Petition Closed
Petitioning Gubernur Bali / Governor of Bali Yth Bpk I Made Mangku Pastika and 2 others

Yth Bpk I Made Mangku Pastika, Gubernur Bali / Governor of Bali: Bali Go Captive Dolphin Free / Bali hentikan eksploitasi lumba lumba


 

Dolphins belong in the wild and we therefore wish to see Bali go Captive Dolphin Free!

Industri pengurungan lumba-lumba sebagai atraksi wisata mengancam populasi lumba-lumba di alam liar dan mengancam penghasilan orang lokal yang mendapat penghidupan dari para turis dalam wisata mengamati lumba-lumba di laut lepas. 

 

 

Kepada Yth Gubernur

 

We, the undersigned, representing ocean lovers from all over the world, the local and international surfing community, tourists, and the people of Bali, urge you to declare Bali, the world’s favourite island of peace, beauty and harmony– a captivity-free zone for dolphins.

This single action will shine a bright light on your island, demonstrating to the world Bali’s renewed commitment to protecting and caring for its oceans and marine life. It would be a first major step in changing the currently negative global perception that Bali has been less than committed to environmental and wildlife protection measures thus far.

As you know, dolphins are highly social mammals with strong family bonds. They travel in pods, with anywhere from five to literally hundreds of members. Mothers generally nurse their calves for between 11 to 24 months, after which the calf will continue to stay with its mother until it is between 3 and 8 years old.

The captive dolphins in Bali were all taken from the wild, from the Java Sea. They were ripped away from their families and are now being exploited for commercial purposes in unclean and totally inadequate prison-pools, to ‘entertain’ the public in exchange for some food. All over the world, countries are now banning captive dolphin facilities because no pool is large enough to simulate the natural range of dolphins in the wild and since its proven that dolphins are very intelligent mammals. The American association of science has even reported in February 2012 that dolphins should be provided human rights.

 

In February 2013, the Indonesian Minister of Forestry took action against the Akame restaurant in Bali that kept dolphins captive in appalling conditions. Images of the dolphin pool at the Akame, circulating widely on social media sites, shocked the world and generated a lot of negative publicity.

Dolphins don’t belong inside a restaurant, they belong in the ocean. We therefore  request you to ensure that the Akame restaurant and other facilities in Bali that keep dolphins captive (Melka Hotel, Serangan Dolphin Lodge), are issued official orders to close down their dolphin exhibits, so that these the dolphins may be rehabilitated before being released into the wild, where they came from.


Just one simple action on your part– of declaring Bali a captivity-free zone for dolphins– has the power to reverse all the negative publicity that has been generated so far and show that you create Bali in to a modern peaceful island which cares for its nature, ocean and wildlife.

 

KepadaYth Gubernur Bali

 

Kami yang bertandatangan di bawah ini, mewakili komunitas surfer, pecinta lautan, dan semua masyarakat Bali, mengharapkan anda untuk membebaskan lumba-lumba yang dikurung di Bali, pulau yang penuh kedamaian dan keindahan. Aksi ini akan menyinari Bali, karena anda akan menunjukkan pada dunia bahwa Bali peduli dengan alam dan hewan liarnya, dan mengikuti jejak negara lain yang telah melarang pengurungan lumba-lumba.

 

Lumba-lumba yang dikurung ini dieskploitasi secara komersil dan mereka diambil paksa dari laut Jawa; diculik dari keluarganya dan dipaksa menghibur masyarakat demi makanan di kolam penjara.

 

Februari 2013 Kementrian Kehutanan mengambil langkah melawan sebuah restoran di Bali yang mengurung lumba-lumba dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan menggegerkan dunia. Lumba-lumba tidak sepantasnya ada di restoran. Mereka seharusnya ada di laut dan bermain dengan bebas bersama teman-temannya. Maka dari itu kami berharap restoran ini ditutup (tidak mengurung lumba-lumba lagi sebagai atraksi di restorannya untuk selama-lamanya), begitu pula dengan beberapa tempat di Bali (Hotel Melka, Serangan Dolphin Lodge) yang mengurung lumba-lumba juga harus ditutup.

 

Industri pengurungan lumba-lumba sebagai atraksi wisata mengancam populasi lumba-lumba di alam liar dan mengancam penghasilan orang lokal yang mendapat penghidupan dari para turis dalam wisata mengamati lumba-lumba di laut lepas.

 

Gubernur Bali akan menjadi pahlawan internasional dengan melakukan satu langkah saja; Jangan memberi ijin kepada perusahan yang ingin eksploitasi lumba lumba, bebaskan lumba lumba yang terkurung. Bali akan terlihat indah dan damai kembali di mata dunia.  

 

Letter to
Gubernur Bali / Governor of Bali Yth Bpk I Made Mangku Pastika
Bali Tourism Board / Dinas Parawisata Bali
Dinas Perikanan
Bali Go Captive Dolphin Free

Kepada Yth Gubernur Bali



Kami yang bertandatangan di bawah ini, mewakili komunitas surfer, pecinta lautan, dan semua masyarakat Bali, mengharapkan anda untuk membebaskan lumba-lumba yang dikurung di Bali, pulau yang penuh kedamaian dan keindahan. Aksi ini akan menyinari Bali, karena anda akan menunjukkan pada dunia bahwa Bali peduli dengan alam dan hewan liarnya, dan mengikuti jejak negara lain yang telah melarang pengurungan lumba-lumba.



Lumba-lumba yang dikurung ini dieskploitasi secara komersil dan mereka diambil paksa dari laut Jawa; diculik dari keluarganya dan dipaksa menghibur masyarakat demi makanan di kolam penjara.



Februari 2013 Kementrian Kehutanan mengambil langkah melawan sebuah restoran di Bali yang mengurung lumba-lumba dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan menggegerkan dunia. Lumba-lumba tidak sepantasnya ada di restoran. Mereka seharusnya ada di laut dan bermain dengan bebas bersama teman-temannya. Maka dari itu kami berharap restoran ini ditutup (tidak mengurung lumba-lumba lagi sebagai atraksi di restorannya untuk selama-lamanya), begitu pula dengan beberapa tempat di Bali (Hotel Melka, Serangan Dolphin Lodge) yang mengurung lumba-lumba juga harus ditutup.



Industri pengurungan lumba-lumba sebagai atraksi wisata mengancam populasi lumba-lumba di alam liar dan mengancam penghasilan orang lokal yang mendapat penghidupan dari para turis dalam wisata mengamati lumba-lumba di laut lepas.



Gubernur Bali akan menjadi pahlawan internasional dengan melakukan satu langkah saja; Jangan memberi ijin kepada perusahan yang ingin eksploitasi lumba lumba, bebaskan lumba lumba yang terkurung. Bali akan terlihat indah dan damai kembali di mata dunia.

Terima Kasih