan mengikuti pendidikan kemiliteran Seinen Dojo (Pusat Pelatihan Pemuda) angkatan pertama di Batu Ceper Tangerang bersama Daan Mogot, Suprijadi, Kemal Idris, Zulkifli Loebis dan Yono Soewoyo dan kemudian pendidikan perwira Pembela Tanah Air (PETA) Boei Gyugun Kanbu Renseitai di Bogor. Kemudian Moeffreni bertugas sebagai perwira PETA Daidan I Jakarta, dibawah kepemimpinan Mr. Kasman Singodimedjo.yang menunjuknya sebagai Kepala Bagian Pendidikan PETA Daidan I Jakarta yang melatih dasar-dasar kemiliteran kepada para mahasiswa Prapatan 10 Ika Daigaku dan Sekolah Tinggi Islam, Pemuda Barisan Pelopor, Pemuda Menteng 31 serta tokoh pergerakan di Tjuo Sangi-in. 

Pada 1 September 1945 Moeffreni didapuk sebagai Ketua BKR Jakarta Raya kemudian membentuk barisan bersenjataan secara mandiri tanpa dukungan logistik, keuangan, dan administrasi dari pemerintah yang baru saja berdiri guna melaksanakan amanat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. terdapat peristiwa sejarah penting di kota Jakarta yang tercatat dalam berbagai arsip dan literasi yakni Rapat Raksasa di Lapangan IKADA pada 19 September 1945. dimana Moeffreni tercatat berperan penting dan bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan Presiden dan Wakil Republik Indonesia Soekarno-Hatta. Pada akhir September 1945 tentara sekutu (AFNEI) dan NICA tiba di tanah air untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang yang telah menyerah kepada sekutu. Terjadi pergolakan di sudut-sudut kota, Moeffreni memimpin dan melakukan perlawanan bersenjata dalam pertempuran di dalam kota Jakarta (kawasan Tanah Abang, Dukuh Sawah sekarang Jalan M.H. Thamrin, Karet Kubur dan Salemba) dengan tentara sekutu dan Belanda.

Pada 5 Oktober 1945 Pemerintah Indonesia mengumumkan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) secara otomatis BKR bertransformasi menjadi TKR. Demi kepentingan diplomasi pada 19 November 1945 Pemerintah menginstruksikan mengosongan kota Jakarta dari barisan bersenjata untuk ditempatkan diluar kota Jakarta. Pada saat itu Moeffreni memimpin Resimen VI Cikampek yang melakukan perjuangan bersenjata, menjaga tapal batas atau garis demarkasi, mengkoordinir dan membina para laskar pejuang untuk turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia di front timur Jakarta (Jakarta, Bekasi, Karawang). Terdapat beberapa karya sastrawan yang mengambarkan suasana perjuangan perang kemerdekaan di front timur Jakarta diantara Puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar, Novel Sejarah Krandji Bekasi Jatuh dan Di Tepi Kali Bekasi karya Pramoedya Ananta Toer serta syair lagu Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki. Pada 13 Februari 1946 Moeffreni memimpin operasi penumpasan pemberontakkan bersenjata Laskar Merah (Komunis) di Cirebon, yang berhasil melumpuhkan kekuatan Laskar Merah dan menangkap pemimpinnya Mr. M. Joesoeph dan Mr. Suprapto untuk kemudian diadili. 

Pada Juli 1946 Moeffreni bertugas pada Resimen XII Cirebon. Pada saat itu pihak Inggris menginginkan terjadinya perundingan dan gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda yang kemudian dikenal dengan Perundingan Linggarjati. Moeffreni mendapat tanggungjawab yang berat memimpin pengamanan perundingan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan merugikan perjuangan diplomasi. Pada bulan Mei 1947 Moeffreni bertugas sebagai Direktur Latihan Perwira Divisi Siliwangi di Ngamplang Garut. Setelah Agresi Militer I Belanda, Moeffreni ditugaskan kembali ke Cirebon. Pada saat itu Cirebon telah dikuasai tentara Belanda suasana mencekam oleh berbagai serangan dari laut, udara dan darat yang mendadak sedangkan tentara republik dan laskar rakyat telah mengungsi kepedalaman dan kepegunungan guna menyusun kekuatan. dalam suatu perjalanan Moeffreni disergap dan ditangkap oleh tentara Belanda di desa Jatitujuh. Selanjutnya di tahanan di Pulau Nusakambangan sebagai tawanan perang kelas berat Krijgsgevangenen.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di akhir Desember 1949, Moeffreni dibebaskan dan selanjutnya kembali berdinas pada kesatuan asalnya Divisi Siliwangi dalam perjalanan hidupnya setelah pensiun dari dinas ketentaraan banyak dihabiskan dengan mendedikasi diri ikut serta mengisi kemerdekaan Indonesia. Moeffreni dipilih dan diangkat mewakili Golongan Karya Veteran sebagai anggota DPRD-GR DKI Jakarta dan pada periode 1971 s/d 1977 Moeffreni menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta serta pada periode 1977 s/d 1982 Moeffreni terpilih dan diangkat sebagai anggota MPR RI.

Saat ini terdapat dua sarana monumental yang mengambarkan kepemimpinan Moeffreni Moe'min dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia

1) Monumen BKR/TKR Jakarta Raya yang dibangun pada tahun 1985

2) Monumen Resimen Cikampek (Tugu Pemimpin Resimen TKR/TRI Jakarta Raya) yang dibangun pada tahun 1997

 



Hari ini: Muhammad mengandalkanmu

Muhammad Zaki membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden Republik Indonesia : Dukungan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Moh. Moeffreni Moe'min". Bergabunglah dengan Muhammad dan 497 pendukung lainnya hari ini.