Hentikan Promosi, Konsumsi, dan Penjualan Produk-produk Hiu! | Save Our Sharks - Save Our Seafood - Save Our Ocean

Masalahnya

Hentikan promosi, konsumsi, dan penjualan produk-produk hiu!

Stop the selling, promotion, and consumption of Shark fin soup and other shark-based products!

Hiu adalah predator tingkat atas (apex predator) di piramida makanan ekosistem laut yang berfungsi penting dalam mengontrol keseimbangan populasi biota-biota laut lain di bawahnya, termasuk keseimbangan populasi ikan yang kita konsumsi.

Sharks are apex predator in ocean food chain and in ocean ecosystem. Their existence is to maintain the balance of the ecosystem and of course, our seafood sustainability.

Saat ini, populasi hiu sedang mengalami penurunan drastis akibat perburuan terutama terhadap siripnya. Secara umum sirip hiu (atau terkadang bagian tubuh lainnya) didapatkan dengan memotong sirip mereka hidup-hidup atau biasa disebut dengan Shark Finning, lalu hiu tanpa sirip tersebut dibuang ke laut dalam keadaan masih bernyawa untuk kemudian mati secara perlahan. 

Right now the sharks population is drastically declining. They have been hunted for decades, especially for their fins. This cruel and bloody practice called shark-finning, it is to cut off their fins while the are alive, and throw the body back to the ocean to die slowly.

Praktik yang keji tersebut dilakukan terhadap 38 juta hiu setiap tahunnya (Clarke, 2006) dari sekitar 26-73 juta hiu yang tertangkap dalam aktivitas perikanan dunia (Fordham, 2010). Ini berarti sekitar 1-2 individu hiu tertangkap setiap detiknya (Clarke, S, 2006). Disisi lain, hiu adalah ikan yang perkembangbiakannya lambat serta menghasilkan sedikit anakan sehingga rentan terhadap eksploitasi berlebih.

Laporan TRAFFIC (www.traffic.org) selama tahun 2000-2010 menyebutkan bahwa Indonesia adalah penangkap hiu terbesar di dunia. Sebagian besar produk tersebut diekspor dalam bentuk sirip, minyak, dan kulit (Traffic, 2012).  Penangkapan besar-besaran ini diakibatkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu. Jika kondisi ini terus berlangsung, keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut akan terganggu dan berdampak negatif bagi ketahanan pangan Indonesia.

Langkah nyata untuk Anda yang masih mengkonsumsi sirip hiu adalah dengan berhenti mengonsumsinya sekarang juga. Sedangkan bagi penjual, menghentikan penjualan produk-produk hiu dapat mengangkat citra penjual di mata pembeli. Kami yakin bahwa bisnis yang dilakukan secara ramah lingkungan pasti akan membawa profit bagi keberlangsungan bisnis itu sendiri. Media Massa juga diminta untuk dapat menghentikan semua promosi kuliner produk hiu.

Kunjungi www.wwf.or.id/sosharks untuk mengetahui lebih jauh mengenai upaya perlindungan hiu dan fakta-fakta menarik sekitar hiu.

#SOShark: Save Our Sharks, Save Our Seafood, Save Our Ocean!.

avatar of the starter
WWF-IndonesiaPembuka PetisiWWF-Indonesia merupakan yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. Sebagai Jaringan Global, WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. Kantor sekretariat nasional WWF-Indonesia berada di Jakarta, memimpin dan mengkoordinasi 20 Kantor Lapangan serta menjamin keselarasan WWF-Indonesia serta Prioritas Global Jaringan WWF di dunia. Program Konservasi WWF-Indonesia bekerjad di 17 Propinsi, dengan mempekerjakan lebih dari 300 staf. Visi WWF-Indonesia adalah ”pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang”. Misi WWF-Indonesia adalah melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak aktivitas manusia.
Petisi ini mencapai 13.810 pendukung

Masalahnya

Hentikan promosi, konsumsi, dan penjualan produk-produk hiu!

Stop the selling, promotion, and consumption of Shark fin soup and other shark-based products!

