Cabut Gelar Akademik Muhammad Dahrin La Ode

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Salam sejahtera bagi kita semua.

Muhammad Dahrin La Ode barangkali bukanlah orang sembarangan. Terbukti dengan gelar-gelar yang beliau raih dan saat ini beliau juga sedang mengajar sebagai dosen di Universitas Pertahanan. Profil beliau bisa Anda periksa disini. (Sumber: Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti)

Tetapi apa jadinya kalau gelar tersebut tidak layak beliau dapatkan?

Kamis, 12 Desember 2019. Sebuah video dengan gambar tajuk wajah beliau tertampang di linimasa Facebook saya. Video tersebut diunggah oleh seorang warganet bernama Kenny Lie. Keterangan video tersebut membuat saya sedikit penasaran dengan isi video tersebut. Videonya bisa Anda tonton disini.

Apa yang saya tonton berhasil membuat saya terkejut. Tidak, saya tidak marah dan hendak memaki beliau. Saya malah tersenyum dan menghela nafas lega. Dalam pikiran saya, terbukti apa yang selama ini saya pikirkan, "Gelar akademis tidak menjamin kualitas dan isi pikiran seseorang".

Beliau (Muhammad Dahrin La Ode) berkata bahwa semua orang Cina (etnis Tionghoa) di Indonesia adalah pengkhianat, perampok, pencuri, penjahat, dan komunis yang mengancam kedaulatan Republik Indonesia.

Etnis Tionghoa berpura-pura pancasilais untuk menarik simpati orang "pribumi" kemudian memanfaatkan keadaan untuk menganeksasi Republik Indonesia. Kira-kira begitulah poin yang saya tangkap dari apa yang dikatakan oleh beliau. Hm, terdengar seperti plot film action tahun 80'an ya?

Sekarang pertanyaannya, apakah wajar seorang yang sudah meraih gelar Doktor mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Apakah beliau, selama dalam proses meraih gelar akademiknya, mengetahui fakta bahwa ada orang-orang Tionghoa di Jawa yang lebih fasih berbicara bahasa Jawa daripada bahasa etnisnya sendiri, warga Tionghoa Benteng yang terjebak dalam kemiskinan, pejuang republik bernama John Lie, dan lain sebagainya?

Tidak hanya itu, satu hal yang membuat miris adalah beliau mengucapkan ini di depan banyak orang. Terdengar samar-samar suara hadirin yang berteriak, "Ganyang Cina".

Bagaimana bisa, beliau dengan gelarnya yang sudah mencapai S3, bisa mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu?

Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai keberagamannya. Ada yang matanya lebar, memiliki rambut keriting, ada yang tidak bisa melafalkan huruf R (termasuk saya), ada yang matanya sipit, ada yang suka dangdut, ada yang suka musik rock, dan lain sebagainya. Di ujung barat ada pantai berselimutkan pasir putih, di ujung timur ada gunung tinggi hamparan salju. Beragam sekali! Unik dan sangat indah.

Kawan-kawanku, rasisme adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan umat manusia. Ratusan negara di dunia sudah menyadari ini. Kaum kulit putih dan kaum kulit hitam di Amerika Serikat telah merangkul satu sama lain, bersama membangun negeri mereka. Apartheid sudah dihapuskan di Afrika Selatan. Fasisme sudah hancur di Eropa. Tembok besar yang memisahkan etnis Tionghoa dan etnis lainnya di Indonesia sudah perlahan runtuh. Mari kita hancurkan mereka yang berniat untuk membangun tembok itu kembali.

Untuk masa depan yang lebih baik.

Daniel Lim

12 Desember 2019

Seorang mahasiswa yang kadang suka khilaf kalau lagi ada sale di Steam.