Dukungan Desakan Penyelamatan BMI dari Ancaman Hukuman Mati
  • Petitioned Presiden RI dan Kepala Negara di tempat BMI terancam Hukuman Mati

This petition was delivered to:

Presiden RI dan Kepala Negara di tempat BMI terancam Hukuman Mati

Dukungan Desakan Penyelamatan BMI dari Ancaman Hukuman Mati

    1. Petition by

      Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI)

      DKI Jakarta, Indonesia

SELAMATKAN BURUH MIGRAN INDONESIA
DARI ANCAMAN HUKUMAN MATI..!

Hukuman Mati Adalah Penghinaan Terhadap Keadilan

Tuti Tursilawati, (27 tahun), PRT migran asal Cikeusik, Sukahaji, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang diberangkatkan ke Saudi Arabia oleh PT Arunda Bayu pada 5 September 2009 dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan majikannya.

Ia dilaporkan tiba di Arab Saudi pada tanggal 5 September 2009 untuk bekerja di kota Thaif, provinsi Mekah Barat. Menurut laporan, majikannya sering melakukan pelecehan seksual selama dia bekerja, dan pada tanggal 11 Mei 2010, majikannya berusaha memerkosanya. Tuti memukul majikannya dengan tongkat untuk membela diri, dan majikannya tewas oleh upaya Tuti untuk membela dirinya dari ancaman pelecehan dari sang majikan. Lepas dari mulut buaya, Tuti yang berupaya lari dari rumah majikannya malah terjatuh ke mulut Harimau. Dalam pelariannya , dia malah kemudian diperkosa oleh sembilan orang.

Tuti, orangtua tunggal dari seorang anak laki-laki akhirnya ditangkap oleh polisi Arab Saudi di Tha'if, dan tragisnya beberapa bulan kemudia para pemerkosanya sudah bebas karena dilaporkan bahwa investigasi terhadap kasus pemerkosaan ini tidak pernah ada dan hilang begitu saja. Sampai sekarang Tuti masih mendekam di dalam penjara dan masih terus terancam untuk dipenggal kepalanya.

Putusan pengadilan bahwa Tuti Tursilawati dihukum qisas (pancung) jatuh pada sekitar bulan Juni 2011. Dia dilaporkan tidak memiliki pengacara selama dua bulan pertama sidang, tapi hanya seorang penerjemah. Tidak jelas seperti apa statusnya dan apakah ia telah menggunakan semua solusi untuk pembelaan secara hukum. Keluarga majikannya yang tewas dilaporkan telah telah mengajukan banding kepada pihak berwenang untuk pelaksanaan hukuman mati setelah periode bulan haji ini berakhir, sekitar 4-9 November 2011. Berdasarkan hukum Arab Saudi, yang ditemukan bersalah atas pembunuhan sering dihukum qisas. Dalam kasus ini, keluarga korban memiliki kekuatan untuk meminta pelaksanaan eksekusi, permintaan diyat (kompensasi ganti rugi) atau memberikan pengampunan.

Sejak akhir bulan suci ramadhan, pelaksanaan eksekusi hukuman pancung di Arab Saudi sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan, dengan 19 orang telah dieksekusi hukuman mati pada bulan Oktober 2011, 10 di antaranya adalah warga asing.

Siapapun BMI di Indonesia atau dari manapun rentan menghadapi diskriminasi dalam sistem peradilan pidana di negara-negara penganut hukuman mati termasuk di Indonesia sendiri. Penerapan hukuman mati dilakukan secara tidak proporsional karena eksekusi hukuman mati lebih banyak mengancam buruh migran dari negara-negara miskin dan berkembang. Pada Oktober 2011 di Arab Saudi telah terjadi peningkatan eksekusi hukuman mati, dengan 19 orang dieksekusi pada bulan Oktober 2011. Dari Januari 2011, setidaknya 67 orang telah dieksekusi, lebih dari dua kali lipat jumlah orang yang dieksekusi pada tahun 2010. Dari mereka yang dieksekusi mati, 22 orang warga negara asing.

SBMI sangat prihatin dengan ancaman ini apalagi diketahui ada 100 tahanan saat ini berada di bawah ancaman hukuman mati di Arab Saudi.

Data Sementara jumlah WNIyang terancam hukuman mati di luar negeri dari tahun 1999 hingga Juni 2011 adalah Malaysia (233 orang), China (29 orang), Arabsaudi (44 orang), Singapore (10 orang), Suriah (1 orang), Uni Emirat Arab (1 orang) dan Mesir (1 orang).

