SELAMATKAN WADUK SEPAT DARI PERAMPASAN RUANG HIDUP; DUKUNG WADUK SEBAGAI KAWASAN LINDUNG

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.


SELAMATKAN WADUK SEPAT DARI PERAMPASAN RUANG HIDUP; DUKUNG WADUK SEPAT SEBAGAI KAWASAN LINDUNG

Modernitas membuat dunia mengalami keadaaan yang tidak etis, kekalutan dan kefrustasian yang merajalela. Kehidupan manusia kini mengalami krisis yang luar biasa. Krisis ini telah memudarkan kepercayaan lebih dari satu abad yang lalu terkait dengan percobaan modern yang  mula-mula saya sebut sebagai gagasan revolusi ala Rene Descrates, dengan logika “cogita ergo sum” oleh manusia  diharapkan mampu lepas dari belenggu kegelapan, kebodohan dan penindasan yang tiap kali mengitarinya, namun semangat emansipasi tersebut di era modernitas justru terbalik menjadikan manusia berada pada titik terendah. Tidak berlebihan saya katakana seperti itu, misalnya kita lihat pada tingkat-tingkat eksistensi, bahwa manusia yang kehilangan akal dan kesadaran dirinya adalah “hewan”, hewan yang pingsan adalah “tumbuhan”, dan tumbuhan yang “mati” adalah “benda ‘(materi). Saat ini kehidupan manusia dihadapkan pada persoalan itu, yakni menghamba kepada materialisme yang berlebihan.

Manusia yang berada di planet (bumi) ini hampir semua menyadari jika persoalan materi adalah segalanya, sehingga ketika manusia modern menggunakan alam nyaris berpandangan terhadap lingkungan hidup yang “nir-etik” dan “injustice”. Alam digunakan secara rakus, dirusak dan diperkosa demi transaksional dan keuntungan domestik semata. Eksploitasi alam yang terjadi misalnya adalah salah satu waduk yang berada di kota Surabaya, kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki fungsi ekologi dan fungsi sosial dan akan berpotensi hilang fungsinya karena akan ada potential demage; diproyeksikan sebagai pembangunan oleh PT. Ciputra Surya kedepanya (Ket. Sertefikat HGB Kantor Pertanahan Kota Surabaya).

Perkara waduk Sepat yang berada di Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya Barat mempunyai nilai historis tersendiri. Waduk Sepat merupakan kawasan peninggalan sejarah yang selama bertahun-tahun dijadikan sebagai sarana interaksi masyarakat, misalnya seperti sebagai wadah berkumpul, tempat bermain anak-anak, sarana hiburan, memancing dan lahan bercocok tanam. Waduk sepat bagi warga sudah menjadi identitas, mereka lahir dan tumbuh kembang bersama waduk sepat, jadi tidak berlebihan jika mereka tidak rela jika waduk tersebut jatuh ditangan Pemilik modal.

Kawasan waduk sepat mula-mulanya sebagai tanah bondo deso, status kepemilikannya tidak terlepas dari sistem pergantian kepala desa sejak kemerdekaan Indonesia. Karena system kelurahan semakin administrative maka bagi tanah yang tidak ada klaim pemiliknya seperti waduk sepat diakui sebagai miliknya negara, meskipun di dalam UU Pokok-Pokok Agraria sudah tidak menganal konsep domein verklaring. Atas dasar tersebut Pemerintah Kota Surabaya pada tanggal 30 Desember 2008 melakukan tukar guling dengan menerbitkan Surat Keputusan Walikota Surabaya Nomor: 188.451.366/436.1.2/2018 tentang Pemindahtanganan Dengan Cara Tukar Menukar Terhadap Aset Pemerintah Kota Surabaya Berupa Tanah Eks. Ganjaran/Bondo Deso Di Kelurahan Beringin, Kecamatan Lakarsantri, Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya. Dengan Tanah Milik PT. Ciputra Surya Tbk. yang sekarang dijadikan sebagai stadion Bung Tomo oleh Pemerintahan Kota Surabaya.

Terhadap surat keputusan tersebut kemudian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Surabaya melalui surat Keputusan DPRD Kota Surabaya Nomor: 39 Tahun 2008, pada tangal 22 Oktober 2008 telah menyetujui atas kebijakan tukar guling yang dilakukan oleh walikota Surabaya bersama PT. Ciputra Surya,Tbk. Dikemudian hari pada tahun 2010 diperparah oleh Kantor Pertanahan Kota Surabaya dengan menerbitkan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dengan nomor 4057/Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri Kota Surabaya, berdasarkan surat ukur tanggal 21 Desember 2010 Nomor :641/Lidah Kulon, Luas 59.857 m² atas nama PT.Ciputra Surya, Tbk(.

Berdasarkan beberapa dokumen tersebut pejabat yang berwenang pada saat itu telah melakukan perbuatan diluar etika sebagai seoarang pejabat negara, yakni mereka telah melakukan “manipulasi data fisik” berupa klaim bahwa kawasan waduk sepat sebagai “tanah pekarangan” dan sebagai “eks-waduk”, sementara sampai sekarang kawasan tersebut masih berfungsi sebagaimana  waduk semestinya.  Dari sini kita tahu bahwasanya waduk sepat sengaja ingin dihilangkan fungsinya dan bentuknya oleh para komplotan pejabat pemerintah dengan Pemilik modal tanpa mempertimbangkan “masa lalu waduk sepat” sebagai wahana lingkungan yang etis.

Perkara waduk sepat telah disengketakan pada tanggal 27 Februari 2019 oleh Hermanto, seorang warga padukuhan sepat Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya. Hermanto telah mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum dengan mekanisme Citizen Law Suit/ gugatan warga negara kepada Walikota Surabaya, Ketua DPRD dan Kepala Kantor Pertanahan  Kota Surabaya. sampai saat ini (24/11/2019) gugatan tersebut masih dalam proses agenda pemeriksaan saksi dari Penggugat Intervensi.

Meskipun kriminalisasi terhadapa aktivis pejuang lingkungan waduk sepat sadaura Darno dan Dian Purnomo sampai saat ini juga masih berlanjut ditingkat kasasi Mahkamah Agung, Hermanto bersama sebagian warga tetap berderap dan melaju untuk memperjuangkan waduk sepat sebagai kawasan lindung, disamping rencana Pemerintahan kota Surabaya berinisiatif  untuk membangun waduk agar kotanya terhindar dari malapetaka banjir. Makadari itu,  mari kita dukung agar Waduk Sepat termasuk bagian dari kawasan lindung,  serta kita dorang agar Pemerintah Kota Surabaya, DPRD Kota Surabaya dan Kantor Pertanahan Kota Surabaya untuk berani menerbitkan peraturan perundang-undangan tentang pengakuan waduk sepat sebagai kawasan lindung dan kawasan adat istiadat yang harus dilindungi.

Salam Lesatari……!!!

Salam satu Bumi, Wani….!!!