Hiu adalah predator tingkat atas (apex predator) di piramida makanan ekosistem laut yang berfungsi penting dalam mengontrol keseimbangan populasi biota-biota laut lain di bawahnya, termasuk keseimbangan populasi ikan yang kita konsumsi.

Sharks are apex predator in ocean food chain and in ocean ecosystem. Their existence is to maintain the balance of the ecosystem and of course, our seafood sustainability.

Saat ini, populasi hiu sedang mengalami penurunan drastis akibat perburuan terutama terhadap siripnya. Secara umum sirip hiu (atau terkadang bagian tubuh lainnya) didapatkan dengan memotong sirip mereka hidup-hidup atau biasa disebut dengan Shark Finning, lalu hiu tanpa sirip tersebut dibuang ke laut dalam keadaan masih bernyawa untuk kemudian mati secara perlahan. 

Right now the sharks population is drastically declining. They have been hunted for decades, especially for their fins. This cruel and bloody practice called shark-finning, it is to cut off their fins while the are alive, and throw the body back to the ocean to die slowly.

Praktik yang keji tersebut dilakukan terhadap 38 juta hiu setiap tahunnya (Clarke, 2006) dari sekitar 26-73 juta hiu yang tertangkap dalam aktivitas perikanan dunia (Fordham, 2010). Ini berarti sekitar 1-2 individu hiu tertangkap setiap detiknya (Clarke, S, 2006). Disisi lain, hiu adalah ikan yang perkembangbiakannya lambat serta menghasilkan sedikit anakan sehingga rentan terhadap eksploitasi berlebih.

Laporan TRAFFIC (www.traffic.org) selama tahun 2000-2010 menyebutkan bahwa Indonesia adalah penangkap hiu terbesar di dunia. Sebagian besar produk tersebut diekspor dalam bentuk sirip, minyak, dan kulit (Traffic, 2012).  Penangkapan besar-besaran ini diakibatkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu. Jika kondisi ini terus berlangsung, keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut akan terganggu dan berdampak negatif bagi ketahanan pangan Indonesia.

Langkah nyata untuk Anda yang masih mengkonsumsi sirip hiu adalah dengan berhenti mengonsumsinya sekarang juga. Sedangkan bagi penjual, menghentikan penjualan produk-produk hiu dapat mengangkat citra penjual di mata pembeli. Kami yakin bahwa bisnis yang dilakukan secara ramah lingkungan pasti akan membawa profit bagi keberlangsungan bisnis itu sendiri. Media Massa juga diminta untuk dapat menghentikan semua promosi kuliner produk hiu.

Kunjungi www.wwf.or.id/sosharks untuk mengetahui lebih jauh mengenai upaya perlindungan hiu dan fakta-fakta menarik sekitar hiu.

#SOShark: Save Our Sharks, Save Our Seafood, Save Our Ocean!.

avatar of the starter
WWF-IndonesiaPembuka PetisiWWF-Indonesia merupakan yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. Sebagai Jaringan Global, WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. Kantor sekretariat nasional WWF-Indonesia berada di Jakarta, memimpin dan mengkoordinasi 20 Kantor Lapangan serta menjamin keselarasan WWF-Indonesia serta Prioritas Global Jaringan WWF di dunia. Program Konservasi WWF-Indonesia bekerjad di 17 Propinsi, dengan mempekerjakan lebih dari 300 staf. Visi WWF-Indonesia adalah ”pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang”. Misi WWF-Indonesia adalah melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak aktivitas manusia.

Petisi ditutup

Petisi ini mencapai 13.810 pendukung

Sebarkan petisi ini

Pengambil Keputusan

Pemilik restoran yang menyajikan menu berbahan hiu
Pemilik restoran yang menyajikan menu berbahan hiu
Perusahaan ritel yang menjual produk berbahan hiu
Perusahaan ritel yang menjual produk berbahan hiu
Perusahaan eksportir produk berbahan hiu
Perusahaan eksportir produk berbahan hiu
Perusahaan Farmasi yang memproduksi produk berbahan hiu
Perusahaan Farmasi yang memproduksi produk berbahan hiu
Media massa yang masih mempromosikan kuliner hiu
Media massa yang masih mempromosikan kuliner hiu
Perkembangan terakhir petisi