PT KAI - DAOPS 1 JAKARTA | JANGAN NAIKAN HARGA TIKET KA PANGRANGO !!!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


*Apa Yang Ada Dipikiran KaDaOps 1 Jakarta dan Dirut KAI - Dalam Empat Tahun Tiket KA Pangrango Naik 128% 


Setelah menggunakan layanan PT KAI - KA Pangrango relasi Bogor-Sukabumi selama hampir lima tahun ini cukup kaget mendengar dan melihat sendiri rencana Daops 1 Jakarta lewat (rencana) kenaikan tarif per 4 September 2018 ini.

Masih teringat tajam di memori tentang kenaikan pertama tiket KA Pangrango yang belum lama dioperasikan di 2013. Per Februari 2014 setelah sebelumnya Kelas Eksekutif seharga Rp. 35.000 alami kenaikan menjadi Rp. 50.000 dan tiket ekonomi seharga Rp. 15.000 menjadi Rp. 20.000 atau naik antara 33% - 40%. Kenaikan ini rupanya tidak berhenti hanya ditahun tersebut bahkan hampir tiap tahun relasi KA Bogor - Sukabumi (Pangrango) alami kenaikan menjadi Rp. 60.000, Rp. 70.000 hingga kini Rp 80.000 untuk Eksekutif atau Rp. 20.000 lalu Rp. 25.000 dan kini Rp. 35.000 untuk kelas Ekonomi. Rupanya kami pengguna dianggap selalu diam sehingga Daops 1 Jakarta semena-mena. 

Banyak alasan yang diungkapkan oleh Daops 1 Jakarta, keberadaan sebagai KA Pangrango sebagai Wisata, perbaikan infrastruktur seperti revitalisasi rel dan lain-lain hingga subsudi silang dengan KA Siliwangi relasi Sukabumi - Cianjur yg saat itu prematur dibuka karena dorongan politis. Namun satu hal yang perlu dicatat hampir tidak ada upgrade berarti dan terasa sangat dari sisi pelayanan dan kualitas perjalanan. Seperti misal sisi kecepatan atau kualitas kereta atau gerbong yang dipakai adalah dua hal yang paling mencolok disamping interkoneksi antara Stasiun Besar Bogor dengan Stasiun Paledang yang tidak memiliki penghubung jelas bagi calon penumpang dan bisa dibilang tidak manusiawi (jarak jalan kaki lk 400-500 meter dgn kondiri JPU dengan tangga sempit dan curam dan sebagian besar pedestrian yang tidak manusiawi). 

Selain itu, jarak relasi Bogor - Sukabumi yang hanya 50-60 km harus ditempuh selama dua jam lebih atau asumsi 30 Km/jam ! .. berasa naik odong-odong mungkin bagi yang terbiasa naik KA dijalur utara. Janji atau harapan peningkatan kecepatan sempat membumbung pada taspat di tahun 2016 sesaat setelah kondisi rel alami revitalisasi meski pada akhirnya kecepatan hanya begitu-begitu saja dan rupanya revitalisasi lebih diarahkan sepertinya untun KA Logistik Semen dan Air Kemasan. Coba perhatikan pada beberapa penanda disamping/badan masing kereta/gerbong (seperti KIR pada kendaraan umum), kereta atau gerbong yang dipakai merupakan kereta-kereta yg berumur diatas 30 tahun bahkan pernah ada yang diatas 40 tahun. Artinya relasi Bogor - Sukabumi (KA Pangrango) seringkali mendapatkan gerbong/kereta sisa bekas pakai lama dari relasi jalur utara. 

Dianaktirikan namun tetap diperas dengan kenaikan tarif ?! Lalu hendak kemana Daops 1 - PT KAI dengan kenaikan ini ? Alasan apalagi yang hendak diutarakan ? Atau hal apa yang hendak dijanjikan ? Saya pikir tidak ada - kecuali penambahan jalur menjadi double track yang memang merupakan ide Kemenhub dan baru diinisiasi via Kementrian Perhubungan termasuk penambahan keberangkatan.
Jangan serta merta karena okupasi KA Pangrango begitu tinggi maka diberlakukan hukum supply demand dengan banal. BUMN memang bentuk badan usaha - namun bagaimanapun ia harus mempau mensejahterkan rakyat sebagai warga negara dan penghuna bukan malah menyensarakan.


Tiada kata lain, Kami meminta Daops 1 harus tegas  menurunkan kembali harga pentarifan tiket KA Pangrango kepada harga sebelumnya dimana Rp. 60.000 untuk harga tiket Eksekutif atau Rp. 70.000 u/ Eksekutif pada weekend dan Rp. 20.000 - Rp. 25.000 untuk kelas ekonomi ! 

Harus !



Hari ini: I Hendy mengandalkanmu

I Hendy Faizal membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Menteri Perhubungan: PT KAI - DAOPS 1 JAKARTA | JANGAN NAIKAN HARGA TIKET KA PANGRANGO !!!". Bergabunglah dengan I Hendy dan 729 pendukung lainnya hari ini.