Terdapat 3 orang WNI yang telah dieksekusi : 2 orang di Arab Saudi atas nama Yanti Irianti Bt Jono Sukardi (12 Januari 2008) dan Ruyati Bt Satubi (18 Juni 2011), 1 orang di Mesir atas nama Tengku Darman Agustri (16 Mei 2009).

Setidaknya 158 orang, termasuk 76 warga asing, telah dieksekusi oleh pemerintah Arab Saudi pada tahun 2007. Pada tahun 2008 kira-kira 102 orang, termasuk hampir 40 warga asing telah dieksekusi mati. Pada tahun 2009, setidaknya 69 orang diketahui telah dieksekusi, termasuk 19 warga negara asing, dan pada tahun 2010 sedikitnya 27 orang dieksekusi, enam dari mereka warga negara asing.

Proses pemutusan pengadilan jauh dari standar internasional untuk pengadilan yang adil. Tergugat jarang diperbolehkan mendapat representasi formal oleh pengacara, dan dalam banyak kasus tidak diberitahu tentang kemajuan proses hukum terhadap mereka. Mereka mungkin akan dihukum semata-mata atas dasar "pengakuan" yang diperoleh di bawah paksaan atau penipuan.

Kami mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia dan masyarakat internasional dimanapun berada, untuk menolak tunduk, menuntut tanggung jawab perlindungan sejati atas nama keadilan kepada negara-negara dimana BMi terancam oleh hukuman mati terutama kepada Rezim Boneka Kapitalis Soesilo Bambang Yoedoyono atas pelemparan tanggung jawab, kelalaian, dan kegagalan dalam melindungi BMI dari ancaman eksekusi hukuman mati.

Vonis hukuman mati ini sungguh merupakan ketidakadilan yang nyata bagi Tuti dan ratusan BMI lainnya dan untuk itu harus ditolak. Tidak semata karena dia merupakan korban yang mempertahankan diri dari kebiadaban majikannya, tapi juga karena hak hidup setiap orang adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Hak hidup bagi setiap orang ini dijamin dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang menyatakan bahwa hak untuk hidup adalah non-derogible rights. Indonesia sebagai negara yang meratifikasi ICCPR seharusnya mengadopsi prinsip ini dengan mengakhiri praktek hukuman mati dalam sistem pemidanaan. Dengan mengakhiri praktek hukuman mati, akan makin memperkuat posisi politik Indonesia dalam diplomasi penyelamatan ratusan Buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati.

Walau sejak eksekusi terhadap Ruyati, pemerintah Indonesia membentuk Satgas Pembelaan untuk TKI Yang Terancam Hukuman Mati namun hngga saat ini institusi tersebut belum memperlihatkan hasil kerja yang signifikan. Bahkan sejak dibentuk bulan Juli 2011 belum pernah memberikan laporan hasil kerjanya kepada publik.

Mendesak Kepala Negara di negara yang menjadi tujuan BMI bekerja untuk menghentikan pelaksanaan hukuman mati terhadap BMI.

Mendesak Kepala Negara di negara yang menjadi tujuan BMI bekerja segera membebaskan semua BMI dari ancaman hukuman mati, dengan tujuan untuk menghapuskan hukuman mati; Dan mengingatkan otoritas pengadilan mereka bahwa mereka harus bertindak sesuai dengan standar internasional untuk pengadilan yang adil, termasuk atas dasar mekanisme perlindungan PBB yang menjamin perlindungan hak-hak terdakwa yang menghadapi hukuman mati, yang menyatakan bahwa hukuman mati hanya dapat dijatuhkan setelah pengadilan yang adil dimana terdakwa disediakan bantuan hukum yang memadai pada semua proses tahapan.

Recent signatures

    News

    1. Reached 10 signatures

    Supporters

    Reasons for signing

    • Hidup Buruh SUMATERA SELATAN, INDONESIA
      • over 1 year ago

      Solidaritas sesama pekerja

      REPORT THIS COMMENT:
    • Marsinah Dhede YOGYAKARTA, IN
      • over 1 year ago

      Setiat waktu kita dipaksa untuk mendengar kabar duka dari TKW yang pilu. Tuntut negara bertangung jawab atas keselamatan mereka!

      REPORT THIS COMMENT:
      • over 1 year ago

      Kami percaya solidaritas buruh dapat membuat perbedaan.

      REPORT THIS COMMENT:
    • Jhony Suparman JAKARTA, INDONESIA
      • over 1 year ago

      Hapuskan hukuman mati dari muka dunia

      REPORT THIS COMMENT:
    • Benhard Nababan JAKARTA, UNITED STATES
      • almost 2 years ago

      PEMRI abaikan perlindungan TKI? Bongkar!

      REPORT THIS COMMENT:

    Develop your own tools to win.

    Use the Change.org API to develop your own organizing tools. Find out how to get